Skip to content

Menabur Ala Kadarnya

Pada umumnya, semua orang sudah tahu bahwa apa yang ditabur, itu juga yang akan dituainya. Secara eksplisit, kita tahu bahwa orang akan memperoleh hasil dari segala perbuatannya, baik itu perbuatan baik atau perbuatan jahat. Secara implisit, hukum tabur tuai juga mengisyaratkan bahwa sebanyak apa yang telah kita tabur, sebanyak itu pula yang kita akan tuai. Juga terkait dengan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus di Kerajaan Bapa di surga nanti. Sesuai firman Tuhan di dalam Roma 8:17, bahwa kita yang menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus, akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Di dalam banyak bagian di dalam Alkitab, tercatat ada upah yang akan diterima oleh orang percaya. Ini tentu ada yang besar, ada yang tidak. Karena Tuhan mengatakan, “Upahmu besar;” berarti ada yang besar. Kemuliaan bersama dengan Tuhan tentu tidak ternilai. Sangat mahal, sangat mulia, sangat agung. Nilainya tidak dapat dipadankan dengan apa pun yang ada di bumi ini. Jangankan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Kita tidak binasa saja, sudah lebih nilainya dari seluruh harta di dunia ini; “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?”

Jadi, keselamatan yang sejati itu tidak ternilai. Apalagi kalau kita dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Pertanyaannya adalah apakah kita pantas? Apakah kita layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus? Seberapa besar kita telah menabur sehingga kita layak memperoleh yang tidak ternilai tersebut? Kesalahan yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun adalah kita merasa bahwa kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus atau upah besar di surga bisa kita raih dengan taburan “ala kadarnya.” Secara eksplisit, jelas bahwa kita akan memperoleh seimbang dengan apa yang telah kita tabur; pasti sepadan. Tetapi banyak orang Kristen menabur ala kadarnya, asal-asalan, dan ia tidak pernah memikirkan hasil dari tuaiannya nanti. Tidak heran kalau orang menunda untuk mempertaruhkan hidupnya sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya, tanpa batas untuk Tuhan. Menunda. Bahkan yang lebih mengerikan, yaitu menunda bertobat dan hidup suci.

Kita harus berpikir bahwa sebenarnya kita belum maksimal berbuat sesuatu untuk Tuhan. Mestinya kita mempersoalkan yang bisa kita lakukan, lebih dari yang sekarang sudah kita lakukan. Kecuali memang kita tidak pernah mempertimbangkan perasaan Allah, dan tidak pernah memperkarakan apa yang kita tuai nanti. Tapi kalau kita mempersoalkan, mempertimbangkan perasaan Allah hari ini, dan benar-benar memperkarakan apa yang akan kita tuai nanti, maka kita akan bersedia untuk mengoreksi diri untuk bertanya, “di bagian mana dalam hidupku yang belum kupersembahkan? Apalagi yang dapat aku buat untuk Tuhan?” Mestinya begitu. Kita tidak boleh mempertahankan apa yang kita miliki. Sebagaimana jika kita mengasihi seseorang, kita akan bertanya, “Apa yang kamu ingin kulakukan supaya kamu bahagia?” Mengapa kita tidak mempertanyakan itu kepada Tuhan? Padahal, kita mengaku benar-benar percaya bahwa Allah itu ada, hidup, dan berperasaan. Kecuali kita menganggap Allah itu tidak nyata, tidak hidup, tidak berperasaan, tidak memiliki rencana dan kehendak, seperti patung. Sejatinya, Allah tidak demikian. Percayalah, suatu hari banyak orang akan menyesal ketika ada di hadapan Allah, ternyata dia tidak buat apa-apa. Dan lebih mengerikan kalau yang dilakukan itu melukai hati Tuhan, menyakiti hati Allah.

Mari kita serius mempersoalkan ini, karena Allah itu Allah yang hidup. Selain kita selalu mengoreksi diri, “Apakah masih ada yang salah yang kulakukan di hadapan Allahku?” Lalu yang berikut, “Apakah masih ada yang harus kulakukan untuk lebih menyenangkan hati Bapa?” Maka, kita akan menghidupkan Allah dalam hidup kita. Kita akan lebih mengalami Allah yang nyata, Allah yang hidup. Kadar orang mengalami Tuhan itu beda-beda. Jangan terintimidasi oleh siapapun. Yang penting adalah penilaian Tuhan terhadap kita. Mari, selagi kita masih memiliki kesempatan untuk itu, karena pasti suatu hari nanti, kesempatan ini akan hilang atau tidak ada lagi, dan betapa mengerikan keadaan itu. Ketika kita menutup mata, kita kehilangan kesempatan untuk membereskan diri guna memiliki hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela. Betapa menyesalnya kita, kalau kita ternyata mestinya memiliki banyak kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan, tetapi tidak melakukannya.

Banyak orang Kristen menabur “ala kadarnya” dan mereka tidak pernah memikirkan hasil dari tuaiannya nanti, maka tidak heran kalau mereka menunda untuk mempertaruhkan hidupnya sebesar-besarnya, tanpa batas untuk Tuhan.