Pengalaman Keselamatan

Kita bisa membuktikan kebenaran Alkitab melalui satu hal, yaitu mengalami keselamatan. Keselamatan yang kita miliki itu harus benar-benar dirasakan dan berdampak. Tentu saja dampak atau buahnya itu nyata di dalam hidup kita ini, dalam keberadaan kita, yang tidak boleh sama dengan orang yang tidak memiliki keselamatan. Seharusnya orang dapat menangkap, merasakan, tercelik bahwa kita memiliki Allah yang benar; bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Jadi, dasar kekristenan kita bukan sekadar kita terlahir dalam keluarga Kristen; atau karena tertarik dengan kekristenan, terkait dengan pernikahan dengan orang Kristen, atau faktor lain. Seharusnya, dasar kekristenan kita untuk membuktikan kebenaran adalah kita mengalami Tuhan Yesus Kristus yang merupakan jalan keselamatan satu-satunya. Pembuktian ini tidak hanya dalam pengertian secara nalar atau pikiran, atau dalam proses kognitif. Karena kalau pembuktian hanya dalam pengertian nalar, belumlah membangun kekristenan yang benar.

Pembuktian ini harus dibangun dari pengalaman langsung dari kehidupan konkret dimana seseorang mengalami proses keselamatan. Namun kalau definisi keselamatan itu hanya “terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga,” maka kebenaran kita yang murni tersebut belum bisa teruji secara penuh. Karena semua agama sama-sama mengklaim allahnya benar; sama-sama mengklaim bisa membawanya ke surga atau membuangnya ke neraka. Tetapi keselamatan adalah proses dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Tentu pembuktiannya melalui pengalaman konkret. Apa itu rancangan Allah semula? Manusia segambar, serupa dengan Allah. Proses ini yang akan membuat setiap kita membuktikan bahwa memang Allah yang benar adalah Allah Israel; Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Elohim Yahweh yang mengutus Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus.

Pengalaman keselamatan akan membuka mata pengertian seseorang untuk memahami siapakah Allah yang benar. Pengalaman keselamatan adalah proses perubahan karakter. Bukan hanya dari manusia jahat menjadi manusia baik. Sebab kalau hanya demikian, agama-agama dan pendidikan budi pekerti juga bisa mengubah manusia yang bejat, yang rusak, yang biadab, menjadi orang baik. Tetapi proses keselamatan itu merubah manusia dari human being menjadi divine being; dari sinful nature menjadi divine nature. Pengalaman keselamatan seperti ini luar biasa. Bukan saja dari orang jahat yang hidup melanggar norma umum dan hukum kemudian menjadi orang baik yang santun, tetapi Tuhan Yesus menyelamatkan kita dari dosa (hamartia); menyelamatkan kita dari kemelesetan. 

Manusia memiliki kemuliaan manusia—bisa bermoral baik, santun, beradab—tetapi tidak sesuai dengan rancangan Allah semula; tidak sama dengan rancangan Allah semula yang segambar dan serupa dengan Allah. Jadi, tindakannya belum sesuai dengan tindakan dan perasaan Allah, namun bisa sesuai dengan hukum. Orang yang hidupnya belum sesuai dengan rancangan Allah yang semula bukan berarti menjadi jahat, bejat, tidak bermoral, biadab. Mereka bisa menampilkan kehidupan moral yang baik, santun, sesuai dengan norma umum atau hukum yang berlaku. Agama bisa mencetak manusia seperti itu. Akan tetapi, proses mengubah kodrat itu mustahil. Mustahil, sebab harus ada intervensi dari Allah dan manusia harus berinteraksi dengan Allah melalui Roh Kudus. Sehingga, ini hanya bisa terjadi atas orang-orang yang menerima meterai Roh Kudus. 

Proses yang Tuhan adakan di dalam hidupnya, dia rasakan, dia alami, dan dia menemukan kecerdasan Allah dalam membentuk dirinya. Sebab kalau sampai tingkat sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, itu sudah beda. Jadi, jangan heran kalau ada orang yang diproses untuk mengalami perubahan kodrat ilahi sampai mengalami yang dialami Yesus. Itu jalan sempit, sedikit orang yang masuk. Keadaan-keadaan yang benar-benar sulit. Oleh karenanya, keselamatan merupakan proses panjang yang harus dialami. Kita melihat bagaimana cerdasnya Tuhan mengubah kita. Tanpa disadari, hati kita licik, memuat kebohongan dan kesombongan terselubung. Tidak hanya itu, kita juga diisi oleh pikiran najis yang ada di belahan paling dalam pikiran kita, keserakahan, tidak mau tersaingi, mau dianggap penting, dan lain sebagainya. Dalam proses panjang, keselamatan Tuhan merajut kodrat ilahi dalam diri kita dengan mengikis berbagai kejahatan tersebut. Proses ini berlangsung terus sampai kita menemukan manusia baru.

Kalau Kristen hanya beragama, itu belum atau bukan anak-anak Allah, sebab anak-anak Allah itu harus berkeadaan seperti Bapanya. Maka Tuhan Yesus berkata di Matius 5:48, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Maka harus ada intervensi Allah dalam setiap hari dalam kehidupan konkret, dalam pergumulan konkret. Bukan hanya di atas kertas. Keselamatan adalah sebuah jalan panjang yang dijalani dalam perubahan kodrat yang dituntun oleh Roh Kudus dengan kesediaan setiap individu untuk diubahkan secara konkret. 

Pengalaman keselamatan akan membuka mata pengertian seseorang untuk memahami siapakah Allah yang benar.