Takhta Allah Kekal Selamanya

Jika kita memperhatikan awan, kita bisa dapati bahwa tidak ada bentuk awan yang sama. Dan ketika diterpa angin, awan tersebut akan bergerak dan berlalu. Seperti juga manusia, tidak ada seorang manusia pun yang sama dengan yang lain. Lewat, berlalu. Betapa dahsyat Allah itu. Di sisi lain, hidup ini sangat tragis dan rentan. Baru selesai satu masalah, muncul masalah yang baru. Apalagi nanti? Namun, satu perkara yang harus kita ingat dan percayai bahwa takhta Allah tetap selamanya. Maksudnya bahwa Allah memerintah jagat raya ini, dan mengendalikan segala sesuatu. Ketika hati kita menjadi kecut, kecil hati, kita menyinggung perasaan Bapa. Karena sejatinya, di situ kita tidak mengakui kebesaran-Nya, kita tidak mengakui kedahsyatan-Nya, bahkan kita tidak mengakui pemerintahan-Nya. Mari kita bayangkan, bagaimana Allah di surga memperhatikan bangsa Israel yang tertindas, bagaimana Allah melepaskan mereka dari perbudakan Mesir, bagaimana Allah membelah laut Kolsom, bagaimana Allah menunjukkan keperkasaan-Nya dalam sejarah Kerajaan Allah yang ditulis Alkitab (Ibr. 1:8; 1Taw. 17:14; 1Taw. 22:10).

Sejujurnya, kita telah menjadi manusia yang sebenarnya tidak ber-Tuhan dengan benar. Kalau kita percaya ada Allah yang hidup, Allah yang berkuasa, yang memiliki takhta dan pemerintahan, seharusnya kita harus sungguh-sungguh mengakui itu, bukan hanya dengan perkataan, melainkan juga dengan sikap. Mestinya kita tidak menjadi khawatir apa pun yang terjadi, sebab Dia hidup dan tetap hidup dan Dia berkuasa. Begitu cakapnya kita berbicara tentang Tuhan dalam berbagai perspektif teologis, namun kadang kita lupa untuk mengakui keberadaan-Nya, bahwa Dia punya takhta tetap. Mari kita renungkan kebenaran ini, bahwa di surga ada kesibukan pemerintahan. Mikhael, Gabriel, dengan semua penghulu-penghulu malaikat yang kudus, sibuk. Allah Bapa mengatur pekerjaan. Dan kalau Tuhan berkata, “Aku menyertai kamu sampai kesudahan zaman,” itu berarti gerak kehidupan orang percaya juga menggerakkan kegiatan dalam Kerajaan Surga. Jadi kita bisa membayangkan bagaimana Maharaja kita sibuk memperhatikan jagat raya ini, dan khususnya memperhatikan anak-anak-Nya, serta mau menggenapi rencana-Nya di muka bumi ini.

Oleh karenanya, bersyukur kita masih disadarkan untuk mencari Allah. Kalau kita menyadari takhta Bapa dan pemerintahan Allah, maka pertama, kita tidak berani berbuat salah, sekecil apa pun kesalahan itu. Yang kedua, kita menjadi tidak takut menghadapi segala keadaan. Yang ketiga, agar kita menemukan apa rencana Allah atas hidup kita masing-masing dan untuk dunia. Kita adalah pangeran-pangeran Kerajaan Surga. Makanya kita harus sungguh-sungguh bersikap sebagai pangeran, bersikap sebagai putri-putri Kerajaan Allah. Sebelum kita meninggal dunia, kita harus benar-benar menemukan keadaan kita, apa penilaian Allah terhadap kita. Apakah kita sudah layak disebut sebagai putra-putri atau pangeran dan putri-putri Kerajaan Surga atau belum. Fokus kita harus hanya Tuhan. Sebab apa yang menjadi fokus kita, begitulah diri kita. Apa yang menjadi fokus diri kita, itu yang mewarnai jiwa kita. Kalau kita fokus dunia, kita jadi materialistis. Kalau fokus kita penampilan, kecantikan, kita jadi pamer. Tapi kalau fokus kita adalah Tuhan, kita menjadi pangeran-pangeran dan putri-putri Kerajaan Allah. Semua kegiatan kita itu harus mendukung fokus kita. 

Ironis, banyak orang tidak berani fokus sepenuh kepada Allah. Karena mereka membeda-bedakan. Kalau rohaniwan, fokusnya Tuhan saja, pelayanan saja, surga saja. Sedangkan kalau jemaat, tidak perlu seperti itu. Ini adalah pemahaman yang salah. Semua kita adalah hamba Tuhan di bidang kita masing-masing dan kita harus punya fokus yang sama, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kita harus sangat ekstrem di sini. Hidup bisa kita lewati dari hari ke hari, yang penting kita bisa makan, masih memiliki pakaian yang pantas. Kita semua tentu memiliki persoalan, tetapi kita bisa melewati dari hari ke hari, kita bisa melewati dari waktu ke waktu, dan kita fokus Kerajaan Allah. Sampai akhirnya kita bisa berkata, “Yang kuingini hanya Engkau, Tuhan.” Sebagaimana pemazmur katakan dalam Mazmur 73:25-26, “Siapa gerangan ada kepadaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” 

Dialah kehormatan dan kekayaan kita. Jika kita menjadi perawan suci atau kekasih Allah, kita akan diistimewakan oleh Allah. Sebab, kita tidak mungkin diistimewakan oleh Allah kalau kita tidak mengistimewakan Dia. Maka, jangan setengah-setengah. Tuhan harus menjadi segalanya dalam hidup kita. Jadi kalau kita betul-betul beriman bahwa Allah itu hidup, Ia memiliki takhta dan memerintah selama-lamanya, dan kita hidup di dalam pemerintahan-Nya, barulah kita bisa mewujudkan apa yang dikatakan dalam Doa Bapa Kami, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Suatu hari, tempat di mana kita tinggal akan rata dengan tanah, menjadi lautan api. Tetapi apa yang pernah kita lakukan dengan tempat ini diingat kekal oleh Allah. Dan kita mau menjadikan tempat kita, di rumah kita masing-masing, sebagai tempat di mana Allah suka mengunjunginya.

Kalau kita betul-betul beriman bahwa Allah itu hidup, Ia memiliki takhta dan memerintah selama-lamanya, dan kita hidup di dalam pemerintahan-Nya, barulah kita bisa mewujudkan apa yang dikatakan dalam Doa Bapa Kami, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.”