Menunggu Jemputan

Seiring dengan lebih lengkapnya kebenaran yang kita pahami, maka kita semakin memahami dan menyadari bahwa salah satu kesalahan yang fatal dalam kehidupan orang Kristen dalam kehidupan pelayanan gereja adalah ketika orang-orang Kristen merasa sudah mengenal Allah hanya karena sudah memiliki pengetahuan tentang Allah (teologi). Dan inilah yang membuat sekarang ini banyak orang mendadak menjadi pembicara, menjadi pengkhotbah, berbicara tentang Allah di media sosial, serta merasa bahwa apa yang mereka katakan itu benar. Bukan tidak mungkin; memang yang dikatakannya bisa benar, tetapi sesungguhnya Allah yang hidup, Allah yang nyata, harus Allah yang dijumpai atau dialami. Tidak mengecilkan arti pengetahuan tentang Allah (teologi), tetapi marilah kita benar-benar berusaha untuk menemui Allah dan mengalami Dia. 

Tentu dimulai dari doa yang dapat kita lakukan setiap hari. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Allah, maka seperti yang difirmankan: “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui,” maka kita bisa menemukan Dia. Kita bisa memiliki banyak ilmu tentang Allah atau teologi, tetapi itu bukanlah modal atau bekal seseorang pasti dapat menjumpai Allah. Kita harus betul-betul menemui Dia dan mengalami Dia dalam kehidupan secara konkret. Dan memang sesungguhnya Allah dapat ditemui sehingga seseorang dapat memiliki pengalaman dengan Allah secara riil. Inilah adalah kabar baik. Hal ini mestinya membuat hidup kita bergairah, sebab memang gairah kita mestinya hanya dapat dinyalakan kalau itu bertalian dengan Tuhan yang menjadi kehidupan dan kehormatan kita. 

Oleh sebab itu, adalah bijaksana kalau kita menghindari perdebatan, menghindari banyak bicara, dan kita hanya mau mengalami perjumpaan dengan Tuhan setiap hari secara nyata atau konkret. Mungkin orang bisa bicara apa saja tentang kita, tetapi perjumpaan kita dengan Allah harus berbuah dan menunjukkan bahwa kita tidak hanya berteori mengenai Tuhan melainkan mengalaminya secara langsung dan nyata. Buah dari kehidupan seorang yang mengalami Tuhan antara lain: Pertama, kekudusan; seseorang akan takut akan Allah sehingga bisa hidup dalam kesucian standar Allah. Kedua, menjadi tidak tertarik lagi dengan keindahan dunia. Memang kita masih membutuhkan uang dan berbagai fasilitas, tetapi hati kita tidak tertarik di situ. Semua yang kita upayakan hanya untuk pekerjaan Allah.

Ketiga, memiliki keberanian menghadapi hidup. “Hidup” di sini adalah berbagai masalah, menghadapi berbagai ancaman, dan ketika kita tersudut dalam berbagai kebutuhan, kita percaya kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah-nya Musa, Allah yang hidup, yang bisa kita percaya. Keempat, pasti rela berkorban apa pun untuk Allah. Kita bersedia menjadi anggur tercurah dan roti yang terpecah. Bagi kita, berkorban untuk pekerjaan Tuhan adalah kebutuhan, bukan lagi sebagai kewajiban. Prinsip hidup yang benar: bagiku adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Kelima, merindukan pulang ke surga. Sebenarnya, kalau seseorang sudah tidak lagi merindukan pulang ke surga, itu berarti ada yang tidak beres dalam hidupnya. Di sini ada unsur-unsur yang menuju sikap berkhianat kepada Tuhan; besar potensi melakukan perselingkuhan rohani. Ini bukan selingkuh secara seks, melainkan “selingkuh terhadap Tuhan,” artinya ada sesuatu yang menarik hati sehingga hatinya kurang bulat, kurang utuh, kurang tulus dalam mencintai Allah. 

Apa yang dikemukakan di sini tidak memiliki tendensi apa-apa, kecuali mengajak semua untuk mau benar-benar menjadi Kristen yang baik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Hendaknya, kita menemui Tuhan dan benar-benar mengalami Tuhan. Hendaknya kita juga tidak merasa puas dengan ilmu tentang Tuhan yang kita miliki, perdebatan-perdebatan mengenai teologi, dan ayat-ayat Alkitab. Sebaliknya, kita harus sungguh-sungguh mengikuti jalan Tuhan. Tuhan tahu kita mencintai Dia atau tidak. Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak, dan Yakub, Allahnya Musa, bisa kita tarik hadir di dalam hidup kita, kalau kita hidup dalam kesucian-Nya. Itu luar biasa. Kita tarik di dalam hidup kita, kita alami hari ini; di zaman kita, dalam pergumulan dan persoalan yang kita hadapi.

Dan tentu saja kita yang menemui Tuhan, akhirnya akan mendengar Tuhan berbicara bahwa kita harus keluar dari Mesir dunia ini, untuk menuju negeri Kanaan Surgawi. Kanaan Surgawi, dimana Allah Bapa menjanjikannya melalui Tuhan kita, Yesus Kristus, yang mengatakan di mana Yang Mulia Tuhan Yesus ada, Dia ingin kita juga ada (Yoh. 14:1-3). Dia berjanji menyediakan tempat bagi kita. dan setelah Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, menyediakan tempat bagi kita, Dia akan datang kembali menjemput kita. Kita menunggu jemputan. Kita tidak berlama-lama hidup di bumi ini, kita hanya menunggu jemputan.