Tantangan Hidup

Kata “takdir” ini tidak asing bagi telinga kita, bahkan akrab di mulut banyak orang di sekitar kita. Kata “takdir” dalam pemahaman umum biasanya mendapat isi atau dimengerti sebagai penentuan Ilahi. Kata “takdir” juga biasanya disejajarkan maknanya dengan kata “nasib.” Kata “takdir” sangat populer di lingkungan orang-orang beragama, karena kata ini bertalian dengan “oknum” yang diakui sebagai berkuasa menentukan apa yang terjadi atas hidup masing-masing individu manusia secara mikro, dan atas alam kosmos (alam semesta) ini secara makro. Baik yang terjadi atas seseorang, maupun yang melibatkan alam semesta dan memengaruhi banyak orang, seperti misalnya bencana alam. Oknum yang menentukan segala peristiwa dalam kehidupan tersebut adalah Tuhan. Di balik kata “takdir,“ diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam segala kejadian atau peristiwa. Jadi, “takdir” dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Tuhan yang mutlak atau absolut. Sebelum suatu peristiwa terjadi, segala sesuatunya sudah ditentukan oleh Tuhan untuk berlangsung. Hal ini adalah pandangan yang tidak tepat! Dalam hal ini, Tuhan sekaligus berperan sebagai penulis cerita dan “ki dalang” yang mengatur setiap peran kehidupan dalam pentas panggung sandiwara. Lebih tegas lagi, bila kita objektif memandang hidup dengan kacamata ini, berarti Tuhan berlaku sebagai pengatur remote control, dan manusia menjadi robot yang hanya bisa dikendalikan oleh remote tersebut tanpa kebebasan kesempatan memilih suatu pilihan.

Pemahaman di atas ini pada akhirnya bisa membangun pandangan bahwa pengertian dan pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Tuhan menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang akan ditemukan secara otomatis. Biasanya, pengakuan terhadap realitas takdir ini dianggap sebagai kesadaran akan kebesaran Tuhan, mengakui supremasi atau keunggulan Tuhan, menyadari bahwa manusia hanya hamba, manusia tidak boleh melawan apa yang Tuhan sudah tentukan. Penerimaan realitas takdir dianggap sebagai tanda pengabdian. Pada prinsipnya, umat hanya menerima saja dengan pasrah, tanpa memberontak atas apa yang dialaminya, sebab Tuhan yang menentukan. Umat dikehendaki untuk diam saja. Pasrah, diam, titik. Konsep ini tidak benar! Banyak orang berpendirian bahwa oleh karena Allah adalah Allah yang Mahakuasa, Allah yang tidak perlu diatur atau dinasihati oleh siapa pun, maka Ia tidak akan membuat kekeliruan dalam rencana-Nya, sehingga manusia sepatutnya hanya menerima apa saja yang Allah perlakukan tanpa memiliki pilihan. Pilihan Allah adalah pilihan yang terbaik dan pasti terlaksana. Karena Alah adalah Allah yang tidak terbatas, bahwa Ia adalah Allah yang berdaulat, maka kehendak dan rencana-Nya tidak dapat dibatalkan oleh siapa pun dan dengan kuasa apa pun. Jadi, apa pun yang dialami manusia adalah rancangan-Nya. Dengan kewenangan-Nya yang tidak terbatas, Allah bertindak secara absolut.

Berpijak pada anggapan di atas, ini berarti manusia akan selalu diperhadapkan dengan keadaan yang tidak dapat ditolaknya. Konsep ini sekilas sangat luhur dan agung, akurat, dan Alkitabiah, tetapi konsep ini menghilangkan unsur kebebasan yang Allah telah taruh dalam diri manusia. Dengan demikian, menghilangkan tanggung jawab yang masing-masing individu harus pikul. Masalah yang bisa muncul kemudian adalah apakah manusia masih dianggap sebagai manusia yang berkualitas, bila dengan berkeadaan tanpa kehendak bebas untuk memilih dan bertanggung jawab atas segala tindakannya? Hendaknya kita tidak membela kebodohan kita dalam mengambil keputusan dengan alasan takdir. Dengan demikian, kita mencoba melemparkan atau memindahkan kesalahan yang kita lakukan kepada Tuhan. Kehidupan bukan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan tantangan yang menuntut keberanian dan tanggung jawab. Tanggung jawab berarti orang tidak boleh mengelak bila diminta penjelasan tentang perbuatannya. Alkitab dengan jelas menunjukkan bahwa setiap orang harus memberi pertanggungan jawab kepada Allah (Mat. 12:36; Rm. 14:12; Ibr. 4:13; 1Ptr. 4:5; Why. 20:12). 

Kehidupan bukan nasib yang harus diterima begitu saja, melainkan merupakan tantangan yang menuntut keberanian dan tanggung jawab.