Mengalami Transisi

Saudaraku sekalian yang kekasih,

Kita harus bertumbuh terus di dalam kedewasaan rohani yang benar supaya kita bisa mengalami perubahan. Mengalami transisi dari asumsi interpretasi atau tafsiran kepada kenyataan atau realitas mengenai Allah dan kebenaran-Nya. Banyak orang merasa bahwa asumsi yang dia miliki mengenai Allah, interpretasi atau penafsiran mengenai Allah yang dia miliki itu sudah merupakan realitas yang dia peroleh. Itu salah, itu picik. Dan biasanya itu terjadi dalam kehidupan para pembelajar Alkitab atau orang-orang yang belajar teologi. Tidak bermaksud mau menghina atau mencemooh atau merendahkan atau menciderai para teolog; saya juga bagian dari itu. Tetapi, kita jangan berpuas diri sampai pada asumsi, pada interpretasi atau penafsiran. Tetapi kita harus benar-benar masuk ke dalam pengalaman riil. 

Jangan kita hanya memiliki asumsi mengenai Allah, yaitu pendapat mengenai Dia, pengetahuan mengenai Dia, yang tentu dibangun dari penafsiran atau interpretasi. Tetapi kita harus mengalami langsung. Di sini sebenarnya dibutuhkan kehausan. Kehausan yang murni, kehausan yang tulus akan Allah. Kehausan akan Allah yang murni dan tulus tidak akan pernah ada dalam hidup kita sampai benar-benar kita bersedia meninggalkan segala dosa kesalahan; sekecil apa pun dosa itu. Dan kita bersedia meninggalkan percintaan dunia juga; sekecil apa pun percintaan dunia itu. Walaupun dalam praktik kita akan dididik, dilatih, diajar Bapa. Tetapi kesediaan dulu harus kita miliki. Nanti tahap demi tahap kita akan bisa benar-benar mengerti apa artinya hidup suci, hidup bersih, hidup tidak bercela, hidup dalam ketulusan. 

Kalau kita membaca Alkitab, tokoh-tokoh Alkitab tidak memiliki penafsiran tentang Allah. Tidak memiliki asumsi karena memang tidak ada buku atau pembelajaran. Atau paling tidak sangat besar atau bisa dipastikan tidak ada interpretasi tentang Allah, tetapi mereka langsung berhadapan dengan Allah. Mereka langsung mengalami Allah. Ini yang harus juga kita alami. Tidak sedikit orang yang merasa dengan asumsi tersebut dia sudah merasa mengenal Allah, sudah merasa menjadi manusia yang rohani, sudah merasa berkenan di hadapan Allah; dan biasanya orang-orang seperti itu memancarkan arogansi. Orang bilang sombong rohani, kalau saya lebih suka menggunakan arogansi akademis, arogansi pengetahuan teologi.

Kita harus mengalami transisi, dari asumsi kepada realitas Allah yang benar-benar kita alami. Dan untuk itu kita harus bersedia untuk hidup benar-benar suci tak bercacat tak bercela. Walaupun tentu lewat proses juga tidak bisa dalam satu hari, tidak cukup satu bulan bahkan tidak cukup satu tahun tetapi bertahun-tahun dalam proses yang panjang. Kita harus bersedia benar-benar meninggalkan dunia ini, karena Allah itu berharga dan mulia. Kalau kita mau memiliki Allah dan dimiliki Allah, maka kita harus tidak memiliki apa pun kecuali Dia; hanya Allah yang memiliki kita dan hanya Allah yang kita miliki.

Kalau kita merasa masih memiliki sesuatu, kita tidak bisa memiliki Allah karena kita tidak bisa menduakan Allah. Kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kalau kita masih melakukan dosa-dosa atau terikat dengan percintaan dunia berarti Allah juga tidak bisa memiliki kita karena kita dimiliki yang lain. Mungkin hanya 5-10% bisa terjadi, tetapi Allah berkata, “seluruhnya atau tidak usah sama sekali.” Dengan tekad yang bulat untuk hidup tidak bercela, dengan tekad yang bulat meninggalkan dunia dengan segala keindahannya, baru kita bisa mengalami transisi dari asumsi kepada realitas tersebut. Dan orang yang mengalami realitas Allah itu luar biasa, hidupnya pasti berubah.

Yang pertama, dia pasti akan mendapatkan impartasi atau penularan karakter dari Allah Bapa. Jadi pernyataan Tuhan Yesus “kamu harus sempurna seperti Bapa di surga” benar-benar bisa terwujud, benar-benar bisa terealisir di dalam hidup kita. Baru bisa, itu tahap demi tahap kita bisa merasakannya. Pergaulan dengan Allah tersebut makin menguduskan kita, karena kita makin takut berbuat salah. Coba saja kalau berani berbuat salah, jiwa kita akan tergoncang, jiwa kita akan terganggu, sakit sekali, tidak bahagia, kehilangan damai, seperti duduk di atas bara api.  Makanya segera kita membereskannya di hadapan Tuhan dan tidak mengulangi dosa yang sama lagi. 

Kedua, kita akan melihat kemuliaan Allah atau merasakan kemuliaan Allah sehingga keindahan dunia semakin pudar. Ini tidak bisa sebenarnya diajarkan dengan kata-kata atau kalimat, sulit mengajarkannya dengan kata-kata dan kalimat. Orang harus mengalami sendiri. Makin kita melihat kemuliaan Tuhan di dalam roh kita, di dalam batin kita, semakin kita merasakan dunia bukan rumah kita. Kita semakin merindukan untuk pulang ke rumah kita sendiri. 

Ketiga, Allah juga akan memercayakan beban perasaan-Nya kepada kita, jiwa-jiwa yang harus diselamatkan karena Allah tidak menghendaki seorang pun binasa. Di situ kita akan merasakan beban kita untuk jiwa-jiwa. Kita melayani bukan hanya sekadar aktivitas, tetapi punya air mata dan dukacita yang mendalam untuk penderitaan orang dan keselamatan jiwa orang. Kita akan rela kehilangan apa pun demi pekerjaan Tuhan. Dan suatu hari akan telanjang, semua manusia telanjang, apakah kita benar-benar sudah mengabdi atau tidak. Dan semakin kita berbuat yang terbaik bagi Tuhan, semakin kita merindukan untuk segera pulang ke surga. 

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Kita harus bertumbuh terus di dalam kedewasaan rohani yang benar supaya kita bisa mengalami transisi dari asumsi interpretasi atau tafsiran kepada kenyataan mengenai Allah dan kebenaran-Nya.