PERSIAPAN DIRI

Saudaraku,

Tidak sedikit orang yang memiliki sikap bijaksana dengan mempersiapkan diri menghadapi sesuatu yang bisa terjadi dan dapat dialami di waktu mendatang. Sesuatu yang bisa terjadi tersebut antara lain: kecelakaan pada waktu mengendarai kendaraan, rumah terbakar, tubuh sakit, barang hilang tercuri atau dirampok, anak-anak membutuhkan uang sekolah dan lain sebagainya. Karena hal-hal tersebut, maka mereka mengasuransikan diri, harta, dan lain sebagainya kepada agen-agen asuransi yang bisa menjamin dengan memberi bantuan dan topangan bila hal-hal tersebut terjadi. Dengan mengasuransikan diri, harta dan lain sebagainya, seseorang merasa aman, jiwanya lebih tenang. Asuransi dipandang seperti tangan besar yang kuat yang bisa menopang hidup ini.

Kalau demi hal-hal yang masih bersifat kemungkinan (spekulatif) seseorang bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya, mengapa untuk hal yang pasti akan dialami ia tidak mempersiapkan diri lebih serius? Yang dimaksud dengan hal yang pasti akan terjadi itu adalah kematian. Tidak seorang pun bisa menghindarkan diri dari realitas ini. Pada kenyataannya, setiap manusia sedang berbaris antre menunggu giliran dipanggil masuk peti mati. Karenanya, seharusnya setiap orang selalu mengingat kalimat memento mori, artinya ingatlah hari kematian. Namun sayangnya, banyak orang melupakan realitas ini, seakan-akan realitas tersebut tidak akan mereka alami. Hal ini menunjukkan suksesnya penyesatan oleh kuasa kegelapan.

Kuasa kegelapan berusaha membuat manusia melupakan realitas kematian. Berbagai filosofi hidup yang salah disuntikkan ke dalam pikiran melalui berbagai media, agar manusia tidak memedulikan realitas kematian tersebut. Demikianlah kenyataannya, banyak orang yang menjalani hari hidupnya tanpa kesadaran bahwa hari hidupnya bisa berakhir setiap saat. Mereka bersikap seakan-akan memiliki kehidupan yang tidak ada ujungnya. Seakan-akan kematian bukan bagian hidup mereka. Betapa malangnya, kenyataan yang bisa dilihat dengan jelas adalah begitu banyak orang yang hanyut dan tenggelam dengan berbagai kegiatan, kesibukan, keinginan, masalah dan lain sebagainya. Sebenarnya, mereka sedang dibawa ke pembantaian abadi atau dipersiapkan menjadi sampah kekal.

Menyadari hal ini, maka setiap orang percaya seharusnya sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi realitas kematian yang sudah pasti akan dihadapi atau dijalani. Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah bisa diprediksi kapan terjadi, maka persiapannya harus mulai sejak dini, yaitu sekarang ini. Persiapan itu harus selalu dilakukan dan selalu sekarang. Untuk ini, pertobatan harus dilakukan sekarang, di setiap hari dan setiap saat ketika menyadari perbuatan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sejatinya, inilah yang dimaksud dengan berjaga-jaga dan berdoa tiada berkeputusan. Orang percaya harus terus membangun hubungan dengan Tuhan, sehingga tidak ada waktu dalam keadaan tidak memiliki hubungan yang baik atau harmoni dengan Tuhan. Hubungan yang harmoni dengan Tuhan adalah kebutuhan yang lebih penting dari makan dan minum atau kebutuhan apa pun dalam hidup ini, bahkan mestinya dipandang sebagai kebutuhan satu-satunya.

Banyak hal yang semestinya bisa diabaikan dan dianggap tidak penting, dan apa pun seharusnya bisa disingkirkan, tetapi persiapan menyongsong kematian atau menghadap Bapa tidak boleh ditunda. Hal ini harus dianggap sebagai selalu penting dan selalu darurat. Orang percaya harus selalu berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir, berarti besok tidak ada kesempatan lagi. Jadi setiap kali disebut “hari ini,” berarti kesempatan yang sangat berharga untuk membenahi diri. Bila seseorang membiasakan diri memiliki sikap hidup seperti ini, maka barulah memahami dan dapat melakukan apa yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya (Mat. 6:33). Pernyataan Tuhan Yesus dalam Matius 6:33 berkenaan dengan panggilan Tuhan atas orang percaya untuk hanya mengumpulkan harta di surga (Mat. 6:19-20), agar hati nuraninya menjadi hati nurani yang benar, yaitu memiliki pengertian-pengertian dari sudut pandang Tuhan (Mat. 6:22-23).

Hati nurani adalah harta yang tidak pernah bisa diambil oleh siapa pun. Harta dunia bisa dirusak oleh ngengat dan karat, pencuri bisa mencuri serta membongkarnya, tetapi harta berupa hati nurani yang sesuai dengan kehendak Allah inilah yang tidak bisa diambil oleh siapa pun. Jadi, mengumpulkan harta di surga sama dengan membangun hati nurani yang sesuai dengan pikiran dan perasaan Kristus. Bapa di surga menghendaki agar setiap orang percaya memiliki pikiran dan perasaan Kristus yang sama dengan memiliki nurani Ilahi. Dengan hati nurani yang benar seseorang mampu tidak mengabdi kepada dua tuan. Dengan demikian orang percaya hanya mengabdi kepada Tuhan saja (Mat. 6:24).

Teriring salam dan doa,

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Karena kematian adalah realitas yang tidak pernah bisa diprediksi kapan terjadi, maka persiapannya harus mulai sejak dini, yaitu sekarang ini.