Pengenalan akan Allah

Mengingat betapa sentralnya peran Firman Tuhan dalam proses keselamatan (dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula), maka hal belajar kebenaran Firman Tuhan harus menjadi perjuangan dan usaha kita setiap hari. Menambah pengertian mengenai kebenaran Firman Tuhan haruslah dipandang mutlak harus dialami setiap hari. Seperti makanan yang kita konsumsi setiap hari, demikian pula dengan kebenaran Firman Tuhan. Setiap hari harus ada waktu yang disediakan untuk belajar kebenaran Firman Tuhan. Belajar Firman bisa melalui beberapa sarana, seperti Alkitab, literatur, CD khotbah, internet, radio, dan lain sebagainya. Oleh karena pengertian seseorang mengenai Firman menentukan proses menuju kesempurnaan, maka kita harus sangat berhati-hati dalam mengonsumsi sumber kebenaran Firman Tuhan yang kita pelajari. Banyak ajaran sesat yang tidak membawa kepada pertumbuhan rohani yang benar. Tidak semua orang yang berkhotbah menggunakan Alkitab berarti menyampaikan kebenaran. Dalam hal ini, harus benar-benar berhati-hati. 

Pengenalan akan Allah harus bertumbuh seiring dengan usia dan perjalanan waktu hidup kita. Menjadi kehendak Allah agar pengenalan kita akan Allah semakin bertumbuh (2Ptr. 3:18). Hendaknya, kita tidak membiarkan Iblis membebani kita dengan berbagai beban, yaitu ikatan kesenangan dunia dan dosa, sehingga kita tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Harus tetap diingat bahwa pengenalan akan Allah menentukan mutu kehidupan seseorang (Yoh. 17:3). Waktu hidup yang kita miliki sangat terbatas. Kita harus menggunakan waktu singkat ini untuk sungguh-sungguh mengenal Allah. Semakin mengenal Allah, maka semakin tinggi kualitas hidup seseorang, dan semakin dirinya diperkenan oleh Allah. Kita harus menjadikan hidup kita ini sebagai perburuan untuk mengenal Allah. Alkitab adalah sarananya. Pengenalan akan Allah ini tertulis dalam Alkitab.

Perubahan dunia kekafiran pada abad mula-mula oleh kekristenan adalah hasil pelayanan yang tak kenal lelah dalam kerja keras, bukan hanya karena pergumulan doa. Dalam hal ini, bukan berarti doa tidak berperan. Doa memiliki tempat sendiri, sementara tanggung jawab orang percaya juga memiliki tempatnya. Keduanya harus berjalan seiring. Dalam sejarah, dapat dijumpai bahwa setiap perubahan hampir selalu melalui mekanisme proses hasil perjuangan individu-individu, bukan sesuatu yang instan (mendadak). Suatu bangsa tidak akan bertobat dan mengalami pembaharuan kalau hanya didoakan, tetapi juga harus digarami oleh orang percaya yang bekerja keras memberi sepenuh hidupnya bagi Tuhan. Belajar Firman Tuhan tidak boleh hanya ketika ada waktu kosong, tetapi harus disediakan sebagai hal yang sangat penting, bahkan dipandang mutlak. Akibat dari kehidupan orang Kristen yang tidak bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan memang baru dirasakan setelah beberapa belas atau beberapa puluh tahun. Karena hal ini, banyak orang merasa bahwa sikap mengabaikan Firman Tuhan seakan-akan tidak berakibat fatal. Bila ada acara-acara dimana Firman Tuhan diajarkan, seperti kebaktian hari Minggu, persekutuan doa, pendalaman Alkitab, seminar-seminar rohani, seharusnya itu menjadi momentum berharga yang harus dihadiri. Biaya dan kelelahan yang dikorbankan tidak ada artinya dibanding dengan berkat kekal yang diperoleh.

Kebenaran Firman Tuhan adalah satu-satunya sarana untuk mengubah cara berpikir seseorang. Perubahan tersebut bukan saja mengubah seseorang menjadi baik, melainkan memancarkan kemuliaan Tuhan yang sempurna. Inilah transformasi dalam kehidupan orang percaya. Perubahan ini mengakibatkan perubahan arah hidup. Ini lebih dari perubahan moral. Perubahan ini menyangkut pola berpikir dan segala filosofinya; ini berarti perubahan sikap hati atau sikap batin. Perubahan pola berpikir ini sejajar dengan pertobatan, atau pertobatan pada dasarnya adalah perubahan pola berpikir. Pertobatan bukan sekadar perubahan moral baru, melainkan arah hidup yang diubah. Arah hidup yang tadinya berorientasi atau tertuju kepada hal-hal dunia (materi), berpindah ke Kerajaan Surga (hal-hal surgawi). Transformasi yang terjadi dalam diri seseorang akan membuka pikiran dan kesadarannya, sehingga dapat menghayati dari mana ia datang dan ke mana ia pergi (Yoh. 3:8-11). Bagi orang percaya, transformasi menyadarkan bahwa ia bukan berasal dari dunia ini.

Pengenalan akan Allah harus bertumbuh seiring dengan usia dan perjalanan waktu hidup kita.