Perjuangan yang Paling Berat

Kalau kita percaya bahwa Allah itu hidup, Allah itu realitas atau nyata, maka seharusnya kita benar-benar mengalami Dia. Dan untuk benar-benar mengalami Allah yang hidup membutuhkan perjuangan yang lebih berat dari segala perjuangan. Jangan karena kita berpikir bahwa Allah itu Mahabaik, Mahamurah, lalu kita menganggap Allah itu murahan. Hanya orang yang sungguh-sungguh menghormati Allah yang akan mengalami Allah. Allah lebih dari sekadar memiliki harga diri; Dia Mahamulia, Dia tidak perlu menghargai diri-Nya sendiri atau dihargai siapa pun karena Allah sangat berharga dan mulia. Jangan menyamakan Allah dengan manusia yang membutuhkan harga diri atau penghargaan. Tetapi kita bersyukur kalau kita menjadi makhluk yang bisa menghargai Allah, menghormati Allah secara patut. Oleh sebab itu, kita harus mengerti bahwa mengalami Allah adalah perjuangan yang paling berat. Harga pertaruhannya adalah segenap hidup kita. Artinya, kita harus menjadikan Dia sebagai satu-satunya yang berharga. Bukan hanya yang terindah, bukan hanya terbaik, bukan hanya termulia; tetapi satu-satunya yang indah, satu-satunya yang mulia, satu-satunya yang berharga.

Pertaruhan untuk ini adalah segenap hidup. Artinya, kita tidak boleh menganggap ada yang berharga, selain Dia. Jadi, kalau ada sesuatu menjadi berharga, apa pun, itu karena Dia; bagi kesenangan dan kemuliaan Allah. Sejujurnya, tidak mudah untuk memiliki pengalaman dengan Allah itu. Pola berpikir yang menyesatkan banyak orang hari ini adalah ketika mereka merasa dengan pengetahuan yang mereka miliki tentang Allah berarti mereka sudah masuk wilayah Allah dan sudah mengalami Allah. Ini yang membuat rusak para teolog dan pendeta. Sebaliknya, tidak jarang jemaat yang tidak berteologi tinggi tetapi memiliki sikap yang benar bisa mengalami Tuhan, aman selamat sampai surga. Faktanya memang begitu. Di Alkitab, ada orang-orang yang sudah berprestasi dalam pelayanan mengusir setan, mengadakan banyak mukjizat, namun ditolak oleh Allah (Mat. 7:21-23).

Siapa pun kita, jangan main-main dengan Tuhan. Pertaruhkan segenap hidup kita tanpa batas bagi Dia. Dia bukan hanya paling berharga, terindah dalam hidup; tetapi satu-satunya yang berharga dan indah. Pertaruhannya segenap hidup kita. Selain memandang Dia satu-satunya yang berharga, satu-satunya harta kita; kita juga harus berani untuk benar-benar bersih dari segala dosa dan kesalahan. Dari perkara kecil sampai perkara besar. Soal kecil saja, kita akan merasa salah, misalnya ketika kita berdusta. Jangan menaruh kebencian, dendam, atau kemarahan. Apa pun, jangan sampai kita masih memberi ruangan pada keinginan-keinginan di luar kehendak Bapa atau nafsu-nafsu yang menyakiti hati Bapa. Supaya kita dapat mengalami Tuhan. Allah yang Mahakudus dan bergaul dengan anak-anak-Nya yang hidup kudus. Mengalami Tuhan itu lebih dari mendapatkan warisan; berapa pun besarnya warisan itu. Bayangkan seandainya kita mendapatkan warisan dari seorang konglomerat sebanyak 2 triliun. Suatu jumlah yang sangat besar. Tetapi itu tidak ada artinya dibanding dengan mengalami Tuhan karena Tuhan adalah kekayaan kita satu-satunya. Maka, kita harus sampai pada satu pengalaman, yaitu merasa menjadi begitu kuat dan bahagia karena memiliki Allah yang hidup. Bagaimana merasa begitu bahagia dan kuat karena memiliki Allah yang hidup? Perasaan itu bisa meledak atau perasaan itu bisa muncul atau membara, khususnya pada waktu kita berdoa.

Penghayatan kita akan keberadaan Allah yang hidup akan membuat kita merasa bahagia dan kuat sekali menghadapi hari-hari esok. Dan penyembahan kita kepada Tuhan itu bisa meledak di atas, artinya bukan hanya meledak di dada kita tetapi kita bawa sampai di hadapan Bapa di surga. Ironis, banyak orang yang hanya emosi hanya tenggelam dengan perasaannya, tetapi tidak membawanya ke hadirat Allah. Hati kita akan pecah. Benar. Kalimat-kalimat penyembahan atau syair-syair penyembahan yang biasanya tidak membuat kita hancur hati. Namun jika dengan penghayatan yang benar, dapat membuat kita hancur hati. Bukan sesuatu yang dibuat-buat. Mungkin tangan kita tidak gemetar; tetapi jiwa kita gentar dan gemetar. Pengalaman ini mestinya kita miliki. Sehingga pengalaman ini menjadi pengalaman yang permanen. Bukan hanya pada waktu kita berdoa, tetapi juga sepanjang waktu hidup kita. Buah hidup kita akan menunjukkan bahwa kita benar-benar mengalami momentum menghayati keberadaan Allah, sampai merekah perasaan bahagia dan hati yang kuat. 

Masalahnya, kalau sampai orang tidak bisa menghayati keberadaan Allah, pada waktu di ujung maut, dia tidak mampu menjangkau Allah, pasti dalam kegentaran yang luar biasa. Sebaliknya, kita yang sudah mengalami Allah, maka ketika sekarat di ujung maut, kita tidak perlu berusaha untuk meyakini keberadaan Allah karena kita telah menghayati dan mengalami keberadaan Allah; dimana itu sudah menjadi irama yang permanen atau irama yang tetap di dalam hidup kita. Inilah kematian yang bermartabat. Jika kita semakin rindu pulang ke surga, kita juga akan semakin menghayati dunia bukan rumah kita. Jadi, teruslah mencari Tuhan. Miliki kedalaman pengalaman dengan Tuhan. Ibarat laut, kita menyelam makin dalam dan menemukan mutiara-mutiara yang mahal. Sebagaimana Tuhan berfirman, “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui; dan siapa yang mencari Aku, Aku akan membuat dia menemukan Aku.” Kita memiliki Allah yang hidup, Allah yang benar-benar nyata, Allah yang benar-benar bisa kita alami.

Mengalami Allah adalah perjuangan yang paling berat, karena harga pertaruhannya adalah segenap hidup kita.