Mengukir Sejarah Kehidupan

Pasti ada di antara kita yang pernah atau sedang menyesali perjalanan hidup masa lalunya. Ada orang-orang yang sempat disadarkan. Dan Bapa sangat menginginkan untuk bisa menggarap kita menjadi orang-orang yang bernilai. Allah tidak menciptakan seseorang dengan segala keunikannya untuk menjadi orang yang tidak bernilai dan dibuang ke neraka. Allah tidak menghendaki demikian. Allah mengingini setiap orang dengan personalitinya masing-masing—yang tidak ada duanya—menyelesaikan pekerjaan Allah yang dipercayakan kepadanya, menerima pengurapan Roh Kudus, dan membuat sejarah hidup yang menyenangkan hati Allah. Allah menghendaki demikian. Allah tidak menghendaki manusia yang diciptakan Allah dengan begitu unik dan pasti memiliki keluarbiasaan, ditunggangi oleh kuasa gelap, sehingga sepak terjang hidupnya, petualangan hidupnya adalah petualangan hidup yang mendukakan hati Allah.

Menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah selama ini petualangan hidup kita sudah merupakan petualangan hidup anak-anak Allah? Kuasa gelap membuat hidup kita menjadi tidak jelas, kabur. Sebenarnya kalau kita berurusan dengan Tuhan sungguh-sungguh, kita bisa. Setiap kita harus berurusan dengan Allah, harus bersentuhan dengan Allah. Sebab Allah mau menggarap kita secara khusus. Hanya dengan bersentuhan dengan Allah melalui Roh Kudus, kita bisa mengukir sejarah kehidupan sebagai anak-anak Allah. Tetapi sayangnya, kita melihat satu penyimpangan yang terjadi selama berabad-abad. Petualangan hidup dengan Allah digantikan dengan ilmu tentang Tuhan. Pengalaman dengan Tuhan secara pribadi digantikan dengan teologi. Dan ironisnya, hal itu dipelopori oleh para teolog. Mereka merasa bahwa dengan belajar tentang Tuhan, itu akan menentukan kualitas hidup kekristenannya.

Coba kita perhatikan orang yang ingin memiliki kuasa supranatural, dia pergi ke tempat-tempat keramat, ke gua-gua, ke gunung-gunung yang dianggap memiliki kekuatan gaib, ke kuburan-kuburan. Mereka berpuasa dan melakukan berbagai ritual supaya memiliki kekuatan. Lalu, mengapa kita tidak mencari Allah seperti itu? Kenapa untuk Tuhan, kita tidak mencari segiat itu? Apalagi di dunia modern ini, Tuhan menjadi tidak laku. Dengan begitu banyak racun yang telah merusak pikiran, Tuhan dianggap tidak ada atau tidak perlu ada. Bahkan, sampai tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Carilah terus sampai kita mengalami Tuhan. Tidak usah kita menyusun skripsi, tesis, jurnal ilmiah, atau buku. Kita bisa bertemu langsung dengan Tuhan. Kalau kita berjalan dengan Tuhan, orang pasti akan menemukan Yesus dalam hidup kita. Tentu dengan mengatakan ini, bukan berarti kita antiteologi, anti-STT. Tetapi teologi dan STT tidak menjamin seseorang memiliki hidup yang berkualitas sebagai orang yang diurapi. Itu masalahnya. 

Maka Tuhan Yesus berkata di Lukas 18:8, “Apakah kalau Anak Manusia datang, Dia mendapati iman di bumi?” Artinya, orang Kristen yang sesuai standar iman yang Allah kehendaki. Maka, kita harus mau periksa diri. Sebab, sebagian besar orang tidak peduli akan buku hidupnya. Sebelum menghadap takhta pengadilan Tuhan, gambar-gambar yang buruk kita minta Tuhan hapus—kalau kita sungguh-sungguh bertobat. Ini kabar baik. Allah mengampuni, Allah melupakan. Kita membuat lembar hidup yang baru. Hidup kita akan diubah. Jangan beri kesempatan kepada manusia lama kita. Firman Tuhan dalam Efesus 4:22-24 mengatakan, “… yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu…” Siapa yang menanggalkan manusia lama? Kita sendiri. Itu harus dari kita, harus usaha kita. Menanggalkan manusia lama, supaya kita dibaharui di dalam roh dan pikiran kita. 

Efesus 4:24, “dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Iman dalam Anak Allah, artinya penurutan seperti yang Yesus lakukan. “Dia yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Ini kalimat sebenarnya luar biasa kalau kita pahami. Maka sebagai satu balas jasa dan sikap yang seharusnya, kita membiarkan spirit-Nya, gairah-Nya, gaya hidup-Nya, cara berpikir-Nya menguasai hidup kita. Sehingga, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup dalam aku.” Karena Dia mengasihi aku, menyerahkan diri-Nya untuk aku, maka aku menghidupi hidup-Nya di dalam hidupku. Kalau bisa begini, petualangan hidup kita akan menjadi sangat luar biasa.

Hanya dengan bersentuhan dengan Allah melalui Roh Kudus, kita bisa mengukir sejarah kehidupan sebagai anak-anak Allah.