Merdeka

Ada satu kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus di kayu salib yang memuaskan hati Allah Bapa, yaitu “sudah selesai; tetelestai.” Tidak ada orang yang lebih merdeka dari orang yang sudah sampai pada tingkat “sudah selesai.” Manusia pada umumnya—atau hampir semua manusia—bergerak, melakukan berbagai kegiatan hidup untuk mencapai apa yang dia pikir belum dicapainya, meraih apa yang dia pikir belum diraih, dan menurutnya harus diraih. Itulah sebabnya, orang terus menggeliat untuk meraih atau mencapai apa yang dia pandang belum dia raih dan capai, dan itu berarti hidupnya belum terasa lengkap; hidupnya belum terasa utuh. Ia tidak bisa berkata “sudah selesai,” tetapi dia akan selalu berkata “belum selesai.” Hidup manusia dihabiskan untuk hal-hal demikian. Dan sebenarnya, tanpa disadari, manusia menjadi terbelenggu, terikat. 

Bagi kita, ada satu hal yang harus kita genapi yang pada akhirnya kita juga bisa berkata, “sudah selesai.” Masing-masing orang memiliki konsep—pemahaman dan pengertian—yang berbeda mengenai hal ini. Kalau anak kecil melihat temannya punya gadget, ia merasa kalau ia belum punya gadget, maka dia belum happy. Ia akan meminta kepada orangtuanya untuk dibelikan gadget. Mulai besar sedikit, ia lihat temannya punya sepeda, dia merasa belum lengkap kalau belum punya sepeda. Ketika masuk remaja, dia lihat temannya punya motor, dia merasa belum lengkap kalau belum punya motor. Yang lain punya pacar, dia belum punya pacar. Maka, ia merasa hidupnya tidak lengkap atau belum lengkap. Ketika sudah mennikah, melihat yang lain punya anak sementara dia belum punya anak, dia juga merasa hidupnya belum lengkap, dan seterusnya. 

Kalau pendeta, mungkin agak sedikit kelihatan rohani. Gedung gereja yang digunakan bukan merupalkan milik pribadi atau masih mengontrak, ia berusaha berpikir bagaimana caranya supaya bisa memiliki gedung atau tempat sendiri. Sesudah punya gedung gereja sendiri, kembali berpikir bagaimana menambah luas lahan untuk parkir. Sudah punya halaman luas untuk parkir, ia berpikir lagi bagaimana membuat universitas atau proyek lainnya. Bukan tidak boleh. Semua keinginan tersebut akhirnya membuat Tuhan tidak menjadi tujuan. Dan inilah yang sekarang sedang membelenggu hampir semua manusia. Betapa sulit dan nyaris mustahil untuk mewujudkan gaya hidup orang Kristen yang ideal, bagi orang yang sudah terbiasa atau terlalu lama memiliki filosofi duniawi pada umumnya. Tetapi kalau kita sudah terpanggil, terpilih sebagai umat pilihan, tidak bisa tidak, kita harus mengenakan gaya hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Kita tidak bisa menghindari itu. 

Ketika ada seorang berkata kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, aku mau ikut ke mana pun Engkau pergi.” Jawaban Tuhan seperti tidak menjawab pertanyaan dari orang tersebut, dimana sebenarnya Tuhan bisa menjawab “boleh” atau “tidak.” Tuhan menjawab dengan satu pernyataan, “serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Seakan-akan Tuhan mau berkata, “Jika kamu ikut Aku, maka tidak ada lagi yang kamu harapkan.” Jadi, apa yang ditarget oleh Tuhan Yesus ini? Yohanes 4:34, “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Kalau dalam teks terjemahan lama dikatakan: “rezeki-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Dari bangun tidur sampai tidur lagi, orang mencari rezeki. Rezekinya tentu uang, biasanya begitu. Tetapi rezeki Tuhan Yesus adalah melakukan kehendak Bapa. Jadi, yang penting adalah bagaimana seseorang melakukan kehendak Bapa. Dan setiap orang, tentu berbeda-beda dalam melaksanakan kehendak Bapa itu. 

Apa pun dan bagaimanapun, setiap individu harus memperkarakan hal melakukan kehendak Bapa ini. Jadi, memang mutlak. Begitu bangun tidur, seseorang harus menghadap Tuhan yang memberi hari, kehidupan, dan kesempatan, lalu berkata, “apa yang harus aku lakukan, Tuhan?” Apalagi orang percaya yang telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus dimana kita bukan milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20), maka kita hidup hanya untuk kemuliaan Allah. Maka firman Tuhan mengatakan, “baik kau makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Entah kita punya mobil atau tidak; entah kita menikah atau tidak; entah punya anak atau tidak, lakukan apa yang Allah kehendaki dan muliakan Dia. Dan sejujurnya, walaupun kita sering mendengar kalimat-kalimat khotbah seperti ini, tetapi itu belum teraplikasi dalam hidup kita secara konkret. Kita menganggap sepi tindakan-tindakan kita yang sebenarnya belum sesuai dengan kehendak Allah, tapi kita merasa nyaman-nyaman saja. Namun, jika kita tekun dan setia dalam kebenaran, pada akhirnya kita akan tahu bahwa setiap kata yang kita ucapkan, yang ditulis dalam gadget kita, semua itu harus dalam pertimbangan apakah ini melakukan kehendak Allah atau tidak. Termasuk juga setiap gerak pikiran dan hati kita.

Tidak ada orang yang lebih merdeka dari orang yang sudah sampai pada tingkat “sudah selesai.”