Pilihan yang Dilakukan

Hidup ini adalah pilihan, semua kita sudah tahu. Barangkali, malah sering mengucapkan. Mengerti dan menerima bahwa hidup adalah pilihan, bukanlah berarti kita pasti sudah memilih apa yang benar. Hendaknya kita tidak merasa kalau kita sudah mengerti dan mengakui hidup ini adalah pilihan, lalu otomatis kita sudah ada di dalam pilihan yang benar. Hal ini sama dengan orang yang merasa diri sudah benar-benar rohani karena hanya sudah mengerti dan mengucapkan hal-hal rohani, padahal apa yang diucapkan, dikhotbahkan, dan diajarkan bukan berarti sudah dilakukan. Misalnya, seorang pengkhotbah mengerti suatu kebenaran dan mengkhotbahkan kebenaran itu, belum tentu ia sudah mengenakan kebenaran itu secara konkret di dalam hidupnya. Sering sekali kita tidak sadar bahwa apa yang kita mengerti dan kita terima, itu sebenarnya belum kita “bunyikan” di dalam hidup kita; belum kita terjemahkan di dalam perilaku. 

Hidup ini adalah pilihan. Salah satu pilihan kita, dan harus dikatakan atau tepatnya, satu-satunya pilihan kita itu Tuhan. Itu jelas. Kita juga pasti sudah setuju dan mengakui hal ini. Tetapi, bagaimana kita menerapkan kehidupan yang memilih Tuhan? Memilih Tuhan tidak cukup hanya dengan menjadi orang Kristen; kita berdoa, kita melakukan ibadah secara liturgi, bahkan sekalipun setiap pagi berdoa, itu bukan berarti sudah memilih Tuhan. Kita disebut “memilih Tuhan” kalau kita benar-benar menjalani jalan-Nya. Dan jalan yang Tuhan tawarkan kepada kita, itu jalan Yesus. Jalan hidup yang dijalani Anak Tunggal Bapa, yang memang itu standar model Anak Manusia yang Bapa kehendaki. Itulah keselamatan, yaitu proses atau usaha Allah mengembalikan manusia ke rancangan-Nya yang semula. 

Kalau kita memilih Tuhan, berarti kita memilih jalan Tuhan, yaitu mengikuti jejak Yesus. Tidak bisa tidak, kita harus menyangkal diri. Banyak ayat firman Tuhan di Perjanjian Baru yang menulis mengenai hal menyangkal diri. Kata “menyangkal diri” bisa kita ganti dengan kalimat yang maknanya tidak berubah, yaitu “mengkhianati diri.” Kita harus berani kejam terhadap diri kita sendiri; kita harus berani mengkhianati diri kita sendiri. Menyangkal diri artinya memang bersedia untuk tidak menuruti keinginan diri sendiri, tepatnya membuang semua naluri kemanusiaan kita yang telah rusak oleh karena dosa, dan kita mengikuti naluriah rohani atau naluriah ilahi supaya kita menjadi manusia Allah (man of God). Dalam hal ini, Yesuslah model kita. Sehingga, kita bisa berkata bahwa kita sudah mati hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:1-3). Dan kita bisa berkata, “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20).

Mengkhianati diri sendiri salah satu prosesnya adalah kita bersedia untuk tidak mengingini apa yang kita ingini, dan bersedia mengingini apa yang tidak kita ingini. Hidup suci itu tidak kita ingini; daging kita tidak suka, jiwa kita tidak suka. Misalnya, kita disakiti orang. Jiwa kita maunya membalas, tetapi kita harus mengingini tidak membalas. Juga keinginan-keinginan daging kita harus dimatikan. Kita mengingini apa yang tidak kita ingini; kita tidak mengingini apa yang kita ingini. Sebab, kita mengingini kehendak Allah, kesucian Allah, yang itu sulit, itu berat, itu menyakitkan. Tetapi, kita harus berani menyangkal diri, mengkhianati diri kita sendiri. Ini jalan Tuhan. 

Kita yang serius benar-benar mengkhianati diri, yaitu untuk hidup dalam kekudusan, mengalami jalan yang sulit dan berat, bahkan jatuh bangun sampai kita bisa marah terhadap diri sendiri. Tetapi, proses itu akhirnya bisa membuat kita “menindas, membungkam,” dan mematikan semua keinginan dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Baik itu keinginan dalam jiwa, maupun dalam daging kita. Hidup adalah memilih. Ini berat, tetapi kalau kita mengasihi Tuhan, kita berkata, “Tuhan, aku mau mengingini apa yang tidak kuingini. Aku bersedia tidak mengingini apa yang kuingini, sebab aku hanya mau mengingini apa yang Kau ingini, bukan yang kuingini. Aku hanya mau mengingini apa yang Engkau ingini, ya, Allah.” Dan hal ini merupakan proses sampai kita melakukan apa yang Bapa kehendaki dengan tepat atau sempurna. Kita semua belum sempurna, tetapi kita harus tetap mau berjuang. Kita mau “gila-gilaan,” kita mau sangat ekstrem untuk kekudusan, kesucian, yang mana itu nyaris tidak pernah terwujud dalam hidup manusia kecuali Yesus. Tetapi, kita harus bisa, dan kita pasti bisa! Karena Bapa yang berjanji, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:17). Jadi, harus berani “del” dengan manusia lama kita. “Del” artinya putus hubungan; menyenangkan Bapa saja.