Satu-satunya Dunia

Dari menit pertama kita bangun pagi, kita harus punya kewaspadaan. Kita harus mulai berjaga-jaga, memetakan hari. Jangan berbuat sesuatu yang salah. Ketika kita berbuat sesuatu yang salah, maka menit dan jam berikutnya bisa rusak, sebab dosa sekecil apa pun dapat merusak bangunan hidup kita. Kita tidak boleh membiarkan satu dosa, sekecil apa pun. Begitu dia masuk, harus “dibunuh.” Artinya, kalau kita punya kesalahan, kita minta ampun dan serius untuk tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut. Dari apa yang kita ucapkan salah, sadari dan mohon ampun untuk itu. Jangan berpikir “nanti masih ada waktu buat bebenah.” Ini yang membuat rusak hidup kekristenan kita. Kita harus sungguh nekat. Bersyukur dengan banyak kejadian dan proses hidup yang kita jalani, kita dapat menemukan dan mengalami Elohim Yahweh; menemukan Allah yang menciptakan langit dan bumi. Terus terang, dulu kita memanggil Allah Bapa, biasa saja. Tapi, sekarang ada kegentaran. Memandang Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, dengan lebih hormat.

Kita tidak boleh membuka hidup kita untuk siapa pun dan apa pun. Sebab satu-satunya dunia yang kita miliki adalah Tuhan. Adapun pekerjaan kita sehari-hari harus tetap kita kerjakan, karena pasti tidak akan mengganggu pencarian kita akan Dia. Tapi Tuhan menjadi pusat hidup kita. Kita melakukan semua ini untuk kesenangan Tuhan. Kalau ibu-ibu di rumah mengurus anak, menyapu, masak, mempersiapkan makan untuk suami atau kirim untuk orangtua, semua untuk Tuhan. Tapi ingat, pertobatan kita sama sekali tidak boleh ditunda. Jauh-jauh hari, dari menit pertama, jam pertama. Di sini baru kita bisa menghayati apa yang dimaksud oleh Paulus, “aku sudah mati, hidupku tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Namun, hampir tidak ada orang bisa menjalani hidup seperti ini. Tapi, kita bisa karena Alkitab berkata begitu. Hanya, jangan ditunda, karena kita tidak tahu kapan kita meninggal. Terutama kita yang merasa diri kuat, kaya, terhormat, jangan main-main dengan kematian. Andaikan sekarang ini masih ada kesempatan, jangan-jangan ini adalah kesempatan terakhir. Kesempatan peringatan yang Tuhan berikan. Pandanglah bahwa tidak ada lagi waktu kita setengah-setengah.

Bukan sesuatu yang bernilai menjadi ketua sinode yang banyak anggota gereja lokalnya, menjadi ketua STT, atau pendeta besar. Sudah tidak perlu kita menjadi gusar karena hal-hal semacam itu. Kita semua bebenah diri, itu pun juga untuk mematikan kedagingan kita, tidak mudah. Kita harus berubah dalam Tuhan begitu rupa hari ini, dan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk berdiam di Kerajaan Surga. 

Tapi yang menjadi masalah hari ini adalah bagaimana membuka pikiran orang-orang untuk melihat kehidupan yang akan datang, yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus? “Supaya di mana Aku ada, kamu ada.” Banyak orang tidak sanggup lagi, karena dunia mengondisikan mereka untuk memperhatikan apa yang kelihatan saja. Sementara Paulus berkata, “kami memperhatikan apa yang tidak kelihatan.” Teruslah bergerak menuju langit baru bumi baru. Untuk itu, berubahlah sesuci-sucinya dan sekudus-kudusnya. Jangan terikat dunia, dan fokuslah untuk menyenangkan hati Bapa di surga. Pahami apa yang bisa menyenangkan hati Bapa. Kenalilah proyek pekerjaan yang Bapa percayakan kepada kita masing-masing untuk kita penuhi. Dengan cara demikian, sejatinya kita telah mempersiapkan diri ke surga.

Masalahnya, ada banyak orang Kristen yang merasa kalau sudah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pengaminan akali, yakin saja bahwa Yesus telah mati di kayu salib menebus dosa-dosanya, dia sudah punya tiket masuk surga. Ini penyesatan. Dosa-dosa kita memang diampuni, yaitu perbuatan-perbuatan kita yang salah. Dulu, sekarang, atau nanti kemungkinan melakukan kesalahan. Tetapi kodrat dosa di dalam diri kita, itu yang harus kita selesaikan. Yang di masa penampian ini, yang jahat bertambah jahat, tetapi yang kudus bertambah kudus. Artinya, mengondisikan orang yang sungguh-sungguh kodrat dosanya dikikis, dan digerus. Jadi, kita tidak boleh rileks. Ibarat menaiki kendaraan, tidak boleh 60 km/jam. Kita harus di atas 100 km. Ibarat berlari, kita tidak bisa berlari 5 km/jam. Kita harus bisa lari 20-30 km/jam. Kalau kita tidak serius dengan Tuhan, kita akan ditelan oleh dunia. Manusia di sekitar kita bisa menjadi alat kuasa gelap menghancurkan kita. Oleh karenanya, kita harus terus melekat dengan Tuhan.

Kita tidak boleh membuka hari hidup kita untuk siapa pun dan apa pun, sebab satu-satunya dunia yang kita miliki adalah Tuhan.