Sudah Selesai

Setiap langkah kita adalah langkah iman. Iman artinya tindakan yang sesuai dengan kehendak Allah. Setiap langkah kita, jika kita lakukan dengan baik, maka ketika kita sampai pada titik dimana kita harus meninggal dunia, barulah kita bisa berkata “sudah selesai.” Jadi selama Tuhan masih memberi waktu, belum selesai. Belum selesainya bukan karena kita belum mencapai apa yang kita mau capai, melainkan karena Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk menyenangkan Dia, yang nanti akan berlanjut di kekekalan. Misalnya jika kita seorang mahasiswa, bagaimana cara kita melakukan kehendak Allah? Salah satunya, dengan menjadi seorang mahasiswa yang belajar dengan tekun dan baik. Dan sementara belajar, kita juga harus menjaga mulut. Jangan berpacaran sebelum waktunya, juga jangan bergaul dengan orang yang salah. Setelah bangun tidur, mulailah datang menghadap Tuhan, sebab Ia memberi hari baru dengan segala penugasan-Nya untuk kita kerjakan sepanjang hari. Jika kita sebagai pedagang, baiklah kita pergi ke tempat kita berdagang untuk memenuhi penugasan dari Tuhan sebagai pedagang. 

Tetapi bagaimana menyelenggarakan kegiatan perdagangan atau bisnis kita agar tetap dalam kebenaran dan kesucian Allah? Mintalah nasihat Tuhan. Tuhan pasti berbicara. Dan percayalah, Tuhan tidak pernah berhenti berbicara karena Dia tinggal di dalam kita. Dia pasti terus berbicara dalam segala keadaan yang kita alami. Oleh sebab itu, komitmen dan tekad kita haruslah hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Hingga ketika kita menutup mata di pembaringan, kita dapat berkata “sudah selesai.” Tapi kalau seseorang terikat dengan berbagai kesenangan, ia tidak pernah berkata “sudah selesai.” Di ujung maut pun, tetap belum selesai. Belum selesai di hadapan Tuhan karena belum melakukan apa yang Allah kehendaki, dan belum selesai dengan keinginan-keinginan yang belum tercapai. 

Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus berpadan dengan apa yang ada. Bukan hanya sekadar hidup sederhana, melainkan merasa puas dan bersyukur dengan apa yang kita miliki hari ini, sebab kita bersama dengan Tuhan Yesus. Mungkin ada yang mengeluh karena banyak masalah. Perlu kita ingat bahwa yang pertama, hidup tidak mungkin tidak bermasalah. Dalam hidup, pasti selalu ada masalah. Jadi kalau kita menghadapi suatu masalah, kita harus menerima hal tersebut sebagai realita yang memang tidak bisa dibantah. Tidak terkecuali masalah-masalah atau kesukaran-kesukaran yang besar. Yang kedua, jangan berhenti bertanya “mengapa.” Jadi kalau kita menghadapi persoalan, kita bertanya, “mengapa, Tuhan?” Itu manusiawi, tapi jangan memaksa mendapat jawaban buru-buru. Karena, persoalan-persoalan itu merupakan pendandanan Tuhan; kosmetik abadi untuk manusia batiniah kita. Pasti Tuhan memiliki rancangan, karena semua di dalam kendali Tuhan, dalam kontrol Tuhan. Tidak ada yang terjadi tanpa kendali Allah. 

Karena kita adalah anak-anak Allah, maka Allah pasti kendalikan dan mengontrol kehidupan kita dengan sempurna. Lebih dari berkat jasmani dan kenyamanan yang Allah bisa berikan dalam hidup kita, Allah menghendaki kita dipersiapkan untuk menghadap Tuhan dan menikmati hidup yang sesungguhnya, nanti di balik kubur. Kalau kita sekarang menjalani hidup, kita bisa merasa cukup; tidak ada yang kita rasa “harus” capai. Ingat, “baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Harus kita persoalkan, apa yang kita inginkan itu merupakan kebutuhan atau keinginan? Kebutuhan pun harus dibawa kepada Tuhan, “ini kebutuhan Tuhan, atau kebutuhanku?” 

Melakukan kehendak Allah harus dimulai dari hari ke hari. Setiap kita membuka mata pada pagi hari, kita sudah mulai menghadap Allah. Kita harus mempertajam kepekaan kita dalam mendengar suara Tuhan, untuk mengetahui apa yang harus kita lakukan di tempat kita masing-masing; baik sebagai mahasiswa, ibu rumah tangga, karyawan, pengusaha, praktisi hukum, tenaga medis, dan lain sebagainya. Yang kita mau capai adalah bagaimana kehendak Allah dapat kita gelar di dalam hidup kita. Bagaimana kita menghadirkan Kerajaan Allah seperti Doa Bapa Kami, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga?”  Semua harus dilakukan di dalam kehendak Allah supaya kita menyenangkan hati Allah. Serta, tidak ada motif apa pun dalam diri kita, entah nama diri, sanjungan, pujian, dan lain sebagainya. 

Kalau kita masuk wilayah ini, kita baru bisa mengatakan “Yesus cukup bagiku.” Walaupun kita mungkin dikhianati suami atau anak mendurhaka, kita tetap tidak kehilangan Yesus. Sampai pada taraf ini, mustahil kita berbuat dosa, sehingga kita bisa mengerti apa itu kesucian yang sesungguhnya. Kita tidak akan pernah merasa rendah diri ketika melihat orang lain berkeadaan ‘lebih’ dari kita. Jadi, janganlah memiliki target apa pun, tetapi lakukanlah apa yang Tuhan Yesus lakukan. Sebenarnya, jika Tuhan masih memberi kita hari ini, maka sebelum kita tidur, kita bisa berkata: “Hari ini sudah selesai,” karena kita sudah melakukan apa yang dikehendaki Allah hari ini. Jangan sambil tidur berkata, “Besok aku mau beli motor itu.” “Aduh, aku belum punya anak.” “Hmm, bagaimana cara memiliki barang itu, ya?” Ingat, kesempatan hidup ini tidak akan pernah terulang, karena kita hanya punya satu kali kesempatan hidup, dan itu berharga sekali. Dalam kesempatan yang sekali ini, Allah tidak pernah memberitahu kita kapan usainya. 

Seseorang yang terikat dengan berbagai kesenangan, tidak pernah dapat berkata “sudah selesai,” sekalipun di ujung maut.