Menjadi Saksi

Banyak agama menyaksikan dan mengajarkan mengenai Allah yang menciptakan langit dan bumi; Allah yang Mahakuasa, Mahatinggi, Mahabesar dan sederetan gelar lainnya. Mereka berusaha untuk membuktikan bahwa Allah yang mereka percayai bukan saja eksis, tetapi juga benar. Biasanya mereka bersikap skeptis terhadap kepercayaan agama lain, bahkan ada yang terang-terangan menentang dan menuduh sebagai sesat. Demi menyenangkan Allah yang mereka yakini sebagai Allah yang benar, mereka bisa melakukan tindakan yang irasional, melampaui batas-batas kemanusiaan. Mereka menunjukkan kesaksian-kesaksian untuk membuktikan keberadaan dan keperkasaan Allah yang mereka sembah. Dari hal ini, hendak dikesankan bahwa Allah yang paling kuat itu adalah Allah yang benar. Memang di abad-abad awal kekristenan dan di beberapa tempat khusus lainnya, untuk menunjukkan kebenaran Injil harus ada mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang menarik orang menjadi percaya kepada Tuhan Yesus.  

Namun hal itu bukanlah metode permanen dan umum, artinya tidak harus berlaku di semua tempat, kepada semua orang dan di sepanjang waktu. Buktinya, setelah masa keemasan zaman mukjizat, muncul masa aniaya. Dan Tuhan pun terkesan tidak membela orang percaya dan tidak berdaya sama sekali. Mereka menjadi orang yang “kalah.” Apalagi pada abad ke 6-8 ketika ekspansi agama besar dari Arab melanda seluruh Asia dan sebagian Eropa, kekristenan kalah sama sekali, bahkan nyaris punah. Banyak gereja yang berubah menjadi rumah ibadah agama lain. Di mana Allahnya orang Kristen pada waktu itu? Hal ini sudah dinubuatkan dalam Wahyu 13:7, bahwa orang-orang kudus dikalahkan oleh mereka. Tuhan membiarkan hal itu terjadi. Sungguh suatu kebijaksanaan Tuhan yang tidak bisa kita mengerti. 

Kalau suatu ketika Tuhan tidak menggunakan cara atau metode mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau untuk menyampaikan kesaksian dalam pemberitaan Injil, tentu hal itu ada dalam pertimbangan Tuhan yang sempurna. Orang Kristen di abad yang berbeda, di tempat yang berbeda dengan objek yang berbeda belum tentu diperkenan memakai cara dan metode yang sama. Kalau Tuhan menggunakan cara atau metode mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau, biasanya hal ini dilakukan Tuhan di tempat di mana orang belum mengenal Injil sama sekali. Apalagi di wilayah agama suku yang menuntut bukti, maka pemberitaan Injil mutlak harus disertai dengan mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau yang bisa menarik orang percaya kepada Tuhan Yesus.  

Namun kita tidak boleh memaksakan untuk menggunakan mukjizat, tanda-tanda heran dan berbagai kesaksian yang memukau tersebut tanpa komando Tuhan. Bila ada yang memaksa menggunakan cara tersebut, berarti ada maksud-maksud pribadi di balik proyek tersebut. Tuhan akan memenuhi janji-Nya, tetapi orang-orang yang bertindak di luar kehendak Bapa, akan menuai buahnya. Mereka bisa ditolak oleh Tuhan Yesus (Mat 7:21-23). Hal ini jelas menunjukkan bahwa karunia bukanlah ukuran kedewasaan dan perkenanan Tuhan. Penjelasan ini tidak bermaksud mengecilkan arti kuasa Tuhan dan hati orang percaya yang rindu bersaksi. Kita harus mengalir bersama dengan Roh Kudus dan selalu bertindak sesuai dengan kehendak Bapa. Dalam hal ini, yang dibutuhkan adalah kepekaan untuk mengerti kehendak Allah supaya segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan.

Kita tidak boleh terjebak menjual jasa dengan memakai nama Tuhan Yesus yang berkuasa untuk agenda-agenda pribadi yang terselubung. Cara orang Kristen menyaksikan Allahnya dan menjadi saksi bagi Kristus berbeda dengan zaman Perjanjian Lama. Fokus hidup umat Perjanjian Lama adalah pemenuhan kebutuhan jasmani dan orientasi berpikirnya adalah dunia ini. Umat Perjanjian Baru berfokus pada manusia batiniah dan orientasinya adalah langit baru dan bumi yang baru. Mendemonstrasikan mukjizat, tanda heran dan kesaksian yang memukau bukanlah cara atau metode yang permanen. Itu adalah cara dan metode temporal, situasional dan dalam situasi ekstrem. 

Orang percaya di zaman Perjanjian Baru harus menyaksikan keberadaan dan kebenaran Injil melalui seluruh keberadaan kehidupannya dari berbagai aspek. Ini adalah cara atau metode yang permanen yang berlaku bagi semua orang percaya di sepanjang zaman, di segala tempat dan di segala situasi. Cara atau metode menjadi saksi ini akan mendorong orang percaya bertumbuh untuk bisa mengenakan pribadi Kristus dalam hidup ini. Tanpa menjadi pribadi seperti Kristus, seseorang tidak bisa menjadi saksi.  Tujuan kesaksian itu sendiri adalah agar orang diselamatkan. Diselamatkan artinya dikembalikan ke rancangan semula. Hal ini menunjuk kepada perubahan tingkah laku yang radikal. Kehidupan orang Kristen harus memancarkan kesalehan yang luar biasa atau memukau, seperti terang yang menakjubkan (1Ptr. 2:9). Kehidupan seperti itu seakan mendeklarasikan bahwa 2000 tahun yang lalu Anak Allah telah turun ke dunia dengan tubuh daging seperti kita. Kitalah saksi-Nya dengan menunjukkan gaya hidup Anak Allah tersebut.  

Tanpa menjadi pribadi seperti Kristus, seseorang tidak bisa menjadi saksi.