Merespons Kemerdekaan 

Pada dasarnya, Tuhan menghendaki semua bangsa Israel selamat, tetapi hal itu tidak terwujud sebab mereka menolak-Nya. Dengan demikian, kalau bangsa itu menolak Allah, bukan karena Allah yang menentukan tetapi mereka sendiri yang menghendaki demikian. Dalam hal ini, jelaslah bahwa intervensi Allah terbatas, sebab Allah memberi independensi kepada manusia untuk menentukan “takdirnya.” Bangsa Israel harus menggunakan independensinya dengan benar. Tetapi kalau mereka mengarahkan hatinya kepada yang lain, maka mereka tidak dapat selamat. Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus memberitakan Injil kepada umat Israel selama 3,5 tahun agar mereka bertobat. Tetapi ketika mereka menolak pemberitaan Injil yang Tuhan Yesus wartakan, mereka harus menanggung akibatnya. Tuhan memberitakan Injil untuk membuka pikiran manusia agar dapat mengerti kebenaran dan mempertimbangkan dalam nalarnya. Injil memuat kebenaran yang harus didengar untuk menumbuhkan pertimbangan. Dalam pertimbangan nalar tersebut, seseorang memiliki kehendak bebas sehingga harus memilih atau memutuskan, apakah mau menerima Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan atau menolak-Nya. 

Walaupun bangsa Israel adalah umat pilihan karena nenek moyang mereka kekasih Allah (seperti Abraham, Ishak, dan Yakub), tetapi karena mereka menolak Injil, maka mereka berstatus sebagai seteru (musuh) Allah (Rm. 11:28). Bagaimana ini bisa terjadi? Walaupun Allah memilih mereka sebagai umat pilihan anak keturunan Abraham, tetapi kalau mereka menolak Tuhan Yesus Kristus, maka mereka pun ditolak Allah. Satu pihak, Allah memilih mereka untuk menjadi umat pilihan Perjanjian Baru agar selamat, tetapi kalau mereka menolak, maka mereka pun akan binasa. Dalam hal ini, tampak sangat jelas bahwa manusia memiliki hak dan potensi untuk menolak anugerah-Nya, walaupun Tuhan sudah memberi dorongan dengan mengadakan mukjizat agar bertobat. Itulah sebabnya, Tuhan sampai murka dan bersumpah bahwa mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian. Kalau sampai Tuhan murka dan bersumpah, pasti semua ini bukan rekayasa Allah. Allah tidak mungkin bersandiwara. Seharusnya, dengan melihat perbuatan Tuhan yang luar biasa di sepanjang perjalanan dari Mesir ke Kanaan, bangsa Israel bisa bertobat. Tetapi ternyata, mereka tetap bersikap keras kepala. Dalam kaitan dengan hal ini, tidak ditemukan penjelasan bahwa Tuhan mengeraskan hati bangsa Israel sehingga mereka tidak sampai tanah Kanaan. Bangsa Israel itu sendiri yang mengeraskan hati dengan tidak mau tunduk dan dengar-dengaran kepada Tuhan, walaupun mereka sudah melihat perbuatan Tuhan yang luar biasa nyata. Firman Tuhan mengatakan: “Mereka yang mengeraskan hati mereka sendiri.”

Kalau Tuhan sudah berulang-ulang memberi kesempatan seseorang orang untuk bertobat tetapi tidak bertobat, maka Tuhan bisa mengeraskan hati orang tersebut. Tuhan bukan seperti orang “sakit jiwa” atau “psikopat” yang sembarangan mengeraskan hati orang tanpa alasan. Kalau dalam Alkitab ditulis “Tuhan mengeraskan hati seseorang,” hal ini hendaknya tidak menjadi ukuran umum; artinya hendaknya kita tidak berpikir bahwa Tuhan secara sembarangan dan sewenang-wenang mengeraskan hati orang. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa hati seseorang harus dikeraskan. Dalam suratnya, Paulus mengatakan bahwa semua peristiwa mengenai bangsa Israel menjadi contoh bagi kita (1Kor. 10:11-12). “Menjadi contoh” artinya bahwa kegagalan sebagian besar orang Israel sampai Kanaan merupakan peringatan bagi kita. Perhatikan kata “peringatan bagi kita.” “Kita” di sini menunjuk orang yang mengaku Kristen—bahkan sudah merasa sebagai orang percaya—bisa mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh bangsa Israel. Kata “kita” di sini juga menunjuk atau termasuk Paulus sebagai penulis kitab Korintus.

Dalam tulisannya ini, Paulus hendak menganalogikan (menyejajarkan) kegagalan sebagian bangsa Israel dengan perjalanan hidup orang percaya. Perhatikan kalimat: “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita” (1Kor. 10:6). Ditegaskan kembali di ayat 11: “Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba.” Dalam 1 Korintus 10, jelas dikatakan bahwa semua itu menjadi contoh bagi kita yang hidup pada zaman akhir ini. Kata “contoh” dalam teks aslinya adalah tupos (τύπος), yang artinya juga pola (pattern). Jadi, sangatlah keliru kalau orang berpikir bahwa seorang Kristen tidak mungkin bisa gagal dalam pengiringannya kepada Tuhan Yesus. Semua yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel menjadi pola atau tatanan yang tetap (pattern). Kegagalan adalah bagian dari realitas kehidupan ini. Itulah sebabnya, Tuhan berkali-kali mengatakan agar kita tetap setia sampai akhir. Kemerdekaan yang Tuhan berikan melalui pengorbanan-Nya harus direspons secara aktif oleh orang percaya dalam kesetiaan. Kalimat “zaman akhir” hendak menunjuk zaman kita sekarang, dan zaman sesudah kita nanti. Jadi, tidak hanya menunjuk sekelompok orang saja. Jelaslah bahwa peringatan ini juga untuk semua orang Kristen. Oleh karenanya, setiap kita harus menggunakan dan mengisi kemerdekaan yang telah Tuhan berikan dengan benar sambil mengingat bangsa Israel sebagai peringatan bagi kita.

Kemerdekaan yang Tuhan berikan melalui pengurbanan-Nya harus direspons secara aktif oleh orang percaya dalam kesetiaan.