Suasana Surga

Banyak orang menganggap remeh, hatinya masih mendua, tidak sungguh-sungguh mau bertobat dan mengarahkan diri kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Memang di sini dibutuhkan kesungguhan, kenekatan, atau bisa dikatakan pemaksaan. Siapa yang tidak ingin memuaskan ambisi, hasrat, hawa nafsu, dan keinginan-keinginan supaya puas? Semua orang juga ingin. Semua kita ada di dalam sinful nature atau kodrat dosa. Tergantung kita, seberapa kita berani untuk menghormati Allah dengan membunuh semua keinginan-keinginan yang tidak sesuai kehendak Allah. Karena kita tidak memiliki keberanian untuk nekat, kita menunda. Penundaan-penundaan tersebut bisa menjadi langkah membatalkan. Akhirnya, kita tidak pernah menjadi seorang yang benar-benar mengasihi Allah dan Kerajaan-Nya. Banyak orang Kristen yang ditawan oleh pikirannya yang bodoh dan tersesat tersebut, sehingga mereka makin dibelenggu oleh kuasa kegelapan untuk dibawa ke api kekal. Lebih ironis lagi, banyak orang Kristen yang tertawan, tetapi mereka tidak menyadari.

Tidak perlu menunggu Tuhan berbicara dengan keras lalu memukul kita. Kita tidak perlu harus dihabisi Tuhan, sebab seharusnya kita menghabisi diri kita sendiri. Dibuat sakit, miskin, malu, baru bertobat, baru sungguh-sungguh. Mestinya kita yang harus menghabisi diri sendiri dengan rela, sehingga tidak perlu ada korban. Jadi, kita harus menyadari, jangan menganggap remeh. Allah yang Mahabesar, Mahamulia, Mahasuci, Mahatinggi, harus ditanggapi dengan kesungguhan tekad yang kuat, senekat-nekatnya. Dengan demikian, barulah kita bisa “mengimbangi kebesaran Allah.” “Mengimbangi” artinya memenuhi bagian kita yang patut, sebab kita tidak mungkin mengimbangi Allah. Tuhan memperhatikan, memeriksa setiap individu, seperti yang difirmankan, “Aku menguji batin.” Seberapa kita sungguh-sungguh mengasihi Allah? Kita harus membuat diri kita membara mengasihi Dia. Kalau kurang, kita yang harus berdoa, “Buat aku mengasihi Engkau, Tuhan. Lebih baik saya mati daripada saya tidak dikenal.” Mari kita berjanji untuk hidup suci dan tidak mencintai dunia lagi; karena tidak ada pilihan, dan dunia ini sudah dekat ujungnya. Kita juga akan meninggal kapan saja.

Jadi, sejatinya banyak orang Kristen sebenarnya dalam keadaan tertawan. Dia tahu bahwa dirinya masih duniawi, tapi tidak mau keluar dari keadaan duniawinya, karena tidak punya tekad yang kuat. Kita fokus ke Tuhan saja. Apa pun yang kira-kira bisa mengacaukan pikiran, harus kita buang. Di sini perlu kenekatan. Menjadi pertanyaan, mengapa kita tidak ingin pulang ke surga? Jawabnya adalah karena kita tidak atau belum menikmati sukacita persekutuan dengan Allah. Mengapa kita tidak menikmati sukacita persekutuan dengan Allah? Karena Allah tidak bisa mendampingi kita yang masih punya banyak selera yang bertentangan dengan selera Roh Kudus. Banyak orang terlena dengan keindahan dunia, manisnya dunia, kesenangan dunia dengan segala hiburannya, sehingga dia tidak bisa berjalan dengan Tuhan. Damai sejahtera yang diberikan oleh Tuhan Yesus tidak bisa dinikmati orang yang memiliki damai sejahtera yang lain. “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan,” termasuk di dalamnya “kamu tidak bisa menikmati damai sukacita Tuhan, dan sekaligus damai sukacita dunia.”

Kita harus menikmati Tuhan, baru kita bisa merasakan sebagian suasana Kerajaan Allah. Jadi kalau orang tidak ingin pulang ke surga, itu karena memang belum menikmati suasana Kerajaan Allah. “Kerajaan Allah bukan soal makan dan minuman, tapi soal kebenaran, damai sejahtera, sukacita oleh Roh Kudus.” Ayat ini menunjukkan bahwa kita tidak harus masuk surga dulu, baru bisa merasakan mengalami suasana surga. Suasana surga seharusnya terasa sejak sekarang, tergantung kita nekat atau tidak, walaupun tentu kita tidak bisa mengalami suasana surga secara sempurna kecuali ketika kita menginjak surga nanti. Tetapi hal itu sudah cukup membuat kita tidak mengingini dunia dengan segala keindahannya. Ternyata suasana surga itu terkait dengan kesucian hidup. Kesucian hidup kita terkait dengan mengalami suasana Kerajaan Allah. Orang yang tidak mengalami suasana Kerajaan Allah, tidak mungkin memiliki kesucian standar Allah. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki kesucian standar Allah, tidak mungkin mengalami suasana sukacita dan damai sejahtera Allah.

Jadi, sehebat apa pun orang Kristen itu, kalau masih ada kesenangan-kesenangan dunia, tidak mungkin memiliki kesucian hidup standar Allah. Di sini kita menemukan betapa beratnya mengikuti Yesus. Tuhan Yesus berkata, “kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, ya kamu tidak layak bagi-Ku. Kamu tak dapat jadi murid-Ku.” Yesus sendiri melepaskan segala sesuatu. Ilmu teologi tidak membuat kita otomatis bisa melepaskan segala sesuatu dan menjadi rohani. Yang membuat kita rohani adalah pengalaman hidup dimana kita dimuridkan oleh Tuhan sendiri melalui Roh Kudus. Jadi, kita mengerti mengapa orang kaya yang ingin memiliki hidup kekal di Matius 19 harus menjual miliknya dan membagikannya kepada orang miskin. Ini berarti jangan memiliki keterikatan apa pun. Sekarang kalau kita menjalani hidup, menjalani bisnis dan segala kegiatan, semua harus untuk Tuhan. Supaya kita layak menjadi anak-anak Allah dan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Jangan sampai kita dihabisi Tuhan, baru kita berkata, “Yang kuingini Engkau saja.” Tapi kalaupun kita dihancurkan, diremukkan Tuhan, itu tidak masalah. Sebab, lebih baik di bumi kita hina, tapi waktu kita di pengadilan tampak kecantikan dan keindahannya. Kalau kita sudah pernah diremukkan oleh Tuhan dan kita mau berubah, Tuhan bisa memulihkan.

Kita harus menikmati Tuhan, baru kita bisa merasakan sebagian suasana surga; dan suasana surga itu terkait dengan kesucian hidup.