Menentukan Nasib Kekalnya Sendiri

Hendaknya kita tidak berpikir bahwa setelah di balik kubur atau setelah orang meninggal, masih ada kesempatan untuk diampuni atau diubah nasibnya. Ketika seseorang jantungnya berhenti berdetak, itulah akhir dari segala-galanya. Artinya, tidak ada kesempatan untuk bertobat, diperbaharui, dan berekonsiliasi dengan Allah. Tidak ada manusia sehebat apa pun di bumi ini yang dapat mengubah nasib kekal seseorang setelah orang itu meninggal dunia. Tidak ada ritual atau seremonial apa pun yang bisa mengubah nasib kekal seseorang setelah orang itu meninggal dunia. Tidak ada amal kebajikan sehebat apa pun yang dapat mengubah nasib kekal seseorang yang sudah meninggal dunia. Itulah sebabnya, firman Tuhan mengatakan agar umat mencari Allah selagi ada kesempatan atau selagi Allah dapat ditemui. Allah memang panjang sabar, tetapi hanya “panjang,” bukan “tidak terbatas.” Ketika seseorang meninggal, itulah batas kesabaran Allah, yaitu kalau seseorang tidak bertobat, maka kekallah dosanya dan pasti binasa. Terkait dengan hal ini, kita bisa menghayati betapa berharganya waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk membenahi diri guna mempersiapkan kehidupan kekal.

Orang percaya harus menolak semua ajaran yang berindikasi seakan-akan boleh ada upaya untuk mengubah nasib kekal orang-orang yang sudah meninggal dengan doa, ritual, dan berbagai seremonial. Pengajaran yang memperkenalkan praktik seperti itu membuat orang percaya tidak bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan nasib kekalnya di balik kubur karena masih memiliki harapan bahwa orang-orang yang masih hidup pada waktu dirinya meninggal dapat mengubah nasibnya. Inilah yang membuat banyak orang tidak memiliki perasaan krisis terhadap kekekalan dan pertanggungjawaban di hadapan takhta pengadilan Allah. Hamba Tuhan yang benar tidak akan mendoakan orang yang sudah meninggal agar diterima di sisi Tuhan pada waktu memimpin acara pemakaman atau kebaktian penghiburan orang meninggal.

Ada dua hal yang sangat prinsip dalam kehidupan menyangkut nasib kekal seseorang. Pertama, setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Tidak ada manusia yang bisa menentukan nasib sesamanya. Sejak hidup di bumi, memang kita bisa memengaruhi atau bisa memberi dampak nasib kekal seseorang. Tetapi kalau seseorang sudah meninggal dunia, maka nasib kekal orang itu ditentukan oleh apa yang telah dilakukannya selama ia hidup di bumi (2Kor. 5:9-10). Kedua, setelah seseorang meninggal dunia merupakan keadaan permanen yang tidak bisa diubah oleh siapa pun, bahkan Allah sendiri tidak akan dapat mengubah nasib kekal orang tersebut. Sebab, setelah seseorang meninggal dunia, ia harus menanggung segala sesuatu akibat perbuatannya selama ia hidup di bumi. Tidak ada manusia yang masih hidup dengan cara apa pun dapat mengubah nasib kekal orang yang sudah meninggal. Terkait dengan hal ini, kita bisa menghayati betapa berharganya waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk membenahi diri guna mempersiapkan kehidupan kekal.

Realitas nasib kekal seseorang seperti yang dijelaskan di atas, mestinya menggetarkan jiwa kita dan membuat kita untuk segera bebenah diri agar kita bisa memetakan nasib kekal kita sejak sekarang. Kita harus bangkit dari ketertiduran kita atau ketidaksadaran kita terhubung dengan segala kenikmatan hidup yang diberikan dunia kepada kita. Kuasa gelap berusaha agar orang-orang Kristen terlena dengan keindahan dunia dan segala hiburannya, sehingga tidak mempersiapkan diri menghadapi kekekalan yang dahsyat. Kenyataan yang dapat kita saksikan hari ini, betapa berhasilnya Iblis mengecoh manusia sehingga mereka benar-benar terlena dan tersandera oleh kuasa gelap, serta tergiring ke dalam kegelapan abadi. Terkait dengan hal ini, kita bisa menghayati betapa berharganya waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk membenahi diri guna mempersiapkan kehidupan kekal.

Banyak orang Kristen yang tidak menyadari hal ini, bahkan tidak sedikit para rohaniwan atau pendeta juga tidak mengingatkan jemaat mengenai hal yang sangat krusial ini. Kegiatan pelayanan sering kali hanya menyentuh masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, seperti mukjizat, pelepasan kutuk kemiskinan, dan berbagai penyelesaian masalah dunia fana, tetapi tidak memperkarakan nasib kekal di belakang kubur. Sehingga, tidak sedikit khotbah yang disampaikan di mimbar-mimbar gereja yang kualitasnya tidak jauh berbeda dengan para motivator dunia atau motivator sekuler. Mestinya yang membedakan pemberita kebenaran dengan para motivator adalah pemberita kebenaran menekankan pemberitaannya pada kesucian hidup seperti Tuhan dan fokus langit baru dan bumi baru. Sehingga, jemaat mendapat pesan kuat tentang kesementaraan hidup, dan betapa tidak berartinya segala keindahan dunia ini. Dengan demikian, jemaat dapat mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Jemaat dapat memfokuskan diri pada perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi, karena memang orang percaya bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:16).