Sumber Kehadiran Allah

Saudaraku,

Saya mengajak Saudara untuk bisa mengalami Tuhan; bahwa Tuhan adalah Allah yang hidup, yang nyata. Dan itu benar-benar bisa kita alami di tengah-tengah segala kesibukan kita dan segala pekerjaan yang kita jalani; kita terus bisa di dalam penghayatan akan kehadiran Tuhan. Namun ini yang sering meleset. Karena kita tidak menghayati kehadiran Tuhan, maka kita mudah melakukan hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki, kita mudah melakukan hal-hal yang mendukakan hati Allah. Selain itu kita mudah menjadi takut, khawatir, cemas dalam menghadapi segala persoalan dan pergumulan hidup yang mengancam kita. 

Salah satu cara agar kita dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah—kita bisa hidup suci, kita bisa hidup tidak bercacat, tidak bercela, kita bisa kokoh menghadapi segala pergumulan hidup—adalah kita menghayati keberadaan Tuhan. Kita bisa memikirkan dan merenungkan Tuhan setiap saat. Atau kalau menggunakan kalimat lain, kita menaruh Tuhan di depan mata kita. Ini yang sering gagal kita lakukan. Kita meninggalkan Tuhan di ruang gereja, kita meninggalkan Tuhan di ruang doa; lalu kita seperti hidup di daerah tak bertuan, padahal Tuhan adalah Tuan semesta alam, Tuhan semesta alam. Kita tidak pernah bisa hidup di daerah netral di mana kita boleh berbuat suka-suka kita. Kita selalu ada di daerah di mana ada pemerintahan Allah. Itulah sebabnya di dalam Doa Bapa Kami, Allah Bapa kita hadirkan pemerintahan-Nya dalam hidup kita; “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga.” 

Memang ini bukan sesuatu yang mudah karena kita sudah terbiasa hidup seperti orang ateis, seperti orang yang tidak ber-Tuhan. Secara teori kita adalah orang yang ber-Tuhan (teis teoritis), tetapi secara perilaku kita adalah ateis praktis; praktis seperti orang yang tidak ber-Tuhan. Karena kita tidak menghayati kehadiran Allah, tidak memikirkan Allah dengan benar. Kita akan mulai hari ini, Minggu 09 Januari 2022, mari kita memikirkan Tuhan, menghayati kehadiran Tuhan setiap saat. Nanti kita akan terbiasa memiliki irama untuk itu. Bukan hanya pada waktu kita berada di dalam ibadah (atau dalam pelayanan) barulah kita menghayati kehadiran Allah, namun setelah itu kita tidak lagi menghayati kehadiran Allah. Itu yang membuat kabut kemuliaan Allah tipis, bahkan hampir-hampir tidak ada di dalam kehidupan dan pelayanan kita. 

Salah satu ciri dari seseorang yang selalu menghayati kehadiran Allah adalah ia akan takut berbuat salah. Ketika kita membicarakan kesalahan orang lain yang kita tidak tahu persis masalahnya, kita tutup mulut. Jangan sembarangan berkata, memberikan pendapat atau menghakiminya. Itu jahat. Apalagi kalau sengaja kita membuat cerita yang tidak sesuai fakta. Belum lagi kalau ada dendam, kebencian pribadi terhadap orang tersebut. Ingat! Tidak ada orang yang membenci saudaranya—atau seorang pembenci yang sama dengan pembunuh—yang masuk surga. Sejujurnya, hal itu kita biasa lakukan dahulu. Namun sekarang kita mau berubah. Tidak ada pilihan lain, selain kita harus menghayati kehadiran Allah setiap saat. Untuk itu kita harus mengerti beberapa sumber dari kehadiran Allah, yaitu:

Yang pertama, Firman Tuhan. Harus selalu mendengar Firman Tuhan setiap hari. Daripada Saudara menonton apa yang tidak perlu—bahkan yang merusak pikiran—mengapa kita tidak mendengarkan Firman Tuhan? 

Yang kedua, pada waktu kita berdoa; baik doa prinadi maupun doa bersama. Apalagi kalau pemimpinnya adalah seorang yang telah menghayati kehadiran Allah, maka doa, pujian, penyembahannya menjadi pekat dengan kehadiran Allah. 

Yang ketiga, melalui percakapan dengan orang-orang yang takut akan Allah; dimana yang dibicarakan adalah hal mengenai kebenaran-kebenaran. Firman Tuhan mengatakan dalam Matius 18:20, “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Tidak ada pilihan lain, selain kita harus menghayati

kehadiran Allah setiap saat.