Menghayati Kehadiran Allah

Satu hal yang kita harus selalu ingat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Allah selalu mendampingi kita, menyertai kita, di dalam dan melalui Roh Kudus. Allah memimpin kita, menyertai kita dalam segala hal yang kita lakukan. Oleh sebab itu, hari ini mari kita mulai mengingatkan kepada diri kita sendiri, “Allah menyertaiku.” Di satu sisi, penyertaan Tuhan membuat kita kuat menghadapi segala keadaan, karena semua atau segala sesuatu yang terjadi di dalam kontrol Allah. Semua ada di dalam kendali Allah, tidak ada yang luput dari kendali-Nya. Jangan kita merasa Allah hanya bertakhta di tempat yang Mahatinggi, jauh dan tidak tahu menahu, tidak terkait dengan kehidupan kita saat ini. Tuhan yang berjanji di dalam Injil Matius 28:18-20 berkata, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Firman Tuhan juga mengatakan, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan Engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5).

Sederhana, tapi tidak sederhana; simpel, tapi sebenarnya kompleks. Sebab memercayai Allah yang hidup, yang nyata, yang Mahahadir, itu tidak mudah. Tetapi Allah yang hidup benar-benar akan memenuhi apa yang Dia katakan. Kita harus mulai menghayati kehadiran Allah; Allah yang hidup, Allah yang tidak meninggalkan kita. Ingatlah terus bahwa Allah beserta kita. Banyak hal yang harus kita hadapi hari ini. Tetapi ingat, kita ada di dalam penyertaan Tuhan. Segala sesuatu dalam kendali Allah. Jadi di satu aspek, keyakinan akan penyertaan Tuhan membuat kita kuat, membuat kita lebih teguh. Dia bukan Allah yang mati; Dia Allah yang hidup dan Mahahadir. Tetapi di aspek lain, mengakui dan memercayai penyertaan Allah, menuntut kita harus menjaga hidup kita dari segala sesuatu yang bisa mendukakan dan melukai hati Allah. Jadi, kita harus menghayati kehadiran-Nya, dan dengan kehadiran-Nya itu kita menjaga perasaan Allah; jangan melukai Dia. 

Dengan kita belajar menghayati kehadiran Allah dan kita berusaha untuk tidak menyakiti hati-Nya, iman kita akan bertambah. Ini benar-benar satu hal yang akan kita alami. Makin kita meyakini kehadiran-Nya, hati kita makin kuat dan teguh menghadapi segala situasi; tapi di sisi lain, kita semakin hidup suci tak bercacat, tak bercela. Jika ini berjalan beriringan terus, kita akan mengerti apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita untuk kita lakukan. Namun, mengapa orang tidak peduli dengan apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan? Mengapa banyak orang tidak mau tahu apa yang Allah kehendaki untuk dia lakukan? Jawabnya adalah karena mereka tidak menghayati kehadiran Allah. Satu sisi, pasti mereka tidak hidup dalam kesucian Allah. Dan di sisi yang lain, pasti mereka sering ditekan oleh berbagai rasa khawatir. Maka, mari kita perintahkan syaraf-syaraf kita, kita perintahkan diri kita untuk meyakini dan menghayati bahwa Allah hidup, Allah hadir, Allah nyata. 

Supaya di satu sisi kita menjadi kuat menghadapi segala keadaan, dan di sisi yang lain kita menjadi orang yang hidup di dalam kesucian dan kekudusan Allah; hidup tak bercacat dan tak bercela. Akhirnya kita akan berusaha untuk mengerti apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dan rencana Allah untuk kita genapi dalam hidup ini. Semua ini akan mengantar kita di hadapan Allah nanti menjadi anak-anak yang berkenan kepada-Nya. Allah bukanlah satu Sosok yang cukup dipercakapkan, cukup diyakini, melainkan Allah adalah Sosok yang harus kita rasakan, benar-benar kita alami.

Maka, kita harus menghidupi Allah yang hidup, Allah yang hadir dalam hidup manusia, Allah yang sudah eksis dari kekal sampai kekal dan hadir dalam tokoh-tokoh iman yang dikisahkan di Alkitab. Allah yang juga kita alami, kita hidupi di dunia kita sekarang dalam persoalan kita. Dia tidak hanya Allah yang membelah Kolsom 3500 tahun yang lalu, Dia bukan hanya Allah yang mengurapi Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus, yang mengubah air menjadi anggur, yang membangkitkan orang mati, yang menyembuhkan orang sakit 2000 tahun yang lalu, Dia juga Allah kita hari ini. Jadi, Allah yang dikisahkan di Alkitab adalah Allah yang hari ini kita alami. Kehadiran-Nya, kuasa-Nya, mukjizat-Nya, berkat-Nya yang membuat kita takut akan Dia dan menghormati-Nya, yang membuat kita tidak sembarangan mengucapkan kata-kata, menulis kalimat di medsos atau di gadget kita. Mari kita mulai belajar hari ini menghayati kehadiran Allah. 

Semakin kita menghayati kehadiran-Nya, hati kita semakin kuat dan teguh Menghadapi segala situasi. Dan di sisi lain, kita semakin hidup suci.