Memeriksa Diri dengan Sungguh-Sungguh

Salah satu kiat yang dapat kita lakukan untuk serius mempersiapkan diri menghadapi kekekalan adalah dengan membayangkan seakan-akan hari ini adalah hari terakhir kita. Kita bisa membayangkan jantung kita berhenti berdetak, nafas tidak mengembang di paru-paru kita, kemudian kita dimasukkan ke dalam peti, dibawa ke kuburan, dan dikubur. Kemudian, roh kita melayang menuju lorong panjang yang di ujungnya kita dibawa ke hadapan pengadilan Tuhan. Betapa dahsyatnya suasana itu. Kalau kita tidak sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi realitas ini, kita akan gemetar dengan ketakutan yang tak terbayangkan. Satu-satunya upaya agar kita siap menghadapi takhta pengadilan Kristus adalah dengan upaya sungguh-sungguh hidup di dalam kehendak Allah dengan sempurna.

Kita harus menyediakan waktu di hadapan Allah dan memeriksa diri, seakan-akan kita sudah ada di hadapan takhta pengadilan Kristus. Kita harus berusaha untuk memeriksa diri, kira-kira apakah masih ada hal-hal yang tidak patut di dalam hidup kita di mata Allah. Ketika kita memeriksa diri dengan sungguh-sungguh, Roh Kudus pasti berbicara kepada kita dan menunjukkan hal-hal yang tidak patut di hadapan Allah dalam hidup kita. Hal ini dimaksudkan agar kita berbalik, mengakui dosa kita dan berkomitmen untuk tidak hidup lagi di dalam kesalahan yang kita lakukan. Komitmen harus terus dibaharui setiap hari, dan Roh Kudus pasti menuntun kita kepada seluruh kebenaran agar kita bisa sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus.

Ketika kita ada di hadapan Allah dan membuka mata pengertian kita terhadap keadaan kita di hadapan Allah, timbullah penyesalan dan duka yang mendalam atas keadaan kita yang belum memuaskan hati Allah. Kita lebih menyadari keadaan kita yang masih terjerat dalam keinginan-keinginan daging, perasaan mudah tersinggung, rasa dikhianati, kekecewaan yang bisa melahirkan kepahitan, dan berbagai belenggu dosa lain yang ternyata masih bergelayut dalam hidup kita. Kita akan merasa berutang karena kita masih belum hidup dalam pimpinan Roh, artinya belum hidup dalam kesucian yang Allah kehendaki. Hal ini akan menuntut dan mengejar kita agar kita mengubah diri, guna dapat melakukan kehendak Allah atau hidup dalam perkenanan Allah sehingga kita benar-benar dapat menyenangkan hati-Nya.

Banyak orang Kristen yang mengaku sebagai orang percaya, tetapi tidak memiliki perasaan berutang kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang sebenarnya tidak pernah bertemu dengan Allah. Mereka hanya beragama Kristen tanpa perjumpaan pribadi dengan Allah, di dalamnya termasuk para aktivis gereja, bahkan pendeta yang hanya cakap berteologi tetapi tidak memiliki perjumpaan secara nyata atau riil dengan Allah. Orang-orang yang tidak merasa berutang untuk hidup menurut Roh atau hidup dalam kesucian standar Allah, akan merasa berutang kepada dunia, yaitu bagaimana memiliki berbagai fasilitas yang juga dimiliki oleh orang lain. Tentu saja mereka berpikir bahwa fasilitas dunia itulah yang dapat membahagiakan hidupnya. Kalau kehidupan seperti ini tidak segera dihentikan, sampai mati orang itu tidak pernah merasa berutang kepada Allah. Mereka selalu merasa berutang kepada dunia untuk menikmati dunia, seperti anak-anak dunia lain yang bukan umat pilihan.

Kita harus selalu mempertimbangkan, jika suatu hari nanti kita ada di hadapan takhta pengadilan Kristus, apakah tangan kita sudah bersih dari percintaan dunia dan dari dosa. Idealnya, kita harus selalu memeriksa diri dan selalu menguduskan diri bagi Allah. Kita harus selalu berjuang untuk berkeadaan tidak terbelenggu dengan dunia, tetapi terbelenggu oleh Allah. Kita harus selalu berjuang pula untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Dengan segala kemampuan yang ada pada kita, kita berjuang dengan segenap hati. Orang percaya seperti ini pasti menarik perhatian Allah. Secara istimewa, Allah akan memperlakukan orang-orang seperti ini sebagai anak-anak-Nya yang kekasih. 

Tentu Allah mengasihi semua manusia, tetapi terhadap orang-orang yang tidak membalas kasih-Nya—yang sebaliknya malah membalas dengan kejahatan dan pemberontakan terhadap Allah—maka Allah tidak tetap tinggal dalam hidup orang-orang seperti itu. Namun, atas orang-orang yang yang mengasihi Allah dan bersedia hidup suci dan dipisahkan dari dunia ini, Allah memberi kasih karunia-Nya karena mereka dipandang Allah sebagai orang-orang yang rendah hati. Orang-orang yang tidak mencari Allah adalah orang-orang yang sombong dan Allah menentang orang sombong, tetapi mengaruniai anugerah kepada orang yang rendah hati. Kita harus menyadari bahwa kita telah hidup di dalam kesombongan, maka kita harus bertobat sedini mungkin dan berubah. Tetapi kalau tidak bertobat dan berubah, sampai selamanya tidak pernah bersikap rendah hati di hadapan Allah. Itu berarti terbuang di dalam api kekal.