Merdeka dari Segala Keinginan

Seharusnya, setiap kita memiliki perasaan krisis—bukan krisis karena uang atau krisis karena nama baik kita dicabik-cabik, atau juga krisis karena keinginan kita tidak terpenuhi—melainkan karena kita takut kalau-kalau masih ada kesalahan yang kita lakukan atau ketidaktepatan, dan kalau-kalau mestinya ada yang bisa kita lakukan untuk Tuhan tetapi kita menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Jangan hanya bangga karena menjadi pendeta, atau karena telah setia mengikuti khotbah Suara Kebenaran. Tetapi, mari kita responsif mengenakan kebenaran ini. Sampaikan, “selidiki aku, Tuhan,” seperti yang pemazmur katakan. Makanya kita harus selesai dengan diri kita sendiri. Tidak ada orang yang lebih merdeka dan mulia daripada seorang yang berhenti dari segala keinginan. Ini sungguh tidak mudah. Tidak ada lagi cita-cita, tidak ada lagi sesuatu yang membuat dirinya bahagia, tetapi ia selalu bertanya, “Apa yang harus kulakukan, Bapa?” Kalau kita bisa mengikuti ini, kita menjadi orang yang sangat beruntung. Karena, pertaruhannya adalah kekekalan.

Kalau segenap hidup bisa kita persembahkan untuk Tuhan, berhenti dari segala keinginan pribadi, dan hanya ingin melakukan kehendak Bapa, ini tidak berlebihan. Karena memang Alkitab mengatakan, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Barangkali ada yang bertanya atau berkata atau menanggapi, “Bukankah kita sebagai manusia boleh punya keinginan?” Memang manusia diciptakan Tuhan dengan pikiran, perasaan, supaya manusia memiliki kehendak atau memiliki keinginan. Manusia tidak mungkin tidak punya keinginan dan memang tidak boleh tidak punya keinginan. Tetapi masalahnya adalah, apa objek keinginan kita? Itu masalahnya. Kalau tadi dikatakan bahwa orang yang paling merdeka adalah orang yang tidak memiliki keinginan, maksudnya bukan kita meniadakan keinginan, melainkan keinginan kita hanya ditujukan kepada Tuhan.

Sebab, kita hidup di dunia yang sudah jatuh, dunia yang terhukum, dunia yang terkutuk. Sementara, moral karakter kita juga masih berantakan. Maka, apa yang muncul di hati dan pikiran kita, produk dari dunia sekitar kita. Ditambah dengan ambisi pribadi yang keruh melahirkan kejahatan, melahirkan dosa. Kalaupun itu kelihatannya tidak melanggar hukum, namun tidak membuat kita melekat dengan Allah. Kita akan selalu punya keinginan sampai selama-lamanya. Di surga, keinginan atau kehendak individu itu masih ada, dan kehendak individu itu selalu bebas. Allah memberi kedaulatan manusia dalam kedaulatan yang terbatas. Dan di dalam kedaulatan itu, manusia memiliki keinginan. Jadi kalau kita memiliki keinginan yang ditujukan kepada objek tertentu—bukan Tuhan dan Kerajaan-Nya—pasti kita lepas dari hadirat Allah, jatuh, terbelenggu, atau terikat. Logikanya, kita hidup tidak lebih dari 70-80 tahun. Setelah itu, kita akan memasuki dunia di mana tidak ada dosa, dunia di mana tidak ada kejahatan, dunia di mana tidak ada kuasa kegelapan. Sehingga, secara otomatis keinginan-keinginan seseorang pasti baik. Tetapi untuk memiliki keinginan yang selalu baik, bukan dimulai nanti waktu di surga, melainkan sejak di bumi kita sudah melokalisasi keinginan kita, mempersempit keinginan kita. Yang akhirnya, nanti kita fokuskan satu saja, yakni Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Kemuliaan bersama Tuhan itu tak ternilai. Jangan sampai kesempatan dimana kita bisa berkobar-kobar mengisi hari hidup untuk melayani Tuhan, rusak karena pergaulan. Seperti orangtua di dunia ini, tidak ingin anak-anaknya bergaul dengan orang-orang yang bisa mengganggu dan merusak masa depan anaknya. Baik masa depan secara ekonomi, maupun secara moral. Orang yang tidak berurusan dengan Allah, tidak peduli dengan siapa dia bergaul. Yang penting dia merasa ada kebersamaan, yang penting dia senang. Simbiosis mutualisme; saling menguntungkan. Kita harus sungguh-sungguh mempertimbangkan apakah kita bergaul dekat dengan orang yang Allah menyukai kita bergaul dengan dia, atau tidak. Mazmur 73:24-26, mengatakan, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Ini Firman Tuhan. Jadi, ketika seseorang fokus kepada kekekalan—dalam hal ini surga—maka tidak ada yang diingininya lagi di bumi. Kita akan merasakan damai sejahtera yang luar biasa. Kita bisa merasakan bahagia yang sesungguhnya. Kita bisa menikmati hadirat Tuhan lebih dari waktu-waktu yang telah kita lalui. Hanya syaratnya, jangan ingini apa pun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Tidak ada kehidupan yang lebih merdeka daripada seorang yang telah berhenti dari segala keinginan.