Tenang dalam Ancaman

Di banyak bagian Alkitab, kita menemukan bahwa kedudukan atau posisi kita sebagai umat pilihan adalah kedudukan dan posisi yang sangat luar biasa. Di dalam Alkitab, kita menemukan beberapa istilah untuk menggambarkan relasi atau hubungan kita dengan Allah, yang mana itu menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang benar-benar sangat istimewa. Seperti misalnya hubungan sebagai Bapa dan anak; Allah sebagai Bapa, kita sebagai anak; Allah sebagai Gembala, dan kita domba. Bahwa Allah memandang kita ini biji mata-Nya. Allah menyebut kita sebagai kekasih-kekasih-Nya. Dalam hubungan dengan Putra Tunggal-Nya, kita berposisi sebagai mempelai; Tuhan Yesus mempelai pria, kita mempelai wanita. Tetapi masalahnya adalah apakah kita benar-benar telah menghayati hubungan itu dan mengalaminya secara penuh? Sebab, kalau hanya di dalam pengertian dan belum penghayatan dari pengalaman konkret, itu sia-sia. Allah kita adalah Allah yang hidup, Allah yang nyata. Relasi ini tidak boleh menjadi fantasi semata, tetapi harus menjadi realitas yang benar-benar kita alami. Mungkin sejak Sekolah Minggu kita sudah tahu hal ini, tetapi belum sepenuhnya dalam penghayatan yang benar melalui pengalaman konkret.

Kita harus rendah hati dan jujur, bahwa sering keyakinan di dalam pikiran kita itu hanya keyakinan, belum pengalaman. Dan ini menyedihkan, kalau kita merasa bahwa keyakinan itu sudah merupakan pengalaman. Ada kesenjangan yang kita harus tahu, antara pengertian nalar kita yang menjadi keyakinan, dan pengalaman konkret. Ada rentang yang jauh, dan itu harus kita satukan lewat perjalanan hidup, sepanjang umur hidup kita. Tentu dari dulu kita mengatakan, dan kita juga menyanyikan syair lagu bahwa kita biji mata Allah. Tetapi, apakah kita mengalaminya sehingga kita memiliki keteduhan yang hebat sebagai biji mata Allah? Kalau kita menjadi kekasih, sahabat, teman dari pejabat tinggi yang berkuasa, itu pasti memiliki sedikit ketenangan atau keamanan atau kenyamanan, terutama ketika kita berada dalam masalah. Kalau Allah adalah Bapa kita—kita biji mata Allah—seberapa kita tenang menghadapi segala tantangan, ancaman, dan guncangan?

Banyak orang jahat, kejam, bengis, tidak berbelas kasihan terhadap sesama, tidak peduli kehancuran yang dialami orang lain. Lebih jahatnya, tidak peduli dengan kehancuran pekerjaan Tuhan. Kita jadi terpukul. Namun, kita harus mengalah dan diam. Bukan kita tidak mampu. Kita mampu, tapi Tuhan tidak berkenan kalau kita menggunakan kekuatan-kekuatan itu. Kita memuliakan Tuhan bukan hanya dengan nyanyian syair lagu, tapi dengan sikap. Ketika kita di lembah kekelaman, seberapa kita teduh, tenang, dan menaruh harap kita kepada Tuhan? Bapa akan tersanjung kalau kita memercayai Dia dengan benar. Tetapi, maukah kita memercayai bahwa Gembala itu tidak pernah meninggalkan kita? Kita bisa melewatinya nanti, karena di luar sana, orang-orang non-Kristen pun juga mengalami banyak masalah, dan mereka bisa melewatinya. Tapi tentu ada bedanya, yaitu kita melewati masalah dengan pelajaran rohani yang kita dapat, sehingga kita semakin dewasa dan hubungan dengan Tuhan makin melekat. Jadi, masalah bukan hanya datang, dapat jalan keluar, lalu selesai. Ada berkat abadi di balik masalah-masalah itu.

Kalau Anak Tunggal-Nya saja diberikan, apalagi yang lain. Satu aspek, kita bersyukur atas kedudukan dan posisi ini, istimewa. Sebab dengan kedudukan dan posisi tersebut; sebagai anak, sebagai domba, biji mata Allah, kekasih Allah, mempelai Tuhan, kita memiliki privilege; hak-hak istimewa yang tidak dimiliki oleh mereka yang bukan umat pilihan. Tetapi di aspek yang lain, kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengisi hubungan kita dengan Allah, Bapa kita. Hubungan sebagai anak, hubungan sebagai biji mata Allah, hak istimewa/privilege kita adalah: yang pertama, penyempurnaan karakter (Rm 8:28). Kedua, agar kita dimuliakan bersama-sama dengan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus (Rm. 8:17). Hak istimewa itu pasti akan berpusat, berepisentrum di situ, tidak yang lain. “Allah bekerja dalam segala sesuatu; panta sunergei” (πάντα συνεργεῖ). Kata ini sering kita anggap remeh, karena sudah sering kita baca. Tetapi sebenarnya, kata ini menunjukkan betapa seriusnya Allah mau mengubah kita, dan mau mempermuliakan kita bersama dengan Tuhan Yesus. “Allah bekerja dalam segala sesuatu,” merupakan mesin anugerah yang Bapa jalankan selama seseorang bersedia diubah dan masih hidup.

Masalahnya adalah bagaimana mesin anugerah tersebut bisa berdaya guna, bermanfaat, berdampak dalam hidup? Jawabnya hanya satu: mengasihi Allah. Ya, pasti kita semua mengaku mengasihi Allah. Tapi, seberapa kita sudah mengasihi Allah? Mengasihi Allah itu bukan hal yang sederhana. Memang ada prosesnya juga. Dan seiring proses kasih kita kepada Tuhan, relasi kita makin utuh dengan Allah. Tentu Allah tidak mau bertepuk sebelah tangan. Maka, orang yang tidak mengasihi Allah, orang jahat, orang yang suka melukai orang lain, tidak mungkin masuk surga.

Kalau Allah adalah Bapa kita—kita biji mata Allah— seberapa kita tenang menghadapi segala tantangan, ancaman, dan guncangan?