Pengalaman Hidup

Tindakan berdasarkan iman adalah segala sesuatu yang kita lakukan untuk kemuliaan Allah. Atau dengan kalimat lain, segala sesuatu yang kita lakukan untuk kemuliaan Allah adalah tindakan iman. Di luar itu, dosa. Jadi, sebenarnya tidak mudah hidup di dalam keberimanan kepada Tuhan atau hidup dalam percaya yang benar kepada Tuhan itu. Segala sesuatu yang kita lakukan harus berdasarkan iman. Apa itu iman? Yang pertama, iman itu terkait dengan pengakuan terhadap keberadaan Allah. Yang kedua, iman terkait dengan pengenalan akan Allah dan penerimaan kita terhadap pribadi-Nya. Kita harus mengenal siapa dan bagaimana Allah yang kita sembah; hakikat, sifat, dan karakter-karakter-Nya, agar kita bisa menempatkan diri benar di hadapan Allah, dan menempatkan Allah secara benar serta patut. Yang ketiga, iman atau percaya terkait dengan keselamatan dalam Yesus Kristus. Ini sangat khusus. Memercayai keberadaan Allah bahwa Allah itu ada, bukan sesuatu yang mudah. Kalau seseorang dari kecil Kristen, biasanya sudah otomatis ia merasa telah memiliki iman yang benar. Ia telah mengakui bahwa Allah itu ada.

Kalau seseorang benar-benar percaya Allah itu ada, pasti ia tidak memiliki rasa takut, cemas, dan khawatir. Kekhawatiran adalah bahasa orang yang tidak menghormati Allah. Kalau seseorang benar-benar memercayai bahwa Allah itu ada, yang kedua, pasti dia hidup di dalam kesucian dan kebenaran, tidak mungkin bersikap sewenang-wenang terhadap sesama. Orang yang benar-benar memercayai bahwa Allah itu ada, pasti melayani Dia. Terakhir, kalau orang benar-benar percaya bahwa Allah ada, ia pasti percaya bahwa surga juga ada. Karenanya, orang-orang seperti ini tidak takut meninggal dunia. Dan baginya, kematian menjadi momentum yang dinantikan. Oleh sebab itu, kita hendaknya selalu ada di lingkungan orang-orang yang memercayai bahwa Allah itu ada. Kalau orang hidup di lingkungan masyarakat yang nihilistis—orang yang tidak percaya Allah ada atau menganggap Allah tidak perlu ada—maka atmosfer nihilistis dan ateisme itu bisa meracuni pikiran dan merusak keberimanan kita. 

Kita harus melakukan langkah-langkah untuk bisa benar-benar mengalami Allah. Allah bukan hanya diyakini di dalam pikiran—yang saya sebut pengaminan akali atau persetujuan pikiran—tetapi Allah harus dialami. Jadi kalau sudah memercayai bahwa Allah itu ada di dalam nalar, lebih lagi bisa membuat penjelasan, uraian tentang Allah, ia merasa sudah meyakini bahwa Allah itu ada. Padahal, belum tentu. Pengalaman dengan Tuhan itu tidak dipandang sebagai hal yang bermutu atau berkualitas, sehingga digantikan dengan menalar Allah yang dituliskan dalam buku atau jurnal ilmiah. Bayangkan kalau lulusan STT atau seminari seperti ini, lalu berkhotbah kepada jemaat. Keberimanan yang miskin dan dangkal itu ditularkan kepada jemaat, sehingga jemaat juga menjadi orang-orang yang tidak pernah mengalami Allah, karena merasa tidak perlu mengalami Allah. Semua serba teori dan fantasi. Akhirnya, lambat laun banyak jemaat tidak lagi memercayai Allah, dan akhirnya meninggalkan agama Kristen.

Jangan kita dibodohi oleh orang-orang yang bicaranya pintar tentang Tuhan. Jika seseorang tidak mengalami Tuhan, dia tidak akan mengubah orang. Di lingkungan para teolog itu, mereka memandang pengalaman pribadi dengan Allah sebagai suatu subjektivitas yang membahayakan iman Kristen dan tidak bisa dimasukkan dalam sistematika teologi yang disusun dalam kurikulum. Memang ada pengalaman-pengalaman pribadi yang subjektif dan tidak bisa menjadi landasan iman orang lain. Ada kesaksian-kesaksian yang dihiperbolakan, dilebih-lebihkan, betul. Tetapi jangan kemudian pengalaman pribadi jadi dianggap tidak penting. Allah itu hidup, harus dialami. 

Belajar mengenai Allah setinggi dan sehebat apa pun, kalau tidak dialami, nol. Biasanya kelompok akademisi teologi ini memandang orang-orang yang menekankan pengalaman dengan Tuhan sebagai orang yang kurang memiliki atau tidak memiliki dasar-dasar sistematika teologi yang baik, sehingga mereka dianggap bukan orang percaya yang benar. Karena sistematika teologinya kurang kuat, apalagi tidak sesuai dengan pandangan teolog-teolog yang dianggap ini, sudah menjadi ukuran parameter kebenaran. Maka, kita bisa melihat orang-orang yang begitu mudah menyesat-nyesatkan orang berdasarkan asumsinya.

Kenyataannya, tokoh-tokoh iman Alkitab di Perjanjian Lama khususnya, tidak pernah belajar teologi secara teoritis. Tetapi, mereka mengenal Allah dari pengalaman secara langsung. Dari pengalaman mereka itulah kita mendasarkan doktrin dan ajaran. Lalu, mengapa kita mengekstrak pengalaman mereka menjadi ajaran, tapi kita tidak melihat esensi dari kehidupan mereka yang mengalami Allah? Ini pekerjaan kuasa kegelapan yang menyesatkan, yang membuat negara-negara Barat merosot kekristenannya. Jadi kalau kita bandingkan, mengenal Allah dari teori teologi atau mengenal Allah dari pengalaman langsung, mana yang lebih berkualitas? Jelas yang mengalami langsung. Tetapi dengan mengatakan ini, bukan berarti kita mau membuang teologi atau ajaran. Hendaknya teologi tidak dijadikan satu-satunya dasar untuk beriman atau percaya kepada Allah. Iman yang benar haruslah didasarkan pada pengalaman langsung dengan Allah, yang adalah objek iman. Dari pengalaman langsung ini, seseorang bisa mengenal Allah dengan baik.

Iman yang benar haruslah didasarkan pada pengalaman langsung dengan Allah, yang adalah objek imannya.