Saldo Dosa

Pada umumnya atau sebagian besar manusia setiap hari atau dalam beberapa hari tertentu melihat saldo uangnya. Apalagi bagi orang-orang bisnis yang memang fokusnya adalah dagang, dimana mereka harus mengatur cash flow, maka mereka selalu memeriksa saldo uangnya. Pada umumnya begitu. Kalau saldonya tambah besar, hati lebih senang, wajah lebih ceria. Kalau saldonya rendah atau makin kurang, hati susah, kurang senang, wajah bisa kusut. Pasti jarang orang yang serius melihat saldo hidupnya bertambah atau berkurang, terkait dengan perkenanan di hadapan Bapa, nilai diri kita di mata Tuhan. Mazmur 139:23-24 mengingatkan, “Selidikilah aku ya Allah, kenalilah aku.” Artinya, “Tuhan beritahu aku berapa tabunganku?” Juga di Matius 6:19-20 Yesus mengatakan, “Kumpulkan harta di surga.” Nah, sudah berapa banyak investasi kita di hadapan Allah? Berapa besar saldo kita? Mari, mulai hari ini kita memperhatikan tabungan harta kekal kita di hadapan Allah.

Apakah masih ada dosa di sana? Masih ada kesalahan yang kita perbuat, atau tindakan kita, keadaan kita, yang tidak membuat Tuhan nyaman? Kalau benar-benar mengasihi Tuhan, maka kita akan selalu memperhatikan saldo hidup kita; masih ada saldo dosa atau tidak? Kalau terkait dengan uang, orang mau saldonya sebesar mungkin. Tapi kalau bicara mengenai kesucian, saldo dosa kita makin berkurang, makin habis. Harus selalu dikuras habis, dan jika muncul lagi, dikuras lagi, muncul lagi, dihabisi lagi. Sehingga kita memiliki irama hidup yang benar-benar berkenan di hadapan Allah. Jangan anggap ini sesuatu yang mudah. Ini bukan sesuatu yang mudah. Ini lebih sukar dari karier, mencari nafkah, atau studi. Jangan anggap remeh dan tidak didahulukan. 

Karenanya, di Matius 6:33 firman Tuhan mengatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.” Kita punya banyak masalah dan kebutuhan. Tetapi lebih dari semua masalah yang dihadapi, dan kebutuhan yang kita rasa mendesak, kebutuhan kita yang selalu mendesak adalah selalu menghabisi saldo dosa yang masih tersisa di dalam hidup kita. Makanya betapa berartinya saat-saat kita berdoa bersama atau doa pribadi masing-masing di mana kita mengoreksi diri. Hal ini akan membawa kita kepada satu pengalaman, yaitu menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan. Kalau kita menyisakan saldo dosa, kebiasaan buruk atau kesenangan—sesuatu yang kita anggap bisa menyenangkan dan membahagiakan—berarti kita ada dalam bahaya. Kita tidak mau meleset lagi. Kita benar-benar rindu agar memiliki harta di surga yang banyak. Kita mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. 

Tuhan Yesus berkata, “Jangan bekerja untuk roti yang dapat binasa, tapi bekerjalah untuk roti yang tak dapat binasa.” Apa itu roti yang tak dapat binasa? Yaitu karakter kesempurnaan kita di hadapan Allah. Dan sejujurnya, karena kita sudah merekam banyak keinginan yang dulu kita nikmati di dalam daging dan jiwa, maka hal itu sering menuntut muncul di dalam pikiran kita, menuntut untuk dipuaskan. Selera kita sudah rusak selama belasan bahkan puluhan tahun, sehingga kita tidak sungguh-sungguh haus dan lapar akan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Maka bagi yang masih muda, jangan membangun kebahagiaan dengan apa pun dan siapa pun. Tetapi bangun kebahagiaanmu hanya di dalam Tuhan. Jangan melakukan sesuatu yang salah, yang kau pandang akan membahagiakan, menyenangkan hatimu, sebab itu malah membuat engkau merekam banyak hal yang tidak patut dan membangun menciptakan selera jiwa yang salah. 

Dan sebagai orang-orang yang sudah berumur, kita harus benar-benar kerja keras untuk menguras saldo dosa, saldo kesalahan dan kebiasaan yang Tuhan tidak kehendaki dan saldo percintaan dunia yang masih bersisa karena melekat di dalam diri kita. Perjuangan kita menjadi lebih berat dibanding dengan orang muda yang belum dicemari oleh banyak hal. Untuk itu, mari kita mempersempit dunia kita. Tidak melakukan apa yang tidak perlu—studi, karier, bekerja, berkeluarga—semua merupakan tanggung jawab kita yang harus dipenuhi. Hal inilah yang akan menyelamatkan kita. Kita bersyukur memiliki komunitas yang baik. Kita berterima kasih Tuhan memberi seorang pelayan, perawat, gembala kecil yang terus menangkap momentum yang Tuhan berikan dan tidak menyia-nyiakan momentum-momentum itu, sehingga semua kita terbawa. Jadi, jangan menganggap kalau kita bisa tiap hari ke gereja atau berdoa, itu adalah sesuatu yang berlebihan. Kalau melihat kekekalan, kita akan tahu, melakukan lebih dari ini pun kita lakukan. Seiring dengan perjalanan waktu, kiranya ada pertumbuhan yang benar-benar kita alami. 

Kebutuhan kita yang selalu mendesak adalah selalu menghabisi saldo dosa yang masih tersisa di dalam hidup kita.