Percaya Dengan Tenang

Saudaraku,

Kita tidak bisa memiliki hubungan perjumpaan dengan Allah pada waktu kita berdoa kalau setiap hari kita tidak dalam persekutuan dengan Bapa. Setiap hari kita harus berjuang untuk benar-benar hidup bersih. Dan itu penting sekali, bahkan itu satu-satunya yang kita perlukan, hidup di dalam kesucian Allah. Dan jangan suasana hati kita ditentukan oleh dunia ini.Makan itu enak, jalan-jalan dengan keluarga itu enak, menikmati pemandangan alam itu enak, benar. Tapi kita tidak terpengaruh dunia ini. Punya fasilitas untuk bisa dinikmati guna melaksanakan tugas-tugas hidup kita itu enak, tapi kita tidak terikat. Ini tidak bisa mendadak. Kita tidak bisa memiliki hubungan yang harmoni waktu kita berdoa kalau setiap hari kita ini tidak hidup benar. Nanti Saudara bisa mengalami di mana ketika hidup Saudara bercacat, akan terasa sekali waktu kita sedang ada di hadapan Tuhan.

Kalau dulu mungkin kita tidak terlalu merasakan perbedaan antara ketika kita hidup di dalam kekudusan setiap hari di dalam suasana menikmati sukacita kebahagiaan di dalam Tuhan, atau pada waktu hari-hari kita tidak hidup di dalam kebenaran dan kesucian, namun itu terasa pada waktu kita berdoa. Tetapi terkait dengan hal ini, saya harus memberitahukan kepada Saudara bahwa Tuhan di dalam integritas-Nya yang sempurna—yang tidak bisa kita atur suka-suka kita—harus betul-betul kita hormati. Ketika kita belum dewasa suasana doa kita itu sangat ditentukan oleh suasana hati kita. Jadi sangat situasional. Kalau kita lagi ada masalah, kita terasa begitu dekat dengan Tuhan, hati kita mudah pecah, hati kita mudah terangkat. Tetapi pada waktu kita tidak memiliki masalah, rasanya doa kita hambar. Pada tahun-tahun awal Saudara berdoa, Saudara akan mengalami hal itu. Benar-benar mengalami seakan-akan Tuhan itu tidak ada. Di sini kita harus belajar menghormati Tuhan.

Kita percaya dengan rileks, dengan tenang, kita percaya Dia ada, Dia hidup. Jangan bergantung pada perasaanmu, jangan bergantung pada emosimu. Tetapi bergantunglah pada kepercayaan bahwa Allah itu setia. Saya sering merenungkan bagaimana orang-orang Kristen mula-mula teraniaya begitu hebat, dan di dalam penganiayaan yang begitu hebat tersebut, Tuhan seakan-akan tidak ada, seakan-akan Tuhan itu diam. Bayangkan… seakan-akan Tuhan tidak ada, tetapi mereka tetap percaya! Bagaimana mereka dianiaya oleh prajurit-prajurit Kaisar Roma, mereka benar-benar tidak berdaya, dan seakan-akan Allah diam. Tetapi mereka memercayai Allah itu ada dan hidup. Sama seperti dengan Abraham yang dipanggil keluar dari Urkasdim, sudah tidak ketemu itu negeri, tidak kunjung punya anak, berat, tapi percaya! Nah, di sini kita dilatih percaya.

Jadi pada waktu kita berdoa kita harus percaya Allah itu ada, jangan bergantung kepada perasaan Saudara. Dilatih itu! Kadang-kadang kalau orang-orang Kharismatik emosinya maju dulu. Dan itu bisa merusak malahan. Sehingga lain waktu kalau dia berdoa tidak pakai emosi, merasa Tuhan kurang hadir, atau kurang urapan. Mari kita belajar dan berlatih. Jadi pada waktu kita berdoa seakan-akan Tuhan tidak ada, jangan jadi gusar, emosi tidak meledak, jangan jadi gusar. Masak harus nunggu punya masalah, emosi meledak baru kita merasa Tuhan hadir, Tuhan mengurapi? Kan tidak begitu. Coba kita berlatih terus. Jadi pada waktu kita berdoa, kita belajar untuk merasakan hadirat Tuhan. Ayo kita berlatih. Saudara harus berlatih banyak.

Tuhan tidak mau memanjakan perasaan kita. Kalau kita berdoa lalu kita merasa Tuhan hadir, lalu ada perasaan merinding atau suasana tertentu, ada bau harum, merasa Tuhan hadir, tidak begitu! Tuhan tidak mau memanjakan perasaan kita! Karena Tuhan mau melatih iman kita! Nanti di situasi-situasi yang kritis atau krisis, baru Saudara sudah terbiasa memercayai Allah. Belajarlah memercayai Allah di situasi-situasi yang tidak krisis. Jadi kalau Saudara menyembah Tuhan, “kami sembah Engkau Tuhan Mahatinggi,” tapi tidak nangis rasanya seperti tidak pecah, jangan paksa nangis, rileks aja Saudara, biasa saja. Bertekunlah, jangan putus asa.

Teriring salam dan doa,

Dr. Erastus Sabdono

Percaya dengan tenang adalah ketika kita tidak bergantung pada perasaan atau pada emosi, tetapi kita bergantung pada kepercayaan bahwa Allah itu setia.