Meratap

Dalam perjalanan hidup ini, pasti kita pernah meratap kepada Tuhan; meratap karena berbagai masalah hidup. Juga seperti saat ini, banyak orang ketakutan sampai benar-benar paranoid—seperti orang sakit jiwa dan memang sakit jiwa—karena takut terpapar COVID-19. Apalagi kalau mereka memiliki penyakit bawaan (komorbid) atau kelemahan fisik tertentu, maka hal terpapar COVID-19 seakan eksekusi hukuman mati, sehingga orang meratap. Atau karena masalah anak, masalah rumah tangga, atau masalah hukum yang bisa mengancam nyawa dan mengancam dirinya sehingga bisa masuk penjara belasan tahun atau bahkan puluhan tahun, orang meratap kepada Tuhan. Ada saat-saat dimana kita ada di dalam keadaan yang sulit dan kita meratap kepada Tuhan, kita berseru kepada Tuhan. Saat seperti itulah kita bisa merasakan apa artinya membutuhkan atau memerlukan Tuhan. Tetapi setelah melewati persoalan-persoalan yang mengancam hidup, kita tidak lagi melekat kepada Tuhan seperti ketika ada dalam masalah. 

Ini adalah kelicikan. Banyak orang licik. Mereka berurusan dengan Tuhan pada saat atau ketika dalam masa-masa krisis saja. Orang seperti ini adalah orang yang oportunis; orang yang memanfaatkan Tuhan. Sejatinya, Tuhan lebih dari sekadar bermanfaat. Tuhan itu segalanya dalam hidup kita. Jadi, pada saat kita tidak memiliki masalah, mestinya kita sudah mencari wajah Tuhan dengan sungguh-sungguh. Sebab, yang kita butuhkan itu Tuhan. Jadi, entah kita punya masalah atau tidak, entah kita sakit atau sehat, kita ada dalam ancaman atau tidak dalam ancaman, kita dalam satu persoalan atau tidak menyangkut masalah fana dunia; Tuhan adalah objek pencarian kita. Kita sangat-sangat-sangat membutuhkan Dia. Sebab, Tuhan adalah kehidupan kita; seperti nafas hidup kita. 

Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, banyak orang berebut oksigen. Betapa berartinya oksigen bagi yang terpapar COVID-19 dan mengalami kesulitan bernafas. Ada yang mencari tabung oksigen sampai melakukan pelanggaran hukum, seperti berita yang dilansir di salah satu televisi swasta. Ada sekelompok orang yang tak dikenal masuk ke rumah sakit mau meminjam atau meminta oksigen, lalu petugas rumah sakit tentu tidak memberikan karena oksigen itu dibutuhkan di rumah sakit. Petugas rumah sakit itu lalu dianiaya, dan tabung oksigennya diambil. Mengapa orang-orang itu sampai nekat berbuat demikian? Karena demi nyawa orang yang mereka cintai. Tuhan itu seperti oksigen hidup kita. Artinya, kebutuhan mutlak yang harus kita miliki. Tanpa oksigen, tubuh jasmani kita mati. Tetapi nyawa kekal kita, roh kekal kita, kesadaran abadi kita membutuhkan oksigen yang membuat kita hidup di dalam kemuliaan kekal bersama Tuhan Yesus.

Orang yang benar-benar menjadikan Tuhan sebagai kebutuhan satu-satunya, tidak mungkin berani berbuat dosa. Kalau berbuat salah atau menyimpang sedikit saja, dia akan segera membereskannya di hadapan Tuhan. Karena, hubungan yang tidak harmoni dengan Tuhan adalah siksaan yang menyakitkan. Kalau kita melakukan kesalahan, kita betul-betul merasa terpukul. Orang yang benar-benar membutuhkan Tuhan pasti hidup suci. Lalu selanjutnya, dia pasti bisa menembus perasaan takut. Memang tidak bisa dipungkiri adanya perasaan takut atau cemas ketika kita menghadapi persoalan berat. Coba hampiri Allah. Percayalah akan kebijaksanaan-Nya. Apa pun yang terjadi, semua ada dalam kontrol Allah yang sempurna. Allah yang mengasihi kita, yang kita butuhkan, dan kita tinggal di dalam Dia. Ayo, kita meratap membutuhkan Tuhan karena Tuhan sendiri. Jadi, kalau untuk masalah fana kita datang dan meratap kepada Tuhan, terlebih lagi untuk kesucian hidup, kita harus sungguh-sungguh mendekat dan meratap kepada-Nya.

Kalau untuk masalah fana kita datang dan meratap kepada Tuhan, terlebih lagi untuk kesucian hidup, kita harus sungguh-sungguh mendekat dan meratap kepada-Nya.