Pengakuan dari Bapa

Kita harus terus mengobarkan gairah bagaimana menjadi anak manusia yang benar-benar menyukakan hati Allah, menjadi penghiburan di hati Allah, di tengah-tengah angkatan yang bengkok ini; di tengah-tengah kejahatan manusia. Ibarat simfoni, kita harus menjadi simfoni yang indah, merdu didengar oleh Allah; ibarat bunga, kita harus jadi bunga yang wangi, menjadi keharuman. Dan inilah kehormatan kita. Inilah nilai, kemuliaan kita. Tidak ada kehormatan, kemuliaan, dan nilai lebih dari ini kalau kita percaya Tuhan, kita percaya Firman-Nya, dan kita mengikuti Firman-Nya. Tidak ada hal yang lebih mulia pada hidup seseorang selain pengakuan dari Bapa bahwa ia adalah seorang yang berkenan kepada Allah, menjadi kesukaan hati Allah. Hidup kita menjadi seperti pedupaan yang terus menyala, dimana asapnya membumbung sampai ke takhta Bapa. Dari setiap renungan hati, apa yang kita katakan, segala hal yang kita lakukan, semuanya menciptakan keharuman. Dan kita menikmati kebahagiaan dari hal itu. Sampai kita benar-benar menjadi kecanduan; kecanduan untuk berbuat segala sesuatu yang menyenangkan hati Allah. 

Hal ini harus benar-benar menjadi realitas hidup kita, yang kita hayati dan alami. Maka kita akan sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Mungkin dalam pergumulan hidup kita muncul satu pertanyaan yang terdengar konyol, begini: “Kalau Engkau benar-benar Allah yang hidup, bahwa apa yang tertulis di Alkitab itu bukan dongeng, aku mau mengalami Engkau ya, Allah.” Dan itu dijawab Tuhan dengan berbagai persoalan berat dan rumit. Dimana di dalam persoalan-persoalan itu, kita tidak mampu menjawabnya kecuali dengan campur tangan Allah. Ada persoalan-persoalan yang terjadi dalam hidup karena kesalahan kita, tetapi ada yang bukan karena kesalahan kita, dan itu bisa membuat kita putus asa, kecewa, atau bereaksi negatif, sehingga kita jatuh dalam dosa. Yang kedua ini, pasti berasal dari kuasa kegelapan yang mau menghancurkan hidup kita, menghentikan perjalanan pertumbuhan iman Kristen kita untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, sekaligus menghentikan pelayanan kita. Kita harus kokoh, tabah, dan kuat. Dari situ, kita bisa terstimulasi untuk mengalami Tuhan. 

Tetapi yang lebih dari itu, atau mungkin bisa sejajar, yaitu ketika kita benar-benar berusaha dalam segala hal tidak melakukan kesalahan. Ini tentu terkait dengan pergumulan hidup yang kita hadapi. Kesempatan untuk tidak jujur, mengangkat diri menjadi sombong, dan berbagai dosa yang bisa kita lakukan. Namun kita memilih taat. Karena kita ingin benar-benar menyenangkan hati Allah, membuat Tuhan tersenyum. Kalau kita sudah menggumuli hal ini dengan serius lalu ada kesalahan yang kita lakukan, akan muncul perasaan duka dan luka, yang dalam sekali. Sampai kita bisa menjadi benar-benar trauma terhadap kesalahan. Kalau dulu, kita melakukan kesalahan tanpa merasa terganggu, dan kita masih menikmatinya lagi. Tapi kemudian kita bertumbuh. Setiap kali melakukan kesalahan, kita berduka. Dan di dalam pertumbuhan berikut, menjadi luka. Sampai belum melakukan kesalahan, kita sudah resisten, menolak. Dan kita memandang kesenangan-kesenangan yang dulu kita nikmati, itu seperti racun. 

Dan ini sebenarnya adalah gejala dimana kita mulai menyenangkan hati Allah. Tentu membutuhkan perjuangan berat dan melewati perjalanan waktu. Karenanya sebelum kesempatan yang Tuhan berikan berlalu, mari kita berjuang. Ingat, kesempatan itu tidak bisa kita beli. Kesempatan adalah anugerah. Kata firman Tuhan, kita tidak bisa menambah sehasta pun umur hidup kita. Satu jam pun, kita tidak bisa. Jadi kalau kita membuka mata di pagi hari, artinya Tuhan masih memberikan kita hari yang baru, kita bersyukur. Itu adalah kesempatan kita untuk meningkatkan kualitas hidup rohani agar kita bisa lebih berkenan di hadapan Allah, menyenangkan hati Tuhan melalui segala kejadian dan peristiwa hidup yang kita alami pada hari itu. Maka harus ada ‘ambisi’ yang kuat. Harus ada tekad, kerinduan, hasrat yang kuat. Sama seperti ketika kita ingin memiliki sesuatu, ingin menambah jumlah uang, atau sedang jatuh cinta ke seseorang dan kita ingin memiliki orang itu. Siang, malam, pagi, petang, kita akan memikirkan apa yang menjadi obsesi, cita-cita kita. 

Sekarang yang menjadi obsesi kita adalah menyenangkan hati Allah. Melihat sempurnanya metabolisme tubuh kita, tatanan alam yang sempurna, jagat raya yang memiliki tatanan yang sempurna ini, tidak mungkin tidak diciptakan oleh Allah. Bahkan kalau kita memperhatikan dunia binatang, bagaimana setiap hewan memiliki spesifikasi yang begitu luar biasa. Sekarang kita mau mengalami Tuhan. Kita harus memiliki keberanian. Dan itu dimulai dari hal-hal sederhana yang kita kita pandang sebagai kesalahan, jangan lakukan; dari hal moral umum. Tuhan akan terus menambahkan kepekaan kepada kita untuk bisa membedakan apa yang menyenangkan hati Allah dan apa yang tidak. 

Tidak ada hal yang lebih mulia pada hidup seseorang selain pengakuan dari Bapa bahwa ia adalah seorang yang berkenan kepada Allah, menjadi kesukaan hati Allah.