Serius Mencari Wajah Tuhan

Kalau manusia bisa mempersiapkan diri menghadapi hari esok—misalnya untuk masalah kesehatan, mobil, pabrik yang bisa terbakar, rumah yang terkena musibah—dengan ikut apa yang kita kenal dengan sebutan “asuransi,” mengapa kita tidak lebih mempersiapkan diri dalam kepastian bahwa kalau segala sesuatu terjadi—apakah itu perang, gempa, huru-hara, atau kematian—kita sudah memiliki kepastian bahwa kita aman di dalam tangan Tuhan? Banyak orang tidak serius mencari wajah Tuhan karena merasa hal itu tidak terlalu dibutuhkan atau merasa tidak membutuhkan. Tidak ada persoalan berat, kebutuhan yang mendesak, serta ancaman, maka tidak merasa membutuhkan; tidak sangat membutuhkan Tuhan. Sampai pada titik merasa tidak membutuhkan Tuhan sama sekali. Mengapa negara-negara maju yang makmur seperti Eropa, gereja-gereja sepi, atau kalau boleh diistilahkan “bangkrut?” Karena mereka merasa tidak memerlukan Tuhan. Masyarakatnya begitu makmur, kehidupan bisa berjalan dengan baik. 

Kalau orang merasa tidak membutuhkan Tuhan, tidak mencari Tuhan, maka ia tidak punya alasan untuk berdoa dan membaca Alkitab. Tidak sungguh-sungguh mau membuktikan bahwa Allah itu ada, dan tidak memperkarakan apakah dirinya itu dinilai oleh Tuhan baik atau tidak. Pada umumnya, bagi orang-orang di Timur, kalau sudah memiliki masalah berat, persoalan rumit, ancaman dan ada kebutuhan yang mendesak, baru mencari Tuhan. Sebenarnya pada dasarnya dia tidak mencari Tuhan. Sebenarnya yang dicari adalah berkat-Nya. Ini adalah orang-orang yang mau memanfaatkan Tuhan, mengeksploitasi, menjadikan Tuhan itu hanya alat atau sarana semata; hal ini melukai hati-Nya. Mestinya pada waktu kita tidak memiliki kebutuhan yang mendesak, persoalan-persoalan berat, atau dalam ancaman, kita sudah mencari Dia. 

Ketika orang sedang ada dalam persoalan berat, ada ancaman atau kebutuhan yang mendesak lalu baru ia mencari Tuhan, pasti ia tidak mempersoalkan tentang karakter—apakah dirinya dinilai Tuhan baik atau tidak—dan orangseperti ini tidak mungkin menghormati Tuhan secara patut. Sejatinya, ketika kita tidak punya masalah berat, persoalan, dalam ancaman, atau kebutuhan yang mendesak, kita tetap mencari wajah Tuhan; “Aku memerlukan Kau, Tuhan. Bukan karena aku ada masalah. Bukan karena ada ancaman atau ada dalam bahaya. Bukan karena ada kebutuhan yang mendesak. Kuperlu Kau, Tuhan. Kau yang kuperlukan. Sebab aku menghadapi kuasa kegelapan dan dunia yang sedang bergoncang ini di masa penampian.” Kita harus mencari wajah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mempersoalkan kekekalan, karena inilah yang Tuhan kehendaki. 

Orang yang tidak biasa mencari wajah Tuhan, nanti kalau tiba-tiba datang masalah, dia tidak akan mudah menemukan wajah Tuhan, dan mungkin tidak akan pernah menemukan. Tiba-tiba perang datang, baru berdoa cari Tuhan. Doa tersebut tentu saja tidak akan bisa menembus. Dia tidak akan menemukan Tuhan. Yang ada hanyalah rasa ketakutan dan kekhawatiran. Mestinya kita mencari Tuhan dari jauh-jauh hari, supaya bukan saja memiliki iman yang bisa menyentuh hadirat Allah, melainkan juga kita sudah di pihak Tuhan, dan Tuhan di pihak kita. Jangan menunggu sampai ada masalah berat, baru kita mencari Tuhan. Ingat, kita hanya menunggu hari sisa. Keadaan dunia tidak bisa terprediksi. Oleh sebab itu, dibutuhkan ketekunan. Dan pada waktu kita bertekun di dalam Tuhan, memang seakan-akan kita dengan mereka tidak ada bedanya. Seakan-akan tidak ada faedahnya, tidak ada dampaknya. Di situ kita belajar untuk setia.

Allah kita yang Mahabesar pantas dipercayai walau tidak ada tanda-tanda kehadiran-Nya. Bahkan ketika kita dalam masalah, dan tidak ada tanda-tanda pertolongan-Nya, atau bukti-bukti kehadiran-Nya. Namun, Dia pantas untuk kita percayai. Inilah saatnya kita melatih diri, sebelum kondisi itu memburuk. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Masakan kita menunggu perang terjadi, harga barang-barang menjadi naik, kemudian orang memperebutkan barang di supermarket, ada yang mencuri, jadi begal karena merasa kepepet, lalu kita baru minta perlindungan Tuhan, “lindungi aku, Tuhan.” Itu sudah terlambat. Kita tidak akan sanggup memercayai Allah yang hidup dan hadir. Kita harus seekstrem-ekstremnya mencari Tuhan. Satu-satunya dunia dan kesibukan kita itu hanya Tuhan. Sejak jauh-jauh hari, sebelum ada masalah-masalah, kita meminta Tuhan melindungi kita. 

Meminta perlindungan-Nya dari apa? Dari segala guncangan yang bisa membuat kita berkhianat kepada Tuhan. Memang, tidak ada masalah ekonomi atau masalah kesehatan atau ancaman tertentu, atau kebutuhan yang mendesak. Tapi ini masalah kekekalan. “Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai guncangan, tentu serangan kuasa kegelapan.” Dan ketika bencana fisik datang, apakah itu perang, atau huru-hara, kita bisa berkata, “kecil.” Ini kita anggap kecil, sebab masalah besar adalah ketika orang terbuang dari hadirat Allah. Orang menganggap ini bukan besar, jadi ketika tidak ada masalah ekonomi, masalah kesehatan, ancaman, atau kebutuhan-kebutuhan mendesak, orang tidak mencari Tuhan. 

Orang yang tidak biasa mencari wajah Tuhan, tidak akan mudah menemukan wajah Tuhan, dan mungkin tidak akan pernah menemukan.