Merdeka di Dalam Dia

Harus diingatkan kepada para pembicara atau para pengajar yang mengajar jemaat di mimbar gereja, agar mereka tidak sembarangan menyatakan bahwa jemaat adalah milik Kristus, tanpa menyertakan konsekuensi-konsekuensinya; yaitu konsekuensi menjadi milik Kristus. Hendaknya tidak sampai terjadi, sementara jemaat merasa milik Kristus, padahal mereka masih memiliki dirinya sendiri. Kalau mereka memiliki dirinya sendiri sedangkan dirinya terikat dengan berbagai kesenangan dunia, berarti mereka masih dimiliki oleh dunia. Secara de jure, sebenarnya mereka dimiliki oleh Tuhan, tetapi secara de facto, mereka dimiliki dunia. Mereka dimiliki dunia sebab diri mereka masih dalam keterikatan dengan materi dunia ini atau kekayaan dunia dengan segala keindahannya. Dengan tindakan ini, mereka sebenarnya memberontak kepada Tuhan; tidak menundukkan diri kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Rajanya. Tidak heran kalau orang-orang seperti ini akan ditolak Tuhan pada waktunya. 

Untuk menjadi milik Kristus, seseorang harus rela meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”). Orang yang tidak melepaskan diri dari segala sesuatu, tidak dapat diubah Tuhan; mereka tidak dapat dimuridkan. “Dimuridkan” artinya dinasihati dan diajari untuk diubah. Jika demikian, berarti keselamatan yang disediakan bagi mereka disia-siakan. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula. Orang percaya yang benar, yang mengalami proses dikembalikan ke rancangan semula Allah, harus memberi segenap hidupnya bagi Tuhan. Hidup dalam kebenaran Tuhan dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi Kerajaan Surga, inilah ciri-ciri dari orang yang dimiliki oleh Tuhan dan merdeka dalam-Nya. 

Hal tersebut di atas terkait atau sejajar dengan pernyataan Paulus bahwa jemaat Roma lebih dari pemenang (Rm. 8:37). “Menang” di sini artinya unggul. Menang bukan dalam arti fisik, kekayaan, politis, dan segala aspeknya; sebab hal-hal tersebut bagi jemaat Roma tidak berarti sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang tertindas, miskin, dan lemah. “Menang” yang dimaksud adalah menang sebagai orang-orang yang dikasihi oleh Tuhan dan memiliki janji dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini, jemaat Roma lebih dari orang-orang (penduduk Roma lainnya) yang menang atau memiliki kelebihan secara politik, kekuasaan, ekonomi, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, hendaknya pembicara di mimbar tidak sembarangan mengatakan atau menyatakan bahwa semua jemaat yang ada sekarang ini adalah umat pemenang, tanpa mengajarkan perjuangan yang harus dijalani seperti jemaat Roma yang telah berjuang dan setia sampai akhir. Setiap umat pemenang adalah mereka yang memerdekakan diri secara aktif untuk lepas dari belenggu dunia untuk masuk dalam belenggu Tuhan. 

Pernyataan Paulus mengenai “lebih dari orang-orang menang” sebenarnya ditujukan kepada jemaat Roma yang sudah teruji perjuangannya, sehingga pantas disebut demikian. Hal ini tidak bisa ditujukan kepada semua orang Kristen, tetapi hanya untuk mereka yang sudah berjuang seperti jemaat Roma. Bagaimana bisa dikatakan menang jika tanpa perjuangan? Menimbang hal di atas, hendaknya kita tidak sembarangan mengenakan ayat Roma 1:6 tersebut kepada sembarang orang Kristen zaman ini. Hendaknya, kita tidak sembarangan mengatakan bahwa semua orang Kristen adalah milik Kristus dan telah menjadi umat pemenang. Banyak orang Kristen yang tidak dimiliki oleh Tuhan, sebab memiliki dirinya sendiri atau dimiliki oleh dunia, berhubung hati mereka tertambat pada percintaan dunia. Orang-orang Kristen seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai umat pemenang, sebab belum membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus dengan mengorbankan segala sesuatu yang ada padanya bagi Tuhan

Fakta yang terjadi hari ini, banyak orang Kristen yang merasa mengikut Tuhan Yesus hanya karena beragama Kristen dan pergi ke gereja. Tidak sedikit mereka menjadi Kristen karena mencari atau mau menerima berkat jasmani (kemakmuran duniawi) saja. Lebih parah lagi apabila Tuhan dipandang sebagai penolong untuk meraih dunia. Mereka tidak mengerti bahwa mengikut Tuhan Yesus adalah mengikuti jejak-Nya, seperti jemaat Roma memiliki keadaan yang berbeda dengan dunia ini dan berani menderita demi kepentingan pekerjaan Tuhan (Rm. 12:1-2). Mereka yang tidak sama dengan dunia ini, yang rela meninggalkan segala miliknya dan berjuang hanya untuk kepentingan Tuhan, adalah yang benar-benar layak disebut sebagai milik Tuhan. Mereka adalah orang yang merdeka dalam Tuhan karena memilih secara sadar dan sengaja untuk hidup bagi kepentingan-Nya. Hidup mereka hanya dimaksimalkan seluas-luasnya untuk pekerjaan Tuhan tanpa batas. 

Ciri dari orang yang dimiliki oleh Tuhan dan merdeka di dalam Dia adalah mereka hidup dalam kebenaran Tuhan dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi Kerajaan Surga.