Persekutuan yang Ideal Sejak di Bumi Ini

Pada dasarnya, orang percaya dipanggil untuk memiliki kesenangan hanya ditujukan kepada Tuhan. Kalau seseorang memiliki suatu kesenangan dimana Tuhan tidak ikut menikmati kesenangan tersebut, berarti ia keluar dari hadirat Allah. Jadi, masalahnya bukan terletak pada apa yang kita senangi, tetapi apakah Allah ikut menikmati kesenangan tersebut atau tidak. Untuk hal ini, seseorang harus memperkarakan segala sesuatu yang diingini atau dihasrati, dan yang dilakukannya. Dimulai dari masalah jodoh, apakah Tuhan menghendaki kita menikah atau tidak. Kalau kita menikah, menikah dengan siapa. Dalam hal ini, bukan hanya selera kita, tetapi juga selera Tuhan. Pertanyaannya, kalau itu selera Tuhan, apakah sesuai dengan selera kita? Jawabnya adalah tentu saja “ya.” Sebab, Tuhan pasti tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang paling baik untuk kita, bagi kemuliaan nama Tuhan.

Satu hal yang tidak dipahami oleh banyak orang, bahwa sesungguhnya Tuhan mau berjalan dalam kebersamaan dengan kita. Tuhan tidak melarang kita menikmati sesuatu atau memiliki suatu kesenangan, yaitu selama sesuatu yang kita nikmati atau senangi tersebut juga dinikmati oleh Tuhan. Allah adalah Allah yang transenden, artinya melampaui akal. Tetapi, Allah juga hadir dalam kehidupan kita secara imanen, artinya Allah dapat kita pahami dengan pikiran kita sehingga kita mengerti apa yang Allah kehendaki di dalam hidup kita ini. Itulah sebabnya, Ia disebut “Imanuel,” artinya Allah beserta dengan kita. Allah beserta dengan kita dalam segala hal yang kita alami dalam hidup ini. Dalam hal ini, Allah dapat merasakan apa yang kita rasakan. Itulah sebabnya, Ia tahu apa yang kita butuhkan, apa yang menyenangkan kita, dan yang tidak menyenangkan kita. Itulah sebabnya pula, langit baru dan bumi baru nanti didesain Allah sebagai suatu tempat domisili yang membahagiakan bagi manusia.

Segala hal yang kita perkarakan kepada Tuhan, pasti mendapat bimbingan atau tuntunan Tuhan, sehingga segala sesuatu yang kita hasrati atau ingini, keputusan dan pilihan kita, serta segala tindakan kita, pasti mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan. Inilah kehidupan orang percaya yang normal, dimana seseorang hidup di dalam tawanan Allah oleh Roh Kudus. Kalau hal ini dibiasakan, maka seseorang akan memiliki irama hidup yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, seseorang dipimpin oleh Roh. Inilah kehidupan yang benar-benar berkualitas sesuai dengan apa yang Allah kehendaki untuk dikenakan dan dimiliki oleh setiap orang percaya.

Dengan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa orang percaya harus memiliki persekutuan yang ideal dengan Allah. Allah tinggal di dalam kita, dan kita tinggal di dalam Allah. Tidak ada satu saat dimana kita tidak ada dalam persekutuan dengan Allah. Di mana pun dan kapan pun, kita selalu ada dalam persekutuan dengan Allah secara ideal. Dalam persekutuan tersebut, kita menikmati Allah dan Allah menikmati kita. Selanjutnya, kita dan Allah menikmati bersama kehidupan dalam segala hal yang kita jalani. Oleh sebab itu, kita tidak boleh membayangkan Allah hanya ada di tempat yang Mahatinggi, di terang yang tidak terhampiri, tetapi Allah juga hadir dalam kehidupan kita, masuk dalam waktu kita dan dalam segala pergumulan yang kita hadapi. Dengan pola kehidupan seperti ini, kita menjadi manusia yang tidak terpisahkan dari Allah.

Persekutuan yang ideal seperti yang dijelaskan di atas adalah persiapan untuk hidup di dalam kekekalan di langit baru bumi baru dalam Rumah Bapa atau di dalam Kerajaan Surga. Orang-orang yang hidup di dalam persekutuan dengan Allah secara ideal hari ini akan tetap terus hidup dalam persekutuan dengan Allah di kekekalan nanti. Tetapi orang-orang yang tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah sejak di bumi ini, ia tidak akan pernah hidup dalam persekutuan dengan Allah di kekekalan. Surga, khususnya Rumah Bapa, bukanlah tempat di mana seseorang mendadak mengasihi Allah, mendadak menghormati Allah, atau mendadak merindukan Kerajaan Surga. Surga, khususnya Rumah Bapa, adalah tempat orang-orang yang telah memiliki persekutuan dengan Allah jauh-jauh hari sejak hidup di bumi.

Dengan demikian, persiapan untuk menjadi umat yang layak bagi Allah, yang diperkenankan menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah adalah mereka yang yang sejak di bumi sudah sungguh-sungguh hidup sesuai dengan standar Anak Allah, yaitu yang hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar. Allah sudah mengamati jauh-jauh hari sejak manusia hidup di bumi, siapa yang serius untuk hidup dalam persekutuan dengan Allah dan yang tidak. Dalam hal ini, Allah tidak bisa ditipu. Allah menguji setiap batin manusia sejak manusia itu mengenakan tubuh daging yang fana di bumi ini. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menunda apa yang seharusnya kita kerjakan sekarang, yaitu membangun persekutuan yang ideal dengan Allah. Penundaan bisa berakhir pada kegagalan total.