Menjaga Hati

Memercayai bahwa Allah itu Pribadi yang hidup dan nyata, tidaklah mudah. Mudah mengatakan percaya, tetapi percaya dalam arti yang benar, tidak mudah. Sejatinya, tidak banyak orang yang benar-benar memercayai bahwa Allah itu ada. Sebab, banyak orang beragama yang mengaku percaya kepada Allah, tetapi sebenarnya belum percaya atau tidak percaya. Hal itu tampak dari kehidupannya. Kalau kita memeriksa kehidupan kita dulu, kita tahu benar apa yang dikemukakan ini. Kita mengatakan kita percaya Tuhan, tetapi kita ada dalam cengkeraman ketakutan dan kekhawatiran. Padahal, kita mengatakan Allah itu Mahakuasa, Allah itu baik, Allah itu menjaga. Itu tidak menunjukkan bahwa kita percaya. Mulut mengatakan percaya kepada Tuhan, tetapi kita sembarangan menggunakan mulut yang sama. Sembarangan dalam berpikir, apalagi dalam perilaku, seakan-akan Allah tidak ada. Ini adalah cara dan gaya hidup manusia pada umumnya, atau hampir semua manusia berlaku seperti itu. Mungkin dulu kita juga begitu.

Sekarang, kalau kita berkata bahwa kita memilih untuk percaya bahwa Allah itu ada, Allah itu hidup, Allah itu nyata dan kita menunjukkan hormat kita kepada Allah, maka kita buktikan dengan hidup tak bercacat, tak bercela. Setiap kali kita melakukan sesuatu—baik apa yang kita pikirkan, kita renungkan, atau kata-kata yang kita mau ucapkan, apalagi perbuatan, kelakuan—baiklah kita selalu berpikir bahwa Allah yang hidup, Allah yang Mahahadir melihat segala sesuatu yang kita lakukan. Dan jika kita mempertimbangkan hal ini dengan benar, dengan serius, pasti kita tidak akan berani sembarangan berbuat sesuatu. Kita tidak akan ceroboh. Kita berhitung dengan sungguh-sungguh bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dapat melukai hati Allah. Bukan hanya kelakuan, melainkan juga perkataan-perkataan kita. Bukan hanya ketika kita di depan orang, tetapi di belakang orang lain yang kita percakapkan, kita juga harus sangat berhati-hati.

Sejujurnya, kita sering meleset. Kalau kita memeriksa hidup kita di hadapan Allah, masih ada kesalahan yang masih saja kita lakukan. Baik melalui pikiran, maupun perasaan kita yang tidak terlihat orang. Dalam hal ini, tidak ada pihak mana pun yang dapat menjaga kita. Tanggung jawab menjaga diri terdapat pada diri kita sendiri. Tuhan memberikan Roh Kudus. Tetapi kalau kita tidak merespons dengan benar, Roh Kudus tidak memaksa. Pilihan itu ada di tangan kita. Kita jaga pikiran, kita jaga perasaan, kita jaga mulut, kita jaga seluruh anggota tubuh kita. Semua bersumber di hati. Sebab, suatu saat kita akan ada di pengadilan Tuhan. Kalau kita tidak hidup benar-benar bersih, kita tidak akan tahan berdiri di hadapan kesucian Allah. Kita mau mempersiapkan diri untuk berdiri di hadapan takhta pengadilan-Nya, agar kita juga layak masuk Rumah Bapa. Allah adalah Pribadi yang luar biasa, yang agung. Allah yang besar, yang kebesaran-Nya, kemuliaan-Nya, dan keagungan-Nya melampaui apa yang kita pikirkan. Oleh sebab itu, kalau kita berurusan dengan Allah yang hidup, kita tidak boleh sembarangan.

Allah Mahakudus, karenanya di dalam 1 Petrus 1:16 firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Ini semua tergantung pada kita, bukan pada orang lain, maupun Tuhan. Kalau kita memilih untuk percaya, kita bisa. Kita bisa bebas dari kekhawatiran dan ketakutan. Tetapi memang tidak mudah, karena Allah tidak kelihatan. Sedangkan, masalah-masalah kita sering mengancam di depan kita secara langsung dan kelihatan nyata. Tetapi kalau kita terus belajar kebenaran Firman yang membangun bangunan berpikir yang benar, kalau kita menyediakan waktu bertemu dengan Tuhan dalam doa seperti saat ini, pastilah kita bisa bertumbuh dalam takut akan Allah, bertumbuh dalam kasih, cinta kepada Tuhan yang tidak kelihatan itu. Jika kita berurusan dengan Dia, harus benar-benar tak bercacat, tak bercela, kudus, tidak menghargai dunia seperti anak dunia, tidak terikat dengan keindahan dunia ini. Barulah kita dapat bertumbuh untuk kokoh, tabah, kuat menghadapi segala keadaan.

Jika kita berada di luar kemampuan kita, kita pasrah saja. Kadang, Tuhan akan mengizinkan kita berada di posisi sulit dan terjepit yang bisa membuat kita jatuh atau hancur. Tapi yang penting, kita tidak berdosa kepada Tuhan. Tuhan pasti akan berperkara, Tuhan pasti akan menolong kita, dan kita akan melihat bukti-bukti kehadiran dan pertolongan Tuhan. Di situ, kita makin bertumbuh untuk mengasihi Tuhan, menghormati Tuhan, sehingga kita bisa hidup lebih tak bercacat, lebih kudus. Dan akhirnya, ada keberanian menghadapi segala sesuatu. Rasa khawatir, cemas, dan takut, akan hilang secara bertahap, sehingga pada akhirnya kita rindu pulang ke surga. Mari, sekarang kita menjaga hati kita agar kita bersih dari segala kemelesetan. 

Tidak ada pihak mana pun yang dapat menjaga hati kita. Yang menjaga itu harus diri kita sendiri.