Penghiburan Bagi Allah

Seperti yang kita tahu bahwa Tuhan kita adalah Allah yang memiliki perasaan. Dan tentu saja Allah memiliki kesukaan yang bisa dinikmati oleh Dia. Pernahkah kita merenungkan dengan sungguh-sungguh kira-kira apa yang menjadi kesukaan Allah atau yang bisa membahagiakan hati-Nya? Apa yang dapat menyenangkan hati Dia? Ternyata yang benar-benar dapat menyukakan hati Allah adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Kita harus berani berkomitmen menjadi orang-orang yang menyukakan hati Allah, yang menghibur hati Allah. Di dalam kitab Kejadian 6:1-6, dikatakan bahwa manusia telah menjadi bejat, rusak. Dan firman Tuhan mengatakan, hal itu memilukan hati-Nya, karena kejahatan memuncak bertambah-tambah, hal itu benar-benar mendukakan hati Allah. Tetapi ada seorang yang bernama Nuh, yang menjauhi kejahatan, dan tentu memeroleh kasih karunia dari Allah. Nuh artinya anak penghiburan. Anak yang menghibur. Ternyata Nuh bukan hanya menjadi anak penghiburan yang menghibur orangtua dan masyarakat sekitarnya, justru Nuh menjadi anak penghiburan bagi Allah Bapa. 

Kenyataannya, Nuh tidak menjadi penghiburan bagi orang di sekitarnya yang menolak untuk masuk bahtera. Karena Nuh menjadi semacam “penyakit” di masyarakat. Menurut masyarakat, Nuh memiliki ide dan pikiran yang konyol yang menyatakan akan ada air bah yang melanda dunia. Dan itu membuat mereka menjadi terganggu dan menolak pemberitaan kebenaran dari Nuh (2Ptr. 2:5).  Sementara orang menikmati kehidupan secara langsam, sesuai dengan irama hidup pada waktu itu, Nuh aneh sendiri, dia membuat bahtera dan menyerukan akan adanya banjir yang akan memenuhi bumi. Paling tidak jagad waktu itu di sekitar hidup mereka yang akan menenggelamkan semua makhluk. Dan memang menurut penyelidikan telah pernah terjadi banjir yang meliputi dunia. Pemberitaan Nuh mengganggu ketenangan orang pada zamannya.

Apa yang disampaikan Nuh itu pasti menjadi ancaman bagi masyarakat di zaman itu. Mengganggu ketenangan, mengganggu ketentraman mereka. Dan apa yang dilakukan Nuh itu juga berseberangan, bertolak belakang dengan aktivitas hidup masyarakat yang berlangsung pada waktu itu. Inilah Nuh, menjadi penghiburan bagi Allah, kesukaan hati Allah, tapi menjadi “penyakit” dan ancaman bagi masyarakat. Dunia kita hari ini seperti zaman Nuh, yang dikatakan di Lukas 17, Tuhan Yesus yang mengatakan, “orang sibuk makan dan minum, menanam dan membangun, menjual dan membeli, kawin dan mengawinkan.”  Kita harus menjadi anak-anak penghiburan yang menjadi kesukaan hati Allah. 

Kita bisa menjadi orang-orang yang menyukakan hati Bapa. Bapa menyenangi hidup kita, langkah-langkah kita yang menghibur hati Allah. Betapa indahnya kalau menjadi seseorang yang diperhatikan oleh Allah, karena kita selalu membuat senyum-Nya. Di tengah-tengah kepedihan hati Allah melihat dunia yang jahat, dunia yang rusak ini, Allah Bapa masih bisa tersenyum melihat kita. Kita bisa menjadi penghiburan bagi Allah Bapa kita dan bagi Tuhan Yesus Kristus, yang hatinya pedih melihat kejahatan yang bertambah-tambah di dunia ini. Tentu saja hal ini kita lakukan bukan dengan terpaksa, tetapi kita lakukan dengan rela, dengan sukacita, karena inilah kehormatan kita.

Sekarang ini hampir-hampir tidak ditemukan manusia yang menjadi penghiburan bagi Allah.  Namun demkian, kita memilih menjadi manusia yang menjadi penghiburan bagi Allah. Memang pada awal-awal kita belajar menjadi anak kesukaan yang menghibur hati Allah itu berat sekali, karena bertentangan dengan keinginan daging kita dan keinginan jiwa kita yang sudah cemar oleh dosa. Tetapi kalau kita terus berjuang akan menjadikan hal itu irama yang tetap di dalam diri kita, yaitu menjadi kesukaan kita, kita dapat mencapainya. Kalau dulu kita menikmati dosa dan bagi kita dosa itu kesukaan, karena kita nikmati dalam daging dan jiwa kita yang keruh, sekarang kita mau menikmati kesucian, kita merasakan keharuman kesucian hidup di mana kita hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah; penurutan terhadap apa yang Allah ingini, apa yang Allah kehendaki dan itu menjadi penghiburan hati Allah. Kalau kita benar-benar menikmati kesucian, maka Allah bisa menikmati hidup kita. Itulah penghiburan bagi Allah.

Kita akan merasa sangat menyesal kalau menyia-nyiakan kesempatan ini. Kalau kita seandainya memiliki harta atau uang banyak, lalu untuk bisa membuat senyum hati Tuhan kita harus membayar sejumlah besar uang, kita akan dengan rela melepaskan berapa pun uang kita untuk itu. Seberapa pun besarnya harga yang harus kita bayar untuk menyenangkan hati Allah, kita bayar. Tetapi ternyata Allah tidak membutuhkan uang, untuk membuat senyum-Nya atau untuk menghibur hati Bapa. Tidak dibutuhkan pendidikan tinggi, tidak dituntut gelar pangkat atau penampilan, tetapi hati yang mengasihi Dia. Yang rela berbuat apa pun demi kesukaan hati Allah. Dan tentu saja orang yang mau hidup tidak bercacat tidak bercela, dan selalu menjadi berkat bagi sesamanya.