Menjerit Untuk Hidup Suci

Saudaraku,

Setiap kita pasti pernah memiliki persoalan yang sangat berat, pernah memiliki persoalan yang sangat mengancam hidup kita. Atau mungkin sekarang Saudara sedang menghadapinya? Dan Saudara pernah menjerit kepada Tuhan, berseru kepada Tuhan untuk mendapat pertolongan Tuhan, mendapat jalan keluar dari persoalan itu. Dengan jeritan yang begitu dalam. Tangisan yang begitu menyayat di dalam jiwamu untuk satu persoalan yang Saudara hadapi atau ancaman atas hidup Saudara yang begitu besar. Tentu di dalam hidup saya, saya juga mengalami saat-saat seperti itu. Persoalan berat, pergumulan berat, ancaman di dalam hidup saya yang sangat berat, dan saya menjerit, saya berseru kepada Tuhan. Apakah itu masalah keluarga, masalah sakit penyakit, apakah masalah ekonomi, apakah masalah hukum, apakah masalah-masalah tertentu yang membuat nama baik Saudara hancur, keluarga Saudara hancur, usaha Saudara hancur, atau apa pun.

Kalau kita bisa berseru kepada Tuhan, menjerit untuk berbagai persoalan, mengapa untuk hal satu ini kita tidak menjerit? Yaitu bagaimana kita bisa hidup suci, bagaimana kita bisa hidup tidak bercacat tidak bercela, bagaimana kita bisa hidup berkenan kepada Allah. Tuhan mengajar saya satu hal ini. Dari muda memang saya rindu hidup benar. Dari muda saya sudah bertekad untuk hidup benar. Saya berdoa bagaimana untuk bisa hidup benar. Tetapi saya belum memiliki jeritan, belum memiliki ratapan yang tinggi, yang kuat untuk ini. Jadi masih ada hal lain yang masih saya anggap lebih mengancam hidup saya. Mengatakan hal ini bukan berarti keselamatan adalah hasil dari perbuatan kita. Kalau kita menjerit untuk menjadi seorang yang berkenan, bukan berarti kita belum memiliki keselamatan. Justru karena kita sudah memiliki keselamatan—artinya dosa-dosa kita sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus—kita sudah berkeadaan dibenarkan, tetapi kita belum benar-benar benar.

Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, mau usaha baik bagaimana pun, tetap masuk neraka. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, mau berusaha saleh bagaimana pun, tetap binasa. Lagipula tidak akan ada pengadilan atau penghakiman. Semua manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib; tidak ada pengadilan, tidak ada perhitungan, semua meluncur ke neraka. Tetapi dengan Yesus mati di kayu salib, maka ada pengadilan. Orang diadili menurut perbuatannya, artinya apakah mereka punya batin yang baik, yang tidak membahayakan bagi sesamanya. Makanya kepada orang-orang yang berbuat baik kepada orang lain, mereka boleh masuk dunia yang akan datang. Tetapi bagi kita—umat pilihan—kita harus sempurna seperti Bapa serupa dengan Yesus. Karena kita harus memiliki kesucian seperti kesucian Allah. 

Bapa di surga berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus”, “Jangan menyentuh apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu”, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Jelas kita harus serupa dengan Yesus. Serupa apanya? Tentu dalam kualitas hidup-Nya. Karena di dalam Filipi 2:5-7 dikatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh (Yun. phroneo) pikiran dan perasaan (itu dalam bahasa kita) (Ingg. attitude artinya sikap) dalam Kristus Yesus. Ini manusia batiniah. Memiliki sikap seperti Yesus. Itu standarnya. Maka seharusnya kita meratap, “mengapa aku masih berkeadaan seperti ini?” Saya sadar saya berjuang untuk hidup benar dari dulu, tetapi belum sampai jeritan yang tertinggi. 

Kalau sedang menghadapi masalah-masalah berat, baru kita menjerit. Mengapa kita tidak menjerit setiap hari untuk hidup suci? Kiranya kita tidak perlu berdebat tentang hal ini. Mari masing-masing temui Tuhan dulu, agar kita mengerti dengan benar kebenaran yang bukan hanya dirumuskan oleh pikiran, tetapi oleh perjumpaan dengan Allah, dan ternyata Allah menghendaki kesucian. Orang yang memandang bahwa kematian Yesus di kayu salib sudah membuat selesai segala proses keselamatan, berarti dia tidak menyadari, tidak mengerti kesucian Allah yang luar biasa dan Allah menghendaki kita memiliki kesucian seperti kesucian-Nya.

Mari kita menjerit untuk hal ini. Hari ini, kita minta agar menjadi hari yang baru bagi kita. Ayo kita berseru, “Tuhan tolong aku, lebih dari semua yang kubutuhkan, lebih dari semua yang kuperlukan, aku hanya ingin bagaimana aku berkenan di hadapan-Mu.” Kita mohon anugerah Tuhan untuk ini. Sejatinya, hal ini menunjukkan bahwa kita menghormati Tuhan, menunjukkan bahwa kita tidak memberhalakan apa pun. Kadang-kadang ini terlihat seperti tidak waras, tetapi inilah standar hidup yang benar.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Kalau kita bisa menjerit untuk berbagai persoalan hidup, mengapa untuk dapat hidup suci, kita tidak menjerit?