Perhentian yang Sejati

Orang percaya yang benar pasti belajar untuk memiliki “hidup dalam kesederhanaan.” Hal ini bukan masalah uang atau harta atau penampilan, melainkan menyangkut sikap hati. Sebenarnya, yang membuat kita meleset dari kehendak dan rencana Allah, yaitu ketika kita membuat hidup kita menjadi complicated; menjadi ruwet, menjadi rumit. Oleh sebab itu, kita mau belajar memiliki kehidupan yang benar-benar sederhana. Bagaimana memiliki kehidupan yang sederhana itu? Ternyata tidak mudah. Namanya “sederhana” atau simple, tetapi tidak mudah. Kehidupan yang sederhana dimulai dari kesediaan tidak memiliki keinginan apa pun, jika itu bukan kehendak Allah. Bahkan dalam lingkungan pelayanan pekerjaan Tuhan atau gereja, hendaknya tidak melakukan suatu kegiatan rohani jika hal tersebut bukan kehendak Allah, atau belum waktunya dilakukan. 

Untuk memiliki kehidupan yang sederhana, kita harus bersedia kehilangan segala sesuatu, sehingga kita tidak memiliki target apa pun kecuali bagaimana menjadi manusia yang menyenangkan hati Allah saja. Kita tidak perlu dan memang tidak boleh mengingini karya-karya atau perbuatan-perbuatan yang tampak besar di mata manusia demi menonjolkan diri. Walaupun itu masih di dalam gerak pikiran, perasaan kita yang tersembunyi, itu sudah merupakan kemelesetan. Bagi kita, yang penting melakukan apa pun yang Allah inginkan, walaupun itu dipandang tidak berarti di mata manusia atau bahkan dipandang salah. Orang yang benar-benar sederhana adalah orang yang tidak memiliki kepentingan diri sendiri; semua adalah untuk kemuliaan Tuhan atau kepentingan Kerajaan Surga. 

Kalau seseorang tidak berpikir simple (sederhana), dapat terlihat ketika mempunyai banyak kegiatan—bahkan kegiatan pelayanan gereja—tetapi di dalamnya ada agenda pribadi. Orang yang tidak sederhana menjadi licik dan cerdik memanfaatkan kesempatan dan manusia lain, untuk kepentingannya sendiri. Biasanya, orang-orang seperti ini juga tidak tahu membalas kebaikan orang lain. Orang yang sederhana adalah orang yang tidak melakukan sesuatu di luar komando Tuhan. Orang-orang seperti ini tidak mempersoalkan apakah perbuatan baiknya dihargai oleh orang atau tidak. Bahkan, sekalipun dibalas dengan kejahatan, ia tidak marah. Ini berarti orang yang sederhana adalah orang yang tidak menuntut balas kebaikan yang dilakukan. Kalau ada yang mengecewakan dirinya, siapapun, bahkan oleh pasangan hidup, anak, atau keluarga dekat, ia tidak menganggapnya sebagai masalah besar. Ia sangat mengerti bagaimana membalas budi kebaikan orang lain. 

Tuhan Yesus berkata, “Datanglah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kamu kelegaan.” “Kelegaan” itu perhentian (anapauso). Yesus berkata akan memberi perhentian. Kemudian Yesus juga berkata, “Belajarlah pada-Ku, supaya kamu bisa hidup di dalam perhentian itu.” Yesus menjanjikan, jiwa orang yang datang kepada-Nya akan memperoleh ketenangan atau kelegaan atau perhentian. Dalam teks aslinya di dalam ayat tersebut, terdapat dua kata “anapauso.” Dalam terjemahan bahasa Indonesia, kata anapauso yang pertama diterjemahkan kelegaan, sedangkan kata anapauso yang kedua diterjemahkan “jiwamu mendapat ketenangan.” Ini bisa membangun pemikiran yang salah. Maksud pernyataan Yesus tersebut adalah agar kita memikul kuk dan belajar dari Yesus, sebab Yesus lemah lembut dan rendah hati, dan jiwa orang percaya akan mendapat anapauso atau perhentian kalau sudah belajar dari Tuhan Yesus. 

Letih lesu dan berbeban berat yang dimaksud oleh Yesus ini bukan disebabkan karena masalah-masalah hidup seperti yang dialami manusia pada umumnya; yaitu apakah masalah ekonomi, kesehatan, belum mendapat jodoh, belum mendapatkan anak, belum memiliki fasilitas rumah, dan lain sebagainya. Setiap orang pasti mempunyai masalah, dan selalu akan ada masalah yang membuat orang letih lesu secara umum. Jadi, sebenarnya penyebab dari letih lesu dan berbeban berat yang dimaksud Yesus bukan karena masalah-masalah umum, melainkan karena keinginan-keinginan di dalam diri kita. Ini yang membuat manusia letih lesu dan berbeban berat. Dalam hal ini, apakah manusia tidak boleh memiliki keinginan? Ya, tentu kita sebagai manusia harus memiliki keinginan, tetapi keinginan kita sebagai anak-anak Allah seharusnya hanyalah menyukakan hati Bapa di surga. Keinginan kita hanya diarahkan untuk melayani perasaan Bapa. 

Hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa atau menyenangkan hati Bapa, bukan sesuatu yang mudah. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Belajar pada-Ku supaya kamu bisa hidup di dalam perhentian itu.” Tuhan Yesus yang mengajarkann kita bisa memiliki perhentian tersebut. Orang yang menemukan perhentian tersebu,t prinsip hidupnya seperti prinsip hidup Yesus: “Makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Bapa)” (Yoh. 4:34). Bagi orang percaya, kita memiliki masalah seperti yang dihadapi Yesus, yaitu bagaimana melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan Bapa. Memang apa yang yang dikemukakan di sini kedengarannya tidak umum, tetapi inilah kebenaran standar yang dapat memerdekakan kita. Inilah perhentian sejati.