Merintis Jalan ke Surga

Kehidupan kekal yang berkualitas, artinya dalam persekutuan dengan Allah di surga nanti, sebenarnya dimulai sejak masih hidup di bumi. Kalau seseorang sejak hidup di bumi sudah hidup dalam persekutuan dengan Allah atau memiliki hidup yang berkualitas, maka pasti di balik kubur nanti, ia akan bersama-sama dengan Allah. Itulah sebabnya, dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajar kita agar kita mendatangkan Kerajaan Allah atau menghadirkan pemerintahan Allah, dan melakukan kehendak Allah dengan sempurna (Mat. 6:9-10). Dengan menghadirkan Kerajaan Allah dan melakukan kehendak Allah dengan sempurna, seseorang telah merintis jalan hidupnya menuju ke surga. Dalam hal ini, surga bukanlah tempat pembuangan yang nyaman, yang tentu saja diharapkan oleh semua orang bisa masuk ke dalamnya dan terhindar dari api kekal. Tetapi surga adalah tujuan yang harus mulai dirintis atau dijalani sejak kita masih hidup di bumi sekarang ini.

Surga menjadi tujuan, artinya sejak di bumi seseorang harus sudah mulai tidak tertarik dengan dunia ini sehingga hanya fokus ke kehidupan yang akan datang di langit baru bumi baru. Bagi orang percaya, langit baru dan bumi baru adalah Rumah Bapa di mana orang percaya menjadi anggota keluarga Kerajaan, yang nantinya juga dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Sejak di bumi, orang percaya harus sudah memperjuangkan hal ini, sebab masuk surga bukan suatu kebetulan dan bukan sebuah kecelakaan, melainkan sebuah pilihan yang harus dilakukan sejak hidup di bumi. Surga sebagai pilihan, artinya kita harus bertindak secara konkret, yang menunjukkan bahwa kita memilih surga sebagai tujuan, bukan sekadar harapan atau objek keyakinan yang diharapkan suatu saat bisa masuk ke dalamnya. Tentu kalau seseorang memilih surga sebagai tujuan, ada konsekuensi atau harga yang harus dibayar.

Orang yang menjadikan surga sebagai tujuan akan berusaha untuk tidak terikat dengan dunia ini dan berjuang untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Orang yang menjadikan surga sebagai tujuan adalah orang yang menghargai surga tersebut, dan tentu juga menghormati Allah sebagai Kepala Pemerintahannya. Orang yang tidak menujukan tujuan hidupnya ke surga atau ke langit baru bumi baru adalah orang yang tidak berniat untuk masuk surga dengan benar. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, apalagi dimuliakan bersama-sama dengan Yesus.

Kenyataan yang tidak dapat dibantah, sangat sedikit atau hampir tidak ada orang yang sungguh-sungguh menjadikan surga sebagai tujuan hidupnya. Banyak orang beragama hanya karena mau memiliki kehidupan yang nyaman di bumi dan mencapai pencapaian-pencapaian yang dapat membahagiakan hidupnya yang sementara di bumi ini. Sementara surga dianggap sebagai tempat di mana dirinya akan ditempatkan, tanpa menjadikannya sungguh-sungguh sebagai tujuan. Orang-orang seperti ini pada dasarnya menjadikan dunia ini tujuannya, bukan surga. Berhubung semua orang memiliki pola berpikir seperti ini, maka pola berpikir yang salah tersebut sudah dianggap sebagai suatu kewajaran. Padahal, itu sebuah kemerosotan dari kehidupan iman Kristen yang seharusnya menjadikan surga sebagai tujuan. Orang percaya yang menjadikan surga sebagai tujuan pasti berusaha hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar, yaitu hidup dalam kekudusan dan terlepas dari percintaan dunia. Orang-orang seperti ini dapat dikatakan sebagai orang-orang yang menjalani hidup menuju Kerajaan Surga dalam kepastian.

Mereka yang sejak hidup di bumi tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah atau tidak memiliki hidup yang berkualitas, pasti di balik kuburnya tidak akan bersama-sama dengan Allah, artinya terbuang ke dalam api kekal. Dengan demikian, setiap individu sebenarnya sudah bisa memetakan kehidupan kekalnya sejak masih hidup di bumi. Sehingga, keselamatan adalah sesuatu yang pasti. Tentu bukan berdasarkan keyakinan semata-mata, melainkan kenyataan hidup, dimana seseorang yang ada dalam persekutuan yang benar dengan Allah. Pemetaan atas masa depan dalam kekekalan setiap individu adalah sesuatu yang riil, natural, dan benar-benar dialami. Rusaknya hidup kekristenan ketika kehidupan Kristen yang seharusnya merupakan realitas yang harus dijalani, hanya diformulasikan dalam pengetahuan teologi, dalam sistematika dogmatika, dan teori-teori secara tertulis. Hal ini terjadi ketika kekristenan mengalami kemerosotan dimana para pemimpin-pemimpin gereja dan teolog-teolog Kristen hanya sibuk menalar Allah secara kognitif, tetapi tidak menyelenggarakan kehidupan sesuai dengan kehidupan Yesus. Banyak pandangan teologi yang berhenti atau terdampar sampai olah nalar semata-mata, tetapi tidak memiliki implikasi yang jelas. Hal ini terjadi disebabkan para pemimpin gereja dan para teolog yang tidak mengalami Tuhan seperti tokoh-tokoh iman pada gereja perdana.