Skip to content

Status Khusus

Kekristenan yang sejati atau kebenaran yang orisinal, jika dipahami dengan benar oleh seseorang, maka dia tidak akan lagi memandang perbedaan antara yang disebut sebagai “imam” dan “awam;” “pendeta” dan “bukan pendeta.” Kalau seseorang mengenal kebenaran yang murni atau kekristenan yang sejati, maka dia mulai tidak membedakan apakah seseorang itu pendeta atau bukan pendeta. Kalau kita jemaat awam, kita akan tetap menghargai hamba Tuhan dan bukan hamba Tuhan, dalam sikap hormat yang pantas. Kalau kita seorang pendeta, kita mulai tidak merasa hebat dengan jabatan kependetaan itu. Kita tidak akan merasa bahwa kita punya strata yang lebih tinggi dari orang yang bukan pendeta. 

Jadi kalau orang mengerti kebenaran yang sejati, kekristenan yang murni, ia tidak akan melihat strata itu: pendeta, bukan pendeta; imam atau awam. Sebagai jemaat awam, tentu kita tidak akan merasa minder, kecil hati terhadap seorang yang memiliki gelar pendeta atau hamba Tuhan. Kita tidak akan lagi meminta-minta untuk didoakan seakan-akan pendeta memiliki status khusus di hadapan Allah. Status khusus seseorang bukan karena dia pendeta, melainkan karena tinggal di dalam Tuhan, yaitu orang yang benar-benar hidup dalam kesucian dan meninggalkan percintaan dunia. 

Kalau bagi seorang pendeta, dia tidak akan lagi merasa bahwa jabatan pendeta itu membuat dia memiliki strata atau tingkatan yang lebih tinggi dari jemaat awam. Sebab nilai dirinya bukan pada jabatan pendeta itu, melainkan apakah dia sudah benar-benar tinggal di dalam Tuhan. Tentu orang yang tinggal di dalam Tuhan adalah orang yang hidup di dalam kesucian dan terlepas dari percintaan dunia. Dan tentu seorang pendeta yang tidak lagi menghargai kependetaannya sebagai nilai diri, maka dia akan mengarahkan jemaat kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Ia tidak akan menjual jabatan pendetanya dengan mengesankan bahwa dia lebih tinggi dari jemaat. 

Memang seorang pendeta harus memiliki kesucian yang lebih dari jemaat yang dipimpinnya. Terlepas dari ikatan dunia dan punya kedekatan yang lebih intim dengan Allah. Mestinya dia seorang yang istimewa dan bisa menjadi pendoa bagi jemaat. Tetapi, ia tidak akan mengesankan bahwa dirinya hebat, bahwa doanya lebih didengar oleh Allah daripada doa jemaat. Tanpa disadari, tidak sedikit pendeta yang “menjual diri” artinya dia menjual jabatan kependetaan dan menipu jemaat. Hal itu memuakkan di hadapan Allah. Kekristenan yang sejati,  kebenaran yang murni, akan membuat seseorang menghargai Tuhan dan nilai-nilai rohani lebih dari perkara-perkara dunia.

Hal ini tidak bermaksud mau mencederai jabatan pendeta dan juga bukan mau melecehkan para hamba Tuhan, tetapi inilah kebenaran. Kalau kita mengalaminya, kita pasti akan mengaminkan. Karenanya, mari kita masuk kepada Kekristenan yang sejati; kebenaran yang murni. Contohnya mengenai baptisan, itu bukan sekadar karena sudah umur lebih 12 tahun atau dianggap dewasa, lalu kemudian dibaptis. Tetapi kesediaan meninggalkan dunia; mati bagi dunia dan hidup sepenuhnya bagi Allah. 

Perjamuan kudus bukan sekadar kita mengangkat roti dan anggur dan mengingat kurban Tuhan Yesus, tetapi kita menjadi satu dengan Tuhan dalam penderitaanNya. Jadi kalau kita makan roti dan minum anggur perjamuan kudus, berarti masuk dalam persekutuan dengan Allah. Maka, kita tidak boleh menajiskan diri dengan dosa, tetapi harus menderita bersama dengan Tuhan. Itulah kebenaran yang murni, Kekristenan yang sejati. Kesucian hidup kita bukan ditentukan oleh hukum yang mengatur apa yang baik dan yang tidak baik, melainkan berangkat dari pikiran dan perasaan Allah; apa yang Allah kehendaki. Jika kebenaran-kebenaran ini terakumulasi atau menumpuk di dalam hidup kita dalam kuota yang cukup, maka akan mengangkat kita untuk terlepas dari ikatan dunia. Hal ini menjadikan kita sebagai orang Kristen yang sejati. 

Kita akan bisa memahami dan menghayati yang dikatakan dalam Kolose 3:1, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.” Hal apa yang harus kita cari? Di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Satu kata: kemuliaan. Kemuliaan bersama Tuhan Yesus. Mau tidak mau kita harus melihat Roma 8:17, “kalau kita anak, kita adalah ahli waris;” maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji itu bersama-sama dengan Yesus Kristus. “Yaitu kalau kita menderita bersama-sama dengan Dia. Supaya kita dimuliakan bersama-sama dengan Dia.” Kebangkitan Kristus, itu kebangkitan kita, asal kita mengalami kematian. Tidak ada kebangkitan tanpa kematian, yaitu kematian daging; kematian dari dosa, kematian dari percintaan dunia. Itu inti Kristen, itu kebenaran yang murni. 

Status khusus seseorang bukan karena dia pendeta, melainkan karena tinggal di dalam Tuhan, yaitu orang yang benar-benar hidup dalam kesucian dan meninggalkan percintaan dunia.