Satu-satunya Kebahagiaan

Tidaklah keliru, kalau kita mempunyai barang branded, arloji bagus, mobil bagus, rumah bagus, kalau itu memang bagian kita yang Allah berikan. Tetapi kalau hal-hal tersebut ternyata menjadi kebahagiaan dan kesenangan hidup kita, seakan-akan hal-hal itu bisa menjadi kebahagiaan yang kita miliki di samping Allah, itu sangat berbahaya. Kalau kita memandang sesuatu sebagai dapat membahagiakan hidup di samping Allah, berarti kita memiliki allah lain di hadapan Allah Yahweh.  Kita harus menjadikan Allah Bapa kita sebagai satu-satunya kebahagiaan kita. Dan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang lain yang dapat membahagiakan kita, selain Dia. Dan itu harus terus di-update, diperbaharui setiap hari. Bangun tidur kita menghadap Tuhan, kita mengambil keputusan bahwa hanya Dia satu-satunya tujuan hidup kita, hanya Dia satu-satunya yang berharga. Kita bekerja, kita melakukan segala sesuatu, kita lakukan untuk Tuhan. Mau tidur kita diam, kita merenung di pembaringan, bahwa kita memilih Tuhan, bahwa Tuhan satu-satunya yang berharga dalam hidup ini. Tidak ada yang lebih berharga selain Dia, dan memang hanya Dia yang berharga dalam hidup ini. 

Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang berharga dalam hidup ini, maka kita akan dihormati Tuhan suatu saat nanti di hadapan Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Juga di depan para malaikat, kita dihormati sebab kita menghormati Allah secara patut. Inilah yang menjadi gairah hidup kita, dan inilah yang menyemangati hidup kita. Hal ini membuat kita bergerak dan melakukan segala sesuatu. Jadi segala sesuatu yang kita lakukan dimotori atau digerakkan oleh cinta dan hormat kita kepada Tuhan. Kesempatan ini tidak akan terulang, sekali untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu kita harus memanfaatkannya.

Kita akan menyesal, kalau kita tidak menggunakan atau tidak memanfaatkan kesempatan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, kita harus melepaskan semua keterikatan dengan dosa dan keinginan memiliki apa yang manusia pada umumnya miliki. Ini adalah harga yang harus kita bayar untuk memiliki Allah, yaitu menjadikan Dia sebagai satu-satunya yang kita miliki dan yang berharga dalam hidup ini. Kebenaran ini harus menjadi inspirasi dalam hidup kita. Kita harus mulai belajar dari saat ini sebelum tidak kesempatan lagi dan jangan sampai kita mengeraskana hati (Ibr. 3:15). 

Di tengah-tengah bullying orang, fitnah yang ditujukan kepada kita, kita tidak boleh merespons salah. Sebaliknya, hal itu justru memicu kita untuk hidup benar. Kita harus berterima kasih kepada orang-orang yang mem-bully dan memfitnah kita, mereka yang memandang kita sesat, bahkan menilai kita sebagai orang yang benar-benar buruk dan jahat. Bullying tersebut bisa berasal dari orang jauh, tetapi juga dari orang yang dekat dengan kita. Bullying tersebut bisa membuat kita merasa kehilangan kebahagiaan, sebab kita merasa direndahkan dan dihina. Tetapi justru melalui hal tersebut Tuhan mengoreksi diri kita, sekaligus kita belajar untuk tidak membangun kebahagiaan dari nilai diri di mata manusia. Justru melalui bullying tersebut kita berjuang untuk bisa menjadi orang yang berkenan di hadapan Allah, yaitu menjadi untuk menjadi anak kesukaan-Nya. 

Dulu kita adalah orang yang mempunyai kesombongan atau harga diri, berusaha untuk dianggap sebagai orang yang lebih baik dari orang lain, lebih mulia, lebih rohani, dan lain sebagainya, Hal itu menjadi kebahagiaan kita. Tetapi dengan bullying tersebut akhirnya kita dapat diubah hanya untuk mencari kemuliaan di hadapan Tuhan, mencari nilai diri di hadapan Allah, mencari pujian di hadapan Tuhan bukan di hadapan manusia. Hal ini mengkondisi kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Inilah harapan terbesar kita, yaitu bagaimana kita bisa menjadikan Tuhan itu harta kita. Kita harus sungguh-sungguh ngotot, bagaimana saya bisa menjumpai dan mengalami Allah seperti Musa, bagaimana saya bisa menjumpai Allah seperti Abraham, bagaimana saya bisa bersekutu dengan Bapa seperti Tuhan Yesus. Akhirnya kita bisa mengerti bagaimana menghayati mulia-Nya Allah sehingga kita bisa menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan kita satu-satunya dan tidak mencari pujian bagi diri kita sendiri.

Kita harus berjuang untuk hal tersebut dan rela kehilangan apa pun demi bisa menjadikan Tuhan sebagi satu-satunya kebahagiaan kita. Orang yang sombong, melakukan segala sesuatu hanya untuk pencitraan diri, tebar pesona, mencari nilai diri di mata manusia—walau sekecil apa pun—adalah orang yang tidak dapat menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan. Mereka adalah orang-orang yang tidak bisa menyembah Allah karena memang tidak dapat menghormati Allah Bapa. Mereka tidak diperkenan masuk Kerajaann Surga. Itulah hidup tanpa pengharapan. Betapa malangnya manusia yang hidup tanpa pengharapan tersebut