Teracuni

Harga mengenakan kebenaran Firman adalah segenap hidup. Bukan asal-asalan, sehingga kita tidak pernah mengalaminya. Pada umumnya, banyak orang Kristen hanya sampai level pemenuhan kebutuhan jasmani; secara primer, sekunder, dan tersier. Cara berpikir yang salah ini membutakan mata kita terhadap nafas, jantung, inti kebenaran Injil. Jadi kita mengerti mengapa di dalam Lukas 16:11 dikatakan, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Jangan kita memiliki mata, tapi tidak memiliki penglihatan. Memiliki telinga, tapi tidak memiliki pendengaran. Tapi kita merasa melihat dan kita merasa mendengar. Buktinya? Mudah tersinggung, masih marah untuk apa yang tidak perlu marah, masih melakukan hal-hal yang tidak patut—walaupun tidak melakukan pelanggaran moral besar, tapi tidak patut di mata Tuhan.

Allah mau kita menjadi anak-anak-Nya. Jikalau kita menjadi anak-anak-Nya, prinsip-prinsip hidup kita harus persis seperti yang Tuhan Yesus kenakan. Tidak boleh bergeser sedikitpun. Kalau hanya mendengar khotbah, kita tidak akan sampai ke tujuan. Tapi kita harus sampai menemukan Tuhan dan mengalami pimpinan Roh Kudus dalam hidup kita. Allah itu hidup, Ia bisa ditemui; Dia pasti berbicara. Maka, supaya kita bisa mendengar suara Roh Kudus, jangan kita “diracuni” oleh film, tontonan, pergaulan, percakapan yang merusak pikiran kita. Apalagi kalau tercengkerami oleh keinginan-keinginan tertentu. Bahkan sebelum tidurpun, kita sudah mulai berdoa. Dan waktu tidur, sebelum terlelap, kita bisa berdialog dengan Tuhan. Jangan berpikir apa yang Tuhan tidak mau kita berpikir. Jangan sampai Tuhan menghardik dengan kalimat, “kamu memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia, bukan apa yang dipikirkan oleh Allah.” Kita diam, nunggu apa yang Tuhan mau katakan.

Allah merancang manusia untuk mewarisi Kerajaan Allah; kemuliaan bersama-sama Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Ironis, banyak orang tidak sanggup berpikir lagi. Sudah terlalu earthly, worldly; duniawi, materialisme; sudah terlalu terpengaruh oleh cara berpikir duniawi. Sejujurnya, kita juga sadar begitu. Maka, marilah kita terus menggerus gairah dunia dalam diri agar kita meraih kemuliaan yang Bapa janjikan. Sebagai orangtua, kita tentu mengerti bagaimana memberi yang terbaik untuk anak-anak kita; sekolah yang terbaik, pakaian yang baik, kendaraan yang baik. Bapa di surga sudah memberikan Putra Tunggal-Nya. Apa lagi yang kita ingnkan? Apa yang Bapa tidak rela berikan? Firman-Nya mengatakan bahwa kita akan dimuliakan bersama Tuhan Yesus. Sedikit sekali orang yang tertarik dengan hal ini karena dipandang masih samar dan belum pasti.

Jangan sampai kita menyesal di ujung hidup dimana sudah tidak ada lagi kesempatan. Maka kalau Alkitab berkata, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah,” itu bukan berarti kita tidak butuh fasilitas yang lain. Maksudnya adalah kita tidak boleh fokus kepada apa pun dan siapapun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Yang lain adalah penunjang untuk mencapai target kita; yaitu dimuliakan bersama Tuhan Yesus. Kita harus memandang sebagai berkat yang berharga dan merasa sudah mewah, ketika bisa makan dan minum. Karena kemewahan kita adalah kemuliaan yang kita akan peroleh. Sejatinya, itu sudah kita miliki sejak di bumi, kalau kita terus bertumbuh. Menemukan kemuliaan tidak dapat ditunda nanti, melainkan sekarang. Kita harus bersih dan mulia sejak dini. Jadi, bagi orang percaya, kemewahan orang percaya ada di balik kehidupan sekarang ini, yaitu dimuliakan bersama Yesus. Sekarang yang harus kita perkarakan adalah bagaimana kita memiliki gaya hidup-Nya Tuhan Yesus yang mulia, sehingga kita layak dimuliakan. Karena faktanya, sedikit orang yang hidup sebagai anak-anak Allah, sedikit orang yang mau berjuang. Di kalangan jemaat, rata-rata mereka menganggap gampangan saja hal masuk surga. Tapi bagi orang Kristen yang dewasa, program kita itu bukan masuk surga saja, melainkan dimuliakan bersama Yesus.

Rancangan Allah dalam hidup kita akan terpenuhi atau tergenapi kalau kita berjuang. Dimulai dengan menjadi orang baik dulu. Berdoa tiap hari, baca Alkitab, jangan kumpul dengan orang-orang yang tidak takut Tuhan. Selanjutnya, pasti Roh Kudus akan memimpin. Cara berpikir kita harus berubah total. Sampai nanti kita mengerti bahwa menjadi Kristen itu bukan perbaikan-perbaikan moral seperti pendidikan budi pekerti, atau seperti yang diajarkan banyak filsafat, etika, dan agama, tapi perubahan kodrat. Berhubung perubahan kodrat ini memerlukan waktu yang panjang, maka hendaknya kita tidak menunda untuk mengerjakannya sejak hari ini.

Supaya kita bisa mendengar suara Roh Kudus, jangan kita “diracuni” oleh film, tontonan, pergaulan, percakapan yang merusak pikiran kita.