Tangan yang Telah Kosong

Filipi 3:7-8, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus, bahkan segala sesuatu kuanggap tidak bernilai ketika mengenal Kristus Yesus yang lebih mulia dari segala sesuatu. Oleh karena Yesuslah, aku telah melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Ini terbalik dengan orang dunia—jabatan sebagai anggota Sanhedrin, kekayaan, jaminan yang dimiliki Paulus—dianggap tidak bernilai dibanding dengan pengenalannya akan Kristus. Tidak bisa tidak, ada barter. Masalahnya banyak orang tidak merasa perlu barter. Demikian juga kalau kita membaca Matius 13:44-46, di situ ada barter juga. Petani yang menjual seluruh hartanya demi ladang yang di dalamnya ada harta kekayaan; atau seorang pedagang yang menemukan mutiara yang indah, dia merusak prinsip ekonomi, dia menjual seluruh hartanya demi membeli mutiara. Dunia mengajarkan untuk menggunakan modal seminimal mungkin, dan memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Ini dilanggar oleh pedagang tersebut. Pedagang ini melepaskan segala sesuatu.

Kita tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Surga kalau kita tidak melepaskan segala sesuatu hanya untuk Dia, sebab Allah itu terlalu besar, agung, dan mulia. “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” merupakan jawaban Tuhan Yesus kepada orang yang menyatakan mau ikut Dia. Tuhan Yesus tidak menjawabnya dengan kata “ya,” “boleh,” atau “tidak.” Dengan jawaban seperti itu, berarti Tuhan sudah tahu isi hatinya, ada sesuatu yang orang ini harapkan dengan menjadi pengikut Tuhan Yesus. Padahal, untuk bisa ikut Tuhan Yesus, ia harus melepaskan segala sesuatu. Dalam 1 Timotius 6:7-8 dikatakan, “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Artinya, memang kita tidak boleh punya keinginan. Dulu kita merasa kita berhak punya keinginan, paling tidak punya hobi. Mestinya apa yang kita beli, apa yang kita miliki, semua menunjang pertumbuhan iman kita atau menunjang pelayanan. Jika tidak demikian, berarti kita tidak sepenuhnya mengabdi kepada Tuhan.

Mungkin dulu kita masih memiliki banyak keinginan diri sendiri, namun Tuhan berkata bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, kita bukan milik kita sendiri. Waktu kita meninggal dunia, Tuhan akan bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan tanganmu, apa yang kau lakukan dengan matamu, apa yang kau lakukan dengan telingamu, apa yang kau lakukan dengan tubuhmu, apa yang kau lakukan dengan uangmu, apa yang kau lakukan dengan kesempatan-kesempatanmu?” Kalau seseorang dalam hitungan umur rohani masih berumur kanak-kanak memiliki hobi tertentu, kita bisa maklum. Tapi kalau sudah makin tua, tidak boleh ada sesuatu yang kita miliki atau kita kerjakan yang tidak menunjang pertumbuhan iman kita pribadi dan tidak menunjang pekerjaan Tuhan. Harus segenap hidup kita persembahkan kepada Tuhan tanpa batas. Jadi, semestinya ketika kita pulang menghadap Bapa, tangan kita sudah kosong, tidak ada lagi yang kita genggam, karena semua sudah kita lepaskan. Kalau kita menjadi anak-anak Allah, kita benar-benar tidak lagi memusingkan segala hal, kecuali menyenangkan hati Bapa.

Sebab kalau kita masih memegang sesuatu, berarti kita tidak menghargai Allah sepantas dan sepenuhnya. Orang yang menghargai Allah secara pantas, akan menganggap tidak ada yang bernilai selain Tuhan, sehingga ia berani melepaskan segala sesuatu. Abraham, teladan orang percaya, melepaskan segala sesuatu demi menggenapi panggilan Allah dalam hidupnya. Ishak—anak yang dinanti selama 25 tahun—pun dipersembahkan, padahal Allah berjanji bahwa dari keturunannya, bumi akan dipenuhi. Abraham tidak mempertanyakan hal itu, dia hanya taat atas apa pun yang Allah perintahkan. Jangan ada yang masih kita genggam. Jangan kita berusaha memiliki sesuatu atau pergi ke tempat tertentu, yang itu tidak membuat iman kita bertumbuh dan tidak mendukung pekerjaan Tuhan. “Baik kau makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” (1Kor. 10:31). Pada titik tersebut, barulah kehidupan Yesus yang sesungguhnya itu bisa terwujud di dalam hidup kita. Terbukti ketika seseorang akan meninggal dunia, dia menggapai-gapai mencari pegangan. Namun kalau tangannya masih penuh dengan barang bawaan, ia tidak bisa menggenggam pegangan. Makanya harus dilepas, baru bisa memegang tangan Tuhan. Pada momen tersebut, Tuhan tahu, ini sudah membuktikan cintanya kepada Tuhan. Tangan-Nya terulur kepada kita dan membawa kita ke hadirat-Nya. Inilah kematian yang bermartabat.

Semestinya ketika kita pulang menghadap Bapa, tangan kita sudah kosong, tidak ada lagi yang kita genggam, karena semua sudah kita lepaskan.