Menghitung Waktu

Kita harus menyadari bahwa kita sungguh-sungguh sedang hidup di penghujung dari akhir zaman. Perubahan dunia semakin cepat tidak terprediksi. Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa gereja sekarang adalah gereja yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Tuhan. Maka, gereja harus menjadi gereja yang tak bercacat seperti mempelai wanita yang siap dipertemukan dengan mempelai pria. Untuk itu, setiap individu dalam jemaat harus menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, yaitu menjadi orang Kristen yang selalu membenahi diri. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang Kristen benar-benar belajar kebenaran Firman Tuhan dengan serius, lebih dari waktu-waktu sebelumnya. Maka perlu kita sadari bahwa satu hal yang Tuhan berikan kepada kita semua adalah waktu. Kita masing-masing memiliki 24 jam setiap harinya. Bagaimana kita mengisi 24 jam itu adalah peran dari kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada kita. Masalahnya adalah waktu itu berjalan terus, tidak bisa diputar kembali dan kita tidak tahu kapan jarum jam kehidupan kita akan berhenti.

Dalam hal ini, ada tiga tipe orang berkenaan dengan peluang atau kesempatan dalam hidup ini. Pertama, orang yang tidak menyadari bahwa ada peluang baginya. Kedua, orang yang mengetahui adanya peluang, tetapi tidak mampu memanfaatkannya; mungkin karena ia takut mengambil risiko atau malas, baik secara fisik maupun intelektual. Ketiga, orang yang bukan saja jeli melihat peluang yang baik, melainkan juga berani mengambil risiko untuk memanfaatkan serta mengembangkannya. Bahkan, orang tipe ini mampu menciptakan peluang, atau dari menggarap satu peluang, ia menciptakan peluang-peluang baru, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Dalam proses pendewasaan dalam sekolah kehidupan, waktu harus digunakan dengan benar. Sebab di dalam waktu, ada momentum-momentum yang berharga dimana kita diperhadapkan kepada pilihan, mengarahkan hidup ke surga atau neraka; ke Tuhan atau kuasa lain. 

Paulus telah menasihati kita dalam Efesus 5:15-17, “Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Kata ‘waktu’ dalam teks aslinya adalah kairos (yang berarti kesempatan atau momentum). Bagaimana cara mempergunakan waktu yang benar? Hanya dengan merelakan dan membuang atau meninggalkan semua kesibukan dan pertemanan yang tidak mengarahkan hidup kita pada kedewasaan rohani atau pertumbuhan iman ke arah kesempurnaan seperti Kristus. Waktu yang tidak kita pergunakan untuk kepentingan kehidupan kekal berarti kita sedang membuang anugerah yang tidak ternilai dalam kehidupan yang singkat di bumi ini. Penyesalannya tidak dapat digambarkan dengan apa pun juga. Dalam hal ini, yang penting adalah niat yang kuat dan komitmen. Kehendak bebas kita harus diarahkan kepada arah yang jelas, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Hal ini akan membangun diri menjadi bijaksana. Bijaksana artinya mengerti kehendak Tuhan. Jadi, 70 tahun umur hidup kita merupakan sekolah kehidupan untuk mengerti kehendak Tuhan. Itulah sebabnya Alkitab menasihati: “Jangan seperti orang bebal (bodoh dan tidak bijaksana), tetapi harus menjadi bijaksana.”

Orang percaya harus menghargai waktu yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Setiap detik, menit, dan jam yang berlalu tidak dapat diputar ulang. Semua itu merupakan harta yang sangat mahal dan tidak terbeli (priceless). Itulah sebabnya pemazmur menaikkan doa kepada Tuhan, agar ia dapat menghitung hari-hari hidupnya yang singkat (Mzm. 90:12). Sebenarnya, begitu kita membuka mata kita pada pagi hari, kita harus dapat menghayati keajaiban yang Tuhan berikan kepada kita. Kata ‘menghitung’ dalam teks aslinya adalah limnowt dari akar kata manah; bukan hanya berarti menghitung (enumerate), tetapi juga memiliki beberapa pengertian, seperti membagi menurut ukuran beratnya (to weigh out); menjadikan resmi atau sah (to allot or constitute officially), mendaftarkan (enroll), dan menyusun (to set). Maka, berarti ‘menghitung’ di sini bisa berarti menghargai setiap hari yang Tuhan berikan.

Untuk menghargai setiap hari yang Tuhan berikan, orang percaya harus sungguh-sungguh belajar mengenal dan mengalami Tuhan, sehingga semakin hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Ketika seseorang sudah terbujur kaku, maka waktu satu detik nilainya sudah tidak terhingga. Berkat-berkat yang disediakan Tuhan guna proses pendewasaan orang percaya yang mengubah seseorang menjadi manusia yang berkenan di hadapan Tuhan adalah berkat-berkat yang tidak ternilai harganya. Kalau kesempatan berlalu karena seseorang tidak memperhatikan pembentukan Tuhan, maka bisa tidak akan ada kesempatan lagi untuk itu.

Menghitung waktu berarti menghargai setiap hari yang Tuhan berikan.