Sertifikat Berkenan

Saudaraku,

Saya mengajak saudara-saudara untuk membakar hati, menggelorakan jiwa, menyalakan semangat, untuk menjadi anak-anak Allah yang berkenan kepada Bapa; dan benar-banar memiliki pengakuan dari Bapa, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Kalau di dalam Filipi 2:5-7 dikatakan bahwa kita harus serupa dengan Yesus, itu sebenarnya secara tidak langsung mau mengatakan agar kita juga bisa mencapai keadaan di mana Bapa di surga berkata, “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Dan tentu saja kalau kita bisa menjadi serupa dengan Yesus, pengakuan tersebut bisa kita capai atau kita miliki. Namun kita harus berambisi kuat untuk menjadi seorang yang benar-benar mendapat pengakuan dari Allah tersebut.

Kita berkerinduan memiliki serifikat itu. Mari kita memperkarakannya, apakah aku sudah mendapat sertifikat tersebut? Adalah baik jika kita sadar bahwa kita belum yakin. Jangan merasa kita ini sudah memiliki keadaan yang berkenan lalu kita tidak berjuang, padahal kita belum berkeadaan berkenan kepada Allah. Jadi yang pertama harus kita lakukan adalah menyalakan kerinduan itu. Kalau tidak ada kerinduan yang kuat, niat yang kuat, hasrat yang kuat, tidak mungkin orang mencapainya. Yang memiliki hasrat saja belum tentu mencapainya, apalagi yang tidak memiliki hasrat. Nah, pertanyaannya, mengapa banyak orang tidak memiliki Hasrat atau ambisi untuk mendapatkan sertifikat berkenan tersebut?

Siapa pun, Tuhan masih beri kesempatan. Banyak Saudara yang salah jalan. Semua orang bisa salah; hamil di luar nikah, membunuh orang, korupsi dan lain sebagainya. Apa pun dosa yang kita lakukan, Tuhan ampuni. Tentu dengan satu tekad, tidak berbuat dosa lagi. Banyak di antara kita adalah orang-orang yang sebenarnya tidak layak di hadapan Allah. Tapi jangan lupa, Tuhan Yesus telah mati di kayu salib, menebus dosa kita dan memberi kita kesempatan untuk datang kepada Bapa. Bukan hanya menerima pengampunan dosa, melainkan juga pembenaran (dianggap benar). Setelah dianggap benar, kita harus belajar untuk bisa berkeadaan benar-benar-benar. Dan ini perjuangan yang berat. Tapi kalau sudah sampai pada titik di mana orang berjuang, maka yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah.

Kenapa gairah untuk menjadi seorang yang mendapat sertifikat “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan” kurang menyala bahkan tidak menyala? Karena kita telah membagi hasrat kita kepada banyak fokus, kepada banyak hal, ini masalahnya. Kalau kita benar-benar mau menjadi seorang yang mendapat pengakuan dari Allah Bapa, kita harus berani membuang semua hasrat-hasrat, keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Firman Tuhan mengatakan, apa pun yang kita lakukan, semua untuk kemuliaan Allah, artinya semua keinginan kita harus ditujukan bagi kesenangan hati Tuhan, kepentingan Kerajaan Allah, sesuai dengan pikiran, perasaan dan kehendak Allah. Maka kita harus berani membunuh semua keinginan, hasrat, ambisi, yang tidak sesuai kehendak Allah. Dan itu sebuah keniscayaan. Itu bisa, karena Firman Tuhan mengatakan kita harus serupa dengan Yesus. Jadi,

Yang pertama, buang semua keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Artinya kita harus hidup suci. Ayo, kita hidup suci. Kesucian itu kita bangun secara natural, lewat setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan dan perbuatan-perbuatan kita.

Yang kedua, jangan bermental blok. Banyak orang yang sudah berpikir bahwa ia tidak mungkin bisa berkenan kepada Allah, tidak mungkin sempurna, tidak mungkin serupa dengan Yesus. Ini menghina Firman Tuhan. Sejatinya, ia melecehkan Firman Tuhan dan menganggap Allah itu bohong. Karena Tuhan yang berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa.” Firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Kenapa kita berkata tidak mungkin? Siapa yang Saudara dengar? Saudara, ikuti siapa? Ayo, kita menyalakan gelora, semangat, gairah, komitmen untuk bisa mendapatkan pengakuan dari Allah, “Ini anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.”

Jadi kita sekarang bisa mengerti mengapa ada janji Firman Allah bahwa kita bisa dimuliakan bersama Tuhan Yesus. Karena ada kemungkinan orang percaya mendapat pengakuan yang sama seperti yang Bapa berikan kepada Tuhan Yesus, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” Ayo, kita berlomba untuk ini.

Tuhan Yesus memberkati

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Kalau kita benar-benar mau menjadi seorang yang mendapat sertifikat berkenan dari Allah Bapa, maka kita harus berani membuang semua keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.