Rumah Kedua

Tidak mudah menjadikan surga sebagai rumah dan perhentian kita satu-satunya. Dulu kita menganggap surga menjadi rumah kedua, itu cukup, dan itu sudah menunjukkan kesetiaan kita kepada Tuhan. Tetapi ternyata, orang Kristen yang memiliki dua rumah adalah orang Kristen yang tidak memiliki kesetiaan yang sejati. Sebab kalau kita masih memiliki dua rumah, itu berarti masih ada percintaan dunia atau berarti masih ada keberhalaan. Kedengarannya ini berlebihan, tetapi inilah yang benar. Orang-orang yang masih mendua hati adalah orang-orang yang tidak setia. Ketika Tuhan Yesus berkata, “di mana ada hartamu, di situ hatimu berada,” jelas sekali pesan di balik kalimat Matius 6:21 ini. Kita hanya boleh memiliki satu rumah, kita hanya boleh memiliki satu harta, kita hanya boleh memiliki satu tempat di mana kita berlabuh dan menjadi tempat perhentian. Sudah jelas, kalau seseorang memandang surga sebagai rumah kedua, berarti ia tidak menghargai Rumah Bapa secara patut. Sebab, masih ada rumah lain. Sama seperti kalau di dunia ini seseorang punya dua rumah, maka ia tidak terlalu berharap menikmati rumah yang kedua, atau tidak terlalu berharap menikmati rumah yang satu. Di ayat lain Tuhan berfirman, “kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” itu berarti hati kita tidak boleh terbagi, walaupun Tuhan mendapat bagian 95%. Yang dikehendaki Tuhan adalah 100%, atau tidak usah sama sekali.

Orang-orang yang menjadikan surga sebagai rumah kedua berarti juga memiliki rumah di bumi. Orang seperti ini pasti tidak memiliki kesetiaan yang benar sesuai standar Allah. Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki rumah di bumi atas nama kita. Tetapi maksudnya adalah kita jangan merasa feel at home; jangan merasa betah di bumi. Kita harus menaruh seluruh pengharapan, sukacita, kebahagiaan kita di Rumah Bapa. Orang yang menganggap surga sebagai rumah kedua, pasti tidak menghargai Rumah Bapa secara benar. Padahal, demi Rumah Bapa atau demi surga yang dapat dimiliki manusia, Allah Bapa mengutus Putra-Nya. Ia memberikan Putra Tunggal-Nya mati di kayu salib, demi rumah itu. Jadi, harga rumah itu adalah pengurbanan Tuhan Yesus. Orang yang tidak menghargai Rumah Bapa secara patut, orang yang pasti juga tidak menghargai Bapa sebagai Pemilik Rumah itu. Jangan berpikir kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan berubah. Kita harus selesaikan sedini mungkin.

Ada masalah besar yang tidak disadari banyak orang. Padahal, hal itu sebenarnya masalah yang sangat mengerikan. Yaitu ketika kita meremehkan Allah, dan Allah sering tidak bereaksi seperti yang kita harapkan. Kita berharap, Tuhan menegur dengan lembut, atau kadang-kadang lebih keras. Tetapi, Tuhan diam. Dan kalau seseorang tetap bersikeras meremehkan Allah, Allah membiarkan. Kalau melihat kisah hidup Yudas yang memang suka mencuri, Tuhan tidak menegur terus terang dengan keras. Tuhan mengingatkan dengan firman-Nya, “jangan terikat oleh mamon,” tapi tidak terus terang menunjuk, “Yudas, kamu mencuri uang!” Tuhan tidak menegurnya di depan umum supaya Yudas malu dan bertobat.

Apakah Yesus dengan ma’rifat-Nya tidak tahu ketika Yudas mengadakan perjanjian dengan imam-imam kepala untuk menjual Yesus? Yesus mengingatkannya pada waktu perjamuan terakhir, “Orang yang mencelupkan tangannya di pinggan bersama dengan Aku, dialah orangnya,” dan itu Yudas. Tetapi murid-murid-Nya pun masih tidak menyadari hal itu. Lalu Yesus berkata, “Lakukan apa yang kamu harus lakukan.” Murid-murid-Nya pun pikir Yesus menyuruh Yudas membeli sesuatu, karena dia bendahara. Ini perkara besar dan mengerikan. Coba kita bercermin pada pengalaman hidup kita masing-masing, bagaimana Tuhan sering seperti membiarkan kita dalam kebodohan dan kesalahan, sampai kita benar-benar menyadarinya dan bertobat.

Kalau kita percaya rumah kita di surga dan kita bukan berasal dari dunia ini, hati kita tidak mungkin mendua. Orang Kristen yang tidak percaya ia berasal dari atas—rumahnya di surga, dunia ini bukan rumahnya—pasti memandang surga sebagai rumah kedua. Dulu kita pikir memang begitu adanya. Sedangkan dalam Lukas 16:12 dikatakan bahwa harta kita sendiri itu di sana. Jadi, surga bukan rumah kedua. Surga adalah rumah kita satu-satunya. Rumah kita di bumi adalah persinggahan. Bumi bukan tanah air kita. Orang Kristen yang merasa punya dua rumah, orang Kristen yang pasti tidak memiliki kesetiaan yang sejati. Tidak memiliki kesetiaan standar anak Allah. Hatinya terbagi dengan dunia. Pasti masih ada percintaan dunia atau hidup di dalam keberhalaan. Inilah orang-orang yang tidak setia. Orang-orang seperti ini pasti kurang atau tidak menghargai Rumah Bapa. Maka, tidak merindukannya. Orang yang tidak menghargai Rumah Bapa, pasti tidak mencintai Bapa. Mari kita berubah. Jangan berpikir selalu masih ada kesempatan. Kita tidak tahu kapan kesempatan hidup ini berakhir.

Surga bukan rumah kedua—surga adalah rumah kita satu-satunya rumah kita di bumi adalah persinggahan.