Menemukan Kebahagiaan

Roma 11:36 mengatakan, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Allah menciptakan segala sesuatu tentu untuk diri-Nya, bukan untuk siapa-siapa. Dan manusia yang diciptakan—jika hidup sesuai dengan maksud manusia diciptakan yaitu hidup bagi Allah—maka manusia akan menemukan kebahagiaannya. Jadi, manusia dapat menemukan kebahagiaannya, kalau ia hidup sesuai dengan maksud tujuan dirinya diciptakan oleh Allah. Tetapi manusia telah memberontak, seperti yang dilakukan setan. Manusia telah berkeberadaan meleset (Yun. hamartia), itu yang dikatakan di dalam Roma 3:23, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dan tentu dengan kemelesetan ini manusia kehilangan kemuliaan Allah. Yang dimiliki hanyalah kemuliaan manusia, yang relatif dan bisa berubah-rubah; tidak konsisten. 

Keselamatan dalam Yesus Kristus hendak mengembalikan kita kepada keberadaan sebagai manusia, sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia itu. Dan tentu saja seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa, manusia menjadi kesukaan hati Allah. Allah menciptakan malaikat-malaikat, tetapi berbeda dengan makhluk manusia yang diberi kehendak bebas dan diberi mandat menjadi mandataris Allah untuk mengelola bumi, juga alam semesta yang tidak terbatas ini. Manusia adalah makhluk yang penting dan juga dirancang untuk menerima otoritas (Ingg. Someone; a person of importance or authority). Jadi, di mata Allah, manusia adalah seseorang yang penting dan memiliki otoritas. Dan jika manusia tidak memberontak kepada Allah dan memenuhi apa yang Allah kehendaki, manusia menjadi kesukaan Allah. Dan tidak berlebihan kalau dikatakan manusia menjadi kesukaan Allah lebih dari apa pun yang Allah miliki dan Allah ciptakan. 

Tetapi manusia telah memberontak. Rencana Allah gagal untuk sementara, atau tertunda. Manusia yang mestinya menjadi kesukaan hati Allah, sebaliknya, manusia mencari kesukaannya sendiri. Di dalam Kejadian 6, tertulis: “ada seorang yang bernama Nuh.” Nuh seorang yang Alkitab katakan sebagai seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya. Dan Nuh hidup bergaul dengan Allah. Arti nama Nuh adalah orang yang menjadi atau memberi penghiburan. Terbukti dari yang tercatat dalam Kejadian 6:5-8, “ketika dilihat TUHAN bahwa kejahatan manusia besar di bumi, dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa TUHAN telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Berfirmanlah TUHAN: “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik manusia maupun hewan dan binatang-binatang melata dan burung-burung di udara, sebab Aku menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.” Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.”

Di tengah-tengah manusia yang rusak dan bejat, ada sosok manusia yang menjadi kesukaan dan penghiburan hati Allah. Setelah itu, hampir tidak ditemukan manusia seperti itu. Sampai di Injil Matius 3:17, Ketika Allah menyatakan satu sosok pula yang menjadi kesukaan-Nya: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Tentu Yesus, yang di dalam Ibrani 2:17, “dalam segala hal disamakan dengan manusia,” Meskipun memiliki peluang untuk berbuat salah, tetapi Yesus memilih taat.  Bahkan di puncak penderitaan-Nya, ketika Ia nyaris meninggalkan tanggung jawab dengan mengatakan, “Jikalau boleh cawan ini lalu daripada-Ku.” Bahkan ketika Ia ada di salib di dalam penderitaan yang hebat, saat Allah Bapa meninggalkan diri-Nya, dan Dia berseru—bukan bersandiwara—”Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau tinggalkan Aku; eloi eloi lama sabachthani.” Ia tetap mengakhiri dengan satu komitmen: “Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu.” Ia tetap memercayai Allah-Nya. Yesus menjadi kesukaan dan penghiburan hati Bapa di surga. 

Alkitab mencatat bahwa Ia telah berhasil menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula; berkenan. Yang karena kesalehan-Nya, Ia dibangkitkan. Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan karena Dia telah berhasil, Ia bisa menjadi pokok keselamatan, artinya Dia menjadi komposer; penggubah. Sekaligus menjadi teladan bagi manusia lain supaya juga mengikuti jejak-Nya. Pertanyaannya, siapakah manusia lain yang mengikuti jejak-Nya? Tentu orang-orang yang sungguh-sungguh mau berjuang untuk serupa dengan Dia. Pertanyaan penting yang harus kita kemukakan kepada diri kita sendiri dan benar-benar kita persoalkan adalah: ‘Apakah saya makin hari makin serupa dengan Yesus?’ Dimana kita sepikiran dan seperasaan dengan Allah, dan segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, sehingga di tengah-tengah dunia yang gelap dan jahat ini, kita menjadi kesukaan hati Allah dan bisa menjadi penghiburan-Nya. 

Manusia dapat menemukan kebahagiaannya kalau ia hidup sesuai dengan maksud tujuan dirinya diciptakan oleh Allah.