Nalar Logika

Setiap kita harus menyediakan waktu untuk ada di hadapan Allah dan memohon agar kita bisa merasakan kegentaran akan Dia, dimana seakan-akan kita sudah ada di hadapan Allah di kekekalan. Namun, sesungguhnya Allah yang hidup bisa hadir di ruangan kita, dan kita bisa menemui-Nya, sehingga kita menghayati kegentaran kedashyatan Allah itu. Kita bisa mengalaminya. Carilah wajah Tuhan, sediakan waktu, hayati kedahsyatan Allah, dan minta kepada Tuhan hati yang gentar dan takut akan Dia sebagaimana mestinya. Dan pengalaman pada waktu doa pribadi adalah pengalaman riil yang bisa kita alami untuk merasakan kedahsyatan Allah di dalam kehadiran-Nya yang luar biasa. Dan di situ kita bisa mengerti apa artinya iman terhadap Allah yang hidup. Kita sering menggunakan nalar logika kita. Nalar logika kita bisa memikirkan tentang Allah, merumuskan tentang Allah, mengurai kalimat-kalimat pengajaran mengenai Allah, tetapi nalar logika kita tidak mampu menyentuh Allah. 

Meyakini Allah yang tidak kelihatan sebagai Allah yang nyata, sebagai Allah yang ada, bukan hal yang mudah. Karena kita sudah terbiasa memiliki nalar logika bahwa yang diyakini adalah sesuatu yang kelihatan, yang bisa dibuktikan atau diverifikasi secara ilmu pengetahuan, dan yang bisa diurai dengan logika. Adapun Allah, tidak bisa diurai dengan logika. Karenanya, kita harus bisa menembus batas, sehingga kita bisa melihat apa yang tidak dilihat oleh mata manusia pada umumnya. Di sini kita bisa melatih iman kita, yaitu pada waktu kita menghayati kedahsyatan Allah tersebut. Coba lakukan itu sampai kita bisa benar-benar merasakan kegentaran akan Allah, dan kita benar-benar bisa gemetar. Tentu kita tidak boleh terjebak dengan emosi yang kadang-kadang membuat hadirat Allah palsu. 

Terus terang, banyak orang yang pandai menciptakan liturgi yang dapat mengangkat nuansa emosional dengan musik dan tata panggung menawan, sehingga cakap membuat hadirat palsu. Dengan nyanyian, alunan musik, doa, kita bisa menciptakan frekuensi jiwa seakan-akan Allah hadir, dan kita seakan-akan bersentuhan, tapi ternyata kita bermain di area perasaan karena kita ada di nalar logika. Kita belum keluar dari nalar logika, kita belum menembus batas. Mata rohani kita belum terbuka. Tuhan mau menghancurkan nalar logika kita dan mengajari kita iman yang benar, pandangan menembus batas lewat keadaan-keadaan yang terjepit, yaitu situasi-situasi dimana kita benar-benar tidak berdaya, benar-benar hanya Tuhan yang bisa menolong. Bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena apa yang akan kita lakukan untuk keluar dari masalah bisa bertentangan dengan kehendak Allah. 

Misalkan suatu kali kita terjepit oleh kebutuhan keuangan dalam jumlah besar, lalu kita punya kesempatan untuk mendapatkan uang dengan cara yang salah, apakah itu korupsi, atau mungkin berutang. Tapi dalam masalah ini, Tuhan tidak menghendaki kita berutang, apalagi korupsi. Maka, di situ Tuhan mau menghancurkan nalar logika kita dan mengajar kita untuk mengandalkan Tuhan. Situasi-situasi seperti ini adalah situasi-situasi yang benar-benar konstruktif untuk membangun iman dan menghancurkan nalar logika kita. Tuhan menjadi andalan kita satu-satunya. Nalar logika kita dipatahkan supaya iman yang sejati menembus batas meyakini dengan benar, menerima dengan benar keberadaan Allah. Allah mengizinkan situasi-situasi sulit itu agar nalar logika kita bisa dipatahkan dan iman kita dibangkitkan, menembus batas. 

Ibrani 11:6 mengatakan, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Jadi, orang yang mencari Allah harus yakin bahwa Allah itu ada dan Allah akan memberikan upah pada orang yang mencari Dia. Namun, sadari bahwa memiliki iman yang menembus batas itu tidak mudah. Buktinya apa? Buktinya, sering kita masih mengandalkan manusia, masih berharap dunia menyenangkan dan membahagiakan kita, masih bisa berbuat dosa. Hal-hal itu sebenarnya menunjukkan bahwa nalar logika kita masih kuat dan kita belum memiliki iman yang menembus batas. Kita boleh belajar teologi 10, 15, 20 tahun; kita boleh punya banyak gelar dalam bidang-bidang teologi, tapi itu tidak menghancurkan nalar logika kita. Bahkan, kadang-kadang para teolog yang makin cakap berbicara tentang Allah, justru makin kuat nalar logikanya. 

Nalar logika kita dipatahkan supaya iman sejati dapat menembus batas untuk meyakini dengan benar, menerima dengan benar keberadaan Allah.