Proses yang Tidak Boleh Ditunda

Menanggulangi potensi dosa di dalam diri kita bukan sesuatu yang mudah. Harus ada perjuangan yang dilakukan terus-menerus melalui setiap kejadian yang Allah izinkan terjadi atau berlangsung dalam hidup kita. Allah mendesain banyak kejadian di dalam hidup kita untuk mengubah karakter kita, yang klimaksnya kita dapat mengalami perubahan kodrat; dari kodrat dosa kepada kodrat ilahi. Sarana yang Allah pakai adalah kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup kita dalam perjalanan waktu yang kita jalani. Melalui kejadian-kejadian hidup yang kita alami atau kita jalani, Allah membidik kelemahan-kelemahan kita, dan mengubah hidup kita untuk menjadi manusia sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Allah sebagai Arsitek jiwa mengerti bagaimana mendesain keadaan untuk membidik kelemahan-kelemahan kita sampai pada perubahan permanen, yaitu mengenakan kodrat ilahi. Oleh sebab itu, kita harus mensyukuri setiap kejadian yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita.

Kita harus memahami bagaimana proses seseorang mengalami kematian kodrat dosa demi tumbuhnya kodrat ilahi dalam hidupnya. Kalau misalnya seseorang memiliki kelemahan, yaitu temperamental atau mudah marah, Allah justru mempertemukan dirinya dengan berbagai persoalan yang membuat dirinya marah. Ketika di suatu kesempatan dia mendapatkan keadaan dimana dia merasa harus marah sehingga tergoda untuk memukul orang, harus banting barang, dan lain sebagainya, pada waktu itulah dia harus belajar untuk mengendalikan dirinya. Kejadian semacam itu bisa terjadi berulang-ulang. 

Kejadian yang berulang-ulang tersebut adalah kesempatan dimana ia harus dapat mengendalikan dirinya. Sebagai hasilnya, monster kemarahannya dapat dimatikan. Tetapi kalau dia berkata, “Kali ini saja kupukul dia, besok aku tidak mau pukul orang lagi,” biasanya kenyataannya, ia sangat mungkin akan memukul orang lagi. Dalam hal ini, seharusnya dia tidak menunda untuk tidak memukul orang. Pada mulanya ketika ia menahan diri untuk tidak memukul, rasanya masih berat. Kalau di kesempatan lain menahan diri dan berhasil tidak memukul orang, akan terasa lebih ringan atau lebih bisa tidak memukul orang, sampai akhirnya dengan mudah tidak memukul orang atau otomatis tidak akan pernah memukul orang lagi. Inilah prosesnya.

Kalau misalnya seseorang memiliki kelemahan, yaitu perzinaan atau percabulan, Allah justru mempertemukan dirinya dengan berbagai kesempatan untuk berbuat zina. Ketika di suatu kesempatan dia mendapatkan keadaan dimana dia bisa berzina, pada waktu itulah dia harus belajar untuk menguasai diri untuk tidak berzina. Keadaan semacam itu bisa terjadi berulang-ulang, dimana ia harus menguasai diri untuk tidak berzina. Dengan cara demikian, ia memadamkan “monster zinanya.” Tetapi kalau dia berkata, “Kali ini saja aku berzina, besok aku tidak berzina lagi,” kenyataannya, ia sangat mungkin akan berzina lagi. Dalam hal ini, seharusnya dia tidak menunda untuk tidak berzina. Pada awal-awal menahan diri tidak berzina, rasanya masih berat. Kalau di kesempatan lain dapat menguasai diri tidak berzina, akan terasa lebih bisa untuk tidak berzina, sampai akhirnya dengan mudah tidak berzina atau otomatis tidak akan pernah pernah berzina lagi. Sampai-sampai ia tidak akan bisa berzina walaupun ada kesempatan.

Inilah yang disebut sebagai sekolah kehidupan atau proses pemuridan yang dipimpin dan dikawal langsung oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya yang mengasihi Allah. Perubahan kodrat tidak akan pernah terjadi tanpa proses seperti yang dikemukakan di atas. Allah membutuhkan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa untuk mendidik anak-anak-Nya agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:9-10). Dari hal ini, terjadi proses pendidikan yang Allah lakukan sendiri terhadap anak-anak-Nya. Allah Bapa menyertai untuk mendidik, yang sama dengan Tuhan Yesus menyertai orang percaya untuk memuridkan orang percaya agar bisa berkeadaan seperti diri-Nya.

Proses seperti di atas ini tidak boleh ditunda. Penundaan-penundaan itu membahayakan. Sering penundaan dipandang bukan sesuatu yang berbahaya, padahal kalau dibiarkan atau diteruskan, bisa berakibat fatal yaitu kebinasaan. Sebab pada akhirnya, sikap seperti itu akan membuat orang tidak mengambil kesempatan untuk berubah. Ketika seseorang menunda apa yang seharusnya dilakukan—seperti belajar menahan diri untuk tidak marah atau mengekspresikan kemarahannya dengan memukul—maka karakternya tidak kunjung terbentuk menjadi lemah lembut seperti Yesus. Seiring berjalannya waktu, karakternya makin memburuk sampai tidak bisa berubah lagi menjadi baik. Orang-orang seperti ini pada akhirnya tidak dapat melakukan kehendak Allah. Inilah yang mendatangkan kebinasaan pada diri seseorang. Oleh sebab itu, jangan kita berpikir penundaan itu sesuatu yang bisa dianggap tidak berisiko. Penundaan dapat mendatangkan risiko tinggi, sampai pada kebinasaan.