Sikap Hati

Dalam Perjanjian Lama kita menjumpai pola ibadah bangsa Israel yang memang diperintahkan oleh Tuhan, yaitu memberikan korban bakaran domba yang disembelih atau binatang yang disembelih, dipotong-potong lalu dibakar. Dibakar sampai habis. Lemak- lemaknya terbakar dan itu berbau harum. Demikianlah menurut yang dipahami oleh orang-orang Yahudi; dan dengan cara demikian mereka menyenangkan hati Allah. Apakah benar Allah suka dengan bau daging yang dibakar? Firman Tuhan mengatakan bahwa korban yang sesungguhnya bukanlah daging; korban bakaran sebenarnya tidak membuat hati Tuhan senang, Walaupun seluruh margasatwa itu disembelih.

Tetapi di balik korban itu ada sesuatu yang Allah mau dinaikkan. Jadi mereka membakar domba, binatang, lalu mereka memahami dengan cara itu, mereka menciptakan keharuman dari bau daging dan itu menyenangkan hati Allah. Karena begitulah orang-orang primitif pada zaman tersebut memahami penyembahan kepada allahnya atau dewa-dewanya. Bagi bangsa Israel, korban sembelihan itu sekaligus menjadi tindakan profetik akan adanya korban yang sesungguhnya, yaitu Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.

Sebenarnya di balik binatang atau hewan yang disembelih dan dibakar, ada sikap hati, yang itu diperhatikan oleh Allah. Di sini kita baru mendapat jawaban mengapa korban Kain ditolak dan korban Habel diterima. Berpuluh-puluh tahun kita mungkin salah mengerti kisah ini. Tetapi kita tidak pernah tahu mengapa korban Kain ditolak dan korban Habel diterima. Dulu guru Sekolah Minggu berceritabahwa korban Kain ditolak sebab buah dan hasil tanamannya busuk-busuk. Dan secara teologis, korban Kain tidak berbau darah, korban Habel berbau darah. Bisa saja, karena ketika Adam dan Hawa di Taman Eden untuk menutup ketelanjangan mereka, binatang yang dipotong bukan dedaunan, bukan tanaman; tetapi binatang yang dikorbankan dan kulitnya untuk pakaian manusia yang telanjang yang telah berbuat dosa. Itu jawaban secara teologis, masuk akal juga, benar juga karena mirip tindakan profetik.

Tetapi kalau kemudian dipersoalkan Kain memang seorang petani, Habel peternak; ya tentu hasil yang diberikan itulah yang dipersembahkan. Kemudian di zaman bangsa Israel ternyata persepuluhan juga memberikan sepersepuluh hasil agraria mereka. Jadi di mana letak persoalannya? Ini, sudah tidak salah lagi. Apa? Sikap hati. Kalau Saudara bertanya, bagaimana kita tahu bahwa sikap hati Kain buruk? Kita lihat kisah kemudian. Kain punya rasa iri, dendam, benci, panas. Tuhan tegur, “kenapa kamu panas hati Kain?” Begitu Kejadian 4. Dosa sudah mengintip di depan pintu lho? Ini bahaya. Jadi memang Kain ini target dari kuasa gelap, karena memiliki sikap yang ramah, yang welcome terhadap kuasa gelap. Beda dengan Habel, ketika mati, darahnya pun masih berteriak, bisa berseru kepada Allah. Habel buka pintu untuk Tuhan. Kain tidak membuka pintu untuk Tuhan. Dan kita lihat Kain begitu jahat.

Jadi, waktu bangsa Israel membakar korban, sebenarnya yang harum itu di hadapan Allah bukan daging binatang yang dibakar, tapi sikap hatinya. Saudara bisa melihat bagaimana korban yang sesungguhnya, yaitu Yesus, yang mengatakan kepada Bapa, “Bukan kehendak-Ku yang jadi, kehendak-Mulah yang jadi.” Ini sikap hati. “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Ini sikap hati. “Di dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Ini sikap hati.

Demikian pula dengan korban kita. Korban kita adalah sikap hati. Waktu kita menyembah Tuhan, haleluya, haleluya, pastikan bahwa kita melakukannya dengan hati mengasihi Dia. Dan Allah menikmati keharuman cinta kita itu. Dan kemudian keharuman cinta kita itu dibuktikan dalam tindakan, dalam perbuatan setiap hari, dalam kesucian hidup. Tidak melukai orang, menolong sesama, murah hati, tidak memusuhi manusia, mengasihi musuh. Itu sikap hati. Itu adalah korban yang sesungguhnya.

Teriring salam dan doa,

Dr. Erastus Sabdono

Korban kita adalah sikap hati yang dibuktikan dengan perbuatan setiap hari dalam kesucian hidup