Skip to content

Menghayati Kehadiran-Nya

Sering ada pertanyaan: mengapa Tuhan seperti pelit berbicara, seakan-akan Tuhan menahan suara-Nya untuk kita dengar? Memang kenyataannya, sedikit sekali orang yang bisa mendengar suara Tuhan. Padahal, mestinya setiap saat kita membutuhkan petunjuk, bimbingan suara Tuhan. Di Alkitab, kita menemukan tokoh-tokoh iman, mereka adalah orang-orang yang selalu berdialog dengan Tuhan. Walaupun kelihatannya tidak ada kisah mengenai dialog tersebut, tetapi mereka peka terhadap apa yang Allah kehendaki untuk mereka lakukan. 

Di Alkitab, kita tidak menemukan Yusuf, anak Yakub, berdialog dengan Tuhan. Tetapi, Yusuf bisa mengartikan mimpi beberapa kali. Hal itu menunjukkan sebuah percakapan yang terus-menerus antara Yusuf dengan Allah. Inilah yang kita harus pelajari. Ini kabar baik karena kita diperkenan untuk bergaul dengan Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi. Betapa luar biasanya menjadi anak bagi Allah yang menjadi Bapa kita, dan Bapa juga berkenan berinteraksi, berdialog dengan kita. 

Satu hal yang kita harus percaya dan terima bahwa Allah itu hidup, hadir, dan nyata. Di dalam Ibrani 11:6 firman Tuhan mengatakan: “tetapi tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Allah itu ada, hidup, dan Mahahadir. Kita harus memercayai keberadaan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa kita. Seluruh indera, seluruh saraf kita harus dicengkeram oleh keyakinan terhadap keberadaan Allah.

Bagaimana kita bisa dicengkeram oleh kehadiran Allah? Maka, jiwa kita harus dicengkeram oleh kehadiran Tuhan, sehingga secara otomatis kita percaya dan menghayati mengenai keberadaan Allah. Kita harus melatihnya. Salah satunya dengan cara selalu merenungkan dan menghayati keberadaan Allah. Kita memancing jiwa dan seluruh indera kita untuk menghayati kehadiran Allah. Kita katakan, “Allah hidup, Allah Mahahadir, Allah ada, Allah nyata.” Kita perkatakan terus, sampai kita tidak perlu mengatakan lagi karena seluruh saraf kita sudah tercengkerami oleh kehadiran Tuhan. Sulit untuk tidak percaya Allah tidak ada. Kita akan sangat yakin bahwa Allah itu ada. 

Mari kita melatihnya, meskipun kedengarannya konyol, jadi seperti anak-anak. Tetapi, ini latihan yang harus kita lakukan. Allah ada, nyata, dan hadir; perkatakan terus, agar kita menghayati dan semakin yakin keberadaan-Nya. Kenyataannya, banyak orang yang tidak percaya atau setengah percaya Allah itu ada, sampai mereka tidak bisa percaya kalau Allah itu ada. Buktinya, banyak orang Kristen sembarangan dalam berperilaku, berbicara, dan bertindak. Hal ini menunjukkan bahwa mereka tidak yakin Allah ada dan hadir. Lebih nyata kalau orang tidak percaya Allah itu ada, adalah ketika berbuat sesuatu yang melanggar hukum, norma etika, dan melanggar kesucian Allah. 

Kita harus mengakui, menyadari dengan sepenuhnya bahwa kita masih melakukan hal-hal yang tidak pantas, serta tidak ada perasaan takut akan Allah. Penyebabnya karena kita tidak menghayati keberadaan atau kehadiran Allah. Refleks emosi kita sering kali tidak menunjukkan bahwa Allah itu hadir. Sedikit tersinggung, kita mengamuk dan melakukan hal yang melukai orang lain. Selain refleks emosi, juga terpancar dari refleks dalam ketersinggungan, bohong, sombong, dan sebagainya. 

Begitu ada kesempatan untuk menyombongkan diri, dengan mudah kita bersikap sombong. Dalam percakapan, begitu ada kesempatan mengangkat diri, meninggikan diri, refleks kita melakukannya. Itulah refleks-refleks dosa yang kita alami dan lakukan. Kita sudah mengalami dan melakukan hal tersebut selama bertahun-tahun. Belum lagi refleks-refleks dosa yang lainnya. Oleh sebab itu, agar kita bisa belajar mendengar suara Tuhan, karena sebenarnya Tuhan tidak pelit berbicara, pasti Ia akan berbicara kepada kita, hendaknya kita mulai dulu dari menghayati keberadaan Allah, menghayati kehadiran Tuhan di dalam hidup kita. 

Perintahkan jiwa kita untuk menghayati bahwa Allah itu hidup, hadir, dan nyata. Mari kita menaruh Tuhan di depan mata kita. Kita harus belajar memerintahkan jiwa dan seluruh saraf kita untuk mengakui bahwa Allah itu ada, hadir, dan nyata. Ucapkan kalimat itu di dalam hati. Bahkan jika perlu, kita juga bisa mengucapkannya di bibir. Tidak perlu sampai terdengar oleh orang lain, tetapi setidaknya telinga kita bisa mendengar suara kita: “Allah ada di sini, Allah Mahahadir.” Jika kita meyakini itu, dampaknya kepada hidup kita adalah kita menjadi kudus. Kita juga bisa membangun takut akan Allah secara proporsional. Kita menjadi tidak sembarangan dalam berperilaku, baik di tempat tertutup, tempat terbuka, bahkan di balik pintu sekalipun, kita takut akan Dia dan kita menjaga kesucian hidup kita. 

Agar kita bisa belajar mendengar suara Tuhan, hendaknya kita mulai dulu dari menghayati keberadaan dan kehadiran Tuhan di dalam hidup kita.