Taat

Banyak orang Kristen tidak mengerti bahwa keselamatan tidak dapat dialami dan dimiliki dengan mudah; harus lewat sebuah perjuangan. Karena mereka tidak tahu bahwa keselamatan itu adalah sebuah proses berat; proses dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Itu berarti manusia harus menjadi sempurna seperti Bapa; menjadi manusia segambar dan serupa dengan Allah, sesuai dengan rancangan Allah semula ketika menciptakan manusia (Kej. 1:26-27). Kita bersyukur bahwa proses itu bisa kembali berlangsung karena Yesus memberi anugerah. Namun, Yesus pun memperjuangkan hal itu, bukan otomatis. Dalam Yohanes 1:14 firman Tuhan mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Yesus adalah manusia yang menjadi pelaku Firman Allah, sehingga Ia memancarkan kemuliaan Allah. Kehidupan Yesus adalah kehidupan Firman. Tetapi untuk mencapai kehidupan mengenakan Firman hingga sempurna, Yesus sendiri harus berjuang.

Alkitab jelas menulis, “… dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan oleh Allah Bapa. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya.” Hal ini memberikan kepada kita sebuah pengertian bahwa untuk menjadi taat itu tidak mudah. Taat itu penderitaan. Jadi, umat pilihan yang mendapat kesempatan untuk dikembalikan ke rancangan semula Allah, harus belajar. Artinya, berjuang seperti Dia telah berjuang, untuk memiliki kehidupan seperti kehidupan yang dicapai Yesus; mengenakan Firman. Itulah sebabnya, Yesus dikatakan sebagai pokok keselamatan. Kata “sulung” dalam Roma 8:28 itu jelas menunjukkan bahwa pergumulan yang dialami oleh Yesus, juga pergumulan yang dialami orang percaya. Dengan kata lain, orang percaya harus mengalami pergumulan yang juga dialami oleh Yesus.

Harus ditegaskan bahwa Yesus dalam segala hal disamakan dengan manusia. Jika tidak demikian, Yesus tidak bisa dikatakan yang sulung. Dikatakan “sulung” karena Dia mengalami pergumulan sama seperti pergumulan yang dialami oleh orang percaya. Dengan keadaan ini, Yesus bisa merasakan apa yang dirasakan oleh manusia, sehingga Ia menjadi Imam Besar dan dapat menolong orang yang ada dalam pergumulan. Kalau konsep ini salah dimengerti, maka kekristenan kita jadi berantakan. Sebab, tidak ada yang bisa kita teladani. Kehadiran Yesus mengubah manusia yang telah diwarnai dunia untuk menjadi manusia sesuai rancangan semula. Manusia melukis dirinya sendiri dan tidak segambar dengan Allah, maka Allah yang harus memberi warna supaya manusia dapat memiliki model seperti model yang Allah kehendaki. Oleh karenanya, Yesus datang untuk mengubah manusia.

Wahyu 21:7 mengatakan, “barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya, dan ia akan menjadi anak-Ku.” Pernyataan Tuhan bahwa orang percaya harus menang menunjukkan adanya kemungkinan seseorang menang, tapi juga kalah. Secara tidak langsung dikemukakan adanya tuntutan terhadap orang percaya untuk memperebutkan kemenangan seperti Yesus memperebutkannya. Paulus juga mengatakan kepada Timotius, “bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar, dan rebutlah hidup yang kekal.” Hidup kekal mesti direbut. Kemenangan yang diraih Yesus bukan anugerah, melainkan hasil ketaatan dalam perjuangan-Nya. Pencobaan dari Iblis untuk menggagalkan pencapaian hidup-Nya sebagai Anak Allah yang menemukan kemuliaan Allah adalah supaya Yesus gagal dan tidak memikul dosa manusia. Maka, Ia ditawari dunia.

Hal ini sama sebenarnya seperti ketika Tuhan memberi izin kepada setan untuk mencobai Ayub; Ayub bisa gagal. Nyatanya, memang Ayub pada akhirnya minta maaf kepada Tuhan. Sampai dia berkata, “kucabut semua perkataanku.” Namun kemenangan Ayub terbukti ketika ia berkata, “Allah tahu jalan hidupku. Kalau Ia menguji aku, aku akan muncul seperti emas.” Apa pun yang kita alami, pasti di dalam kontrol Allah. Namun, dalam setiap keadaan, kita harus taat. Ketaatan tanpa syarat. Pergumulan yang dihadapi orang percaya hari ini adalah peperangan melawan kuasa gelap yang berusaha menarik ke dalam persekutuan dengan kuasa gelap itu. Hari ini orang bersekutu dengan kuasa gelap, mencintai dunia, hidup suka-suka, mengumbar emosi, perasaan, nafsu. Ia tidak tahu dia ini menjadi sahabat kuasa gelap. Kuasa gelap tidak muncul dengan wajah menyeramkan, tapi muncul dengan keindahan dunia dan segala kesenangan-kesenangannya.

Kuasa gelap menggunakan keindahan dunia untuk memikat orang percaya agar orang percaya mengingini keindahan dunia dan terbelenggu. Iblis memakai berbagai media kuasa gelap untuk merusak cara berpikir orang percaya, agar tidak memiliki cara berpikir anak Allah. Dibuat serupa dengan dunia supaya tidak serupa dengan Tuhan, tapi serupa dan kuasa gelap. Tetapi Tuhan yang murah hati masih memberi kesempatan. Kita harus selalu di dalam pimpinan Roh Kudus agar kita dapat melewati semua pergumulan itu dan menjadi pemenang. Harus selalu diingat bahwa kuasa gelap itu berusaha agar kita tidak dikembalikan ke rancangan semula Allah. Kita percaya Tuhan beserta dengan kita, Tuhan pasti menuntun kita. Dan hari ini kita mau mengambil keputusan untuk taat, taat, dan taat kepada Allah. Jangan menunda, sebab kesempatan kita terbatas!

Kemenangan yang diraih Yesus bukan anugerah, melainkan hasil ketaatan dalam perjuangan-Nya.