Pikiran Duniawi

Pelajaran mahal yang harus selalu diingat, bahwa pada zaman gereja mula-mula, aniaya hebat yang dialami orang percaya merupakan cara Allah untuk memisahkan orang percaya dari kehidupan duniawi agar tidak tercemari oleh unsur-unsur kekafiran. Melalui keadaan tersebut, orang percaya dipaksa meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Dengan demikian, aniaya pada zaman itu merupakan berkat Tuhan bagi gereja-Nya agar gereja menjadi perawan suci yang tidak bercacat dan tidak bercela bagi Kristus, sang Mempelai Pria. Paulus mengatakan bahwa penderitaan adalah karunia. Sekarang, gereja tidak lagi mengalami aniaya seperti pada zaman gereja mula-mula. Ini bukan berarti orang percaya bisa hidup lebih tenang. Harus diwaspadai, justru kondisi ini berbahaya bagi iman Kristen. Dengan kondisi ini, orang percaya berkesempatan dan memiliki ruangan yang luas untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya yang disediakan dunia. Bila hal ini dilakukan, maka orang percaya tertawan oleh percintaan dunia.

Dengan keadaan nyaman, banyak orang percaya sekarang ini memiliki gaya hidup wajar yang tidak berbeda dengan anak-anak dunia. Terbuka bagi orang Kristen, untuk ada dalam kenyamanan hidup seperti manusia pada umumnya, sehingga menjadi sama dengan dunia ini. Padahal, firman Allah mengatakan agar orang percaya tidak boleh sama dengan dunia ini (Ibr. 12:2). Banyak orang Kristen yang tidak lagi membangun pengharapan dunia yang akan datang, tetapi meletakkan pengharapannya untuk menikmati dunia hari ini. Mestinya orang percaya tidak meletakkan pengharapan di bumi ini. Inilah unsur kekafiran yang merusak kemurnian iman Kristen. Ini adalah pola berpikir dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil yang diajarkan oleh Yesus. Ini berarti persahabatan dengan dunia. Persahabatan dengan dunia berarti permusuhan terhadap Allah. 

Doa Tuhan Yesus agar orang percaya dikuduskan oleh kebenaran, maksudnya adalah agar semua unsur kekafiran dapat dilenyapkan dalam kehidupan orang percaya (Yoh. 17:17). Dalam hal ini, pengudusan bukan hanya oleh darah Tuhan Yesus, dimana kesalahan yang dilakukan orang percaya diampuni dan dihapus. Penyucian juga menunjuk kepada pembaharuan cara berpikir. Ini berarti mengubah gaya hidup secara total. Tanpa disadari, banyak orang Kristen yang masih menyimpan unsur-unsur kekafiran dalam hidup mereka. Hal ini sangat mengganggu pertumbuhan rohani untuk mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Mestinya, perjalanan hidup sebagai orang Kristen adalah perjalanan untuk dibersihkan dari unsur kekafiran, dan selanjutnya sepenuhnya mengenakan unsur ilahi sebagai pangeran-pangeran Kerajaan Surga yang memiliki keagungan seperti Bapa. 

Banyak orang Kristen membedakan unsur kekafiran dengan keberagamaan hanya pada kegiatan seremonial. Mereka memandang bahwa yang tidak melakukan ibadah seperti pergi ke gereja, berarti kafir. Orang Kristen seperti ini memahami pengertian kekafiran seperti agama lain. Sehingga, banyak orang Kristen merasa sudah menjadi orang percaya, dan merasa bukan orang kafir. Padahal, faktanya unsur-unsur kekafiran masih melekat di dalam hidup mereka. Mereka belum hidup sesuai dengan standar kesucian sesuai dengan kehendak Allah. Orang percaya harus mengalami hidup baru. Hidup baru dalam Tuhan pada dasarnya adalah perubahan pola berpikir. Standar hidup baru yang benar adalah perubahan menjadi serupa dengan Yesus, ini artinya tidak ada unsur kekafirman sama sekali dalam kehidupan orang percaya. Seseorang tidak bisa dikatakan sudah lahir baru, sebelum menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya. Hasil dari kelahiran baru ini menciptakan manusia yang berbeda dengan dunia, menjadi manusia yang berkodrat ilahi.

Kalau ada orang-orang yang Kristen yang masih menyukai dunia ini, mereka adalah orang-orang yang masih terikat dengan unsur-unsur kekafiran atau duniawi. Mereka belum memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Mereka tidak berani “mati” bagi dunia, dan hidup bagi Allah. Ini berarti mereka tidak bersedia mengikut Yesus. Orang yang tidak berani mematikan manusia lamanya, pasti akrab dengan pikiran-pikiran duniawi yang berunsur kekafiran. Hal ini seperti Petrus yang mencegah Yesus pergi ke Yerusalem untuk menyelesaikan tugas penyelamatan. Petrus memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia, bukan yang dipikirkan oleh Allah (Mat. 16:2). Itu adalah pikiran Iblis. Unsur duniawi atau kekafiran sama dengan pikiran Iblis. Tidak mudah membuang pikiran duniawi atau unsur kekafiran, sebab pikiran tersebut telah dibangun selama bertahun-tahun dari cara berpikir masyarakat yang ada di sekitar. Mereka telah mengakuinya sebagai kebenaran yang mencengkeram jiwa, memasuki kesadaran dan seluruh syaraf-syaraf mereka; hal ini tidak mudah digantikan dengan yang lain. Oleh karena pengaruh dunia yang sudah kuat merasuki mereka, maka tidak mudah menggusur dan menggantikannya dengan kebenaran Injil yang murni.